Amalan Muharram yang Sering Terlewat, Pahalanya Besar
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi warga menuju masjid pada malam 1 Muharram untuk mengikuti pengajian.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Menjelang datangnya Muharram, suasana di sejumlah kampung di Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis mulai berubah. Selepas Magrib, suara anak-anak terdengar lebih ramai di sekitar masjid. Sebagian membawa bambu yang akan dijadikan obor, sementara yang lain sibuk mencoba menyalakan sumbu dari kain bekas yang telah dicelup minyak tanah.
Di teras masjid, beberapa orang tua duduk melingkar sambil menyeruput kopi hangat. Mereka membahas persiapan pengajian Tahun Baru Islam, santunan yatim, hingga jadwal pawai obor keliling kampung. Tidak ada kemewahan. Namun suasana kebersamaan itu selalu menghadirkan kesan yang sulit dijelaskan.
Di tengah tradisi yang terus hidup tersebut, banyak Muslim justru masih bertanya tentang amalan Muharram yang paling utama. Padahal bulan yang disebut Rasulullah SAW sebagai “Bulan Allah” ini menyimpan peluang besar untuk memperbaiki diri dan memperbanyak pahala.
Muharram Adalah Bulan yang Dimuliakan Allah
Sebelum membahas amalan terbaik, penting untuk memahami kedudukan Muharram dalam Islam.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)
Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Selain itu, Rasulullah SAW memberikan julukan khusus kepada Muharram.
Beliau bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim)
Penyebutan “bulan Allah” menunjukkan betapa istimewanya Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam memperbanyak ibadah ketika Muharram tiba.
Puasa Muharram, Amalan yang Paling Dianjurkan
Jika ada satu amalan yang paling menonjol pada bulan Muharram, maka jawabannya adalah puasa sunnah.
Rasulullah SAW secara langsung menyebut puasa Muharram sebagai puasa terbaik setelah Ramadan.
Di antara puasa yang paling dianjurkan adalah Puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram dan Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Tentang Puasa Asyura, Rasulullah SAW bersabda:
“Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Bayangkan.
Satu hari puasa sunnah.
Namun Allah menjanjikan penghapusan dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya.
Karena itu, banyak ulama menyebut Asyura sebagai salah satu peluang pahala terbesar yang sering terlewatkan.
Memperbanyak Sedekah dan Membantu Sesama
Muharram juga menjadi momentum yang tepat untuk memperbanyak sedekah.
Memang tidak ada hadis sahih yang secara khusus menetapkan sedekah Muharram lebih utama dibanding bulan lain. Namun karena Muharram termasuk bulan mulia, setiap amal saleh yang dilakukan di dalamnya memiliki nilai yang sangat besar.
Di banyak kampung, tradisi santunan yatim masih hidup hingga sekarang.
Menjelang malam 1 Muharram, warga berkumpul di masjid atau madrasah. Anak-anak yatim duduk berjejer menerima bingkisan sederhana. Nilainya mungkin tidak besar. Akan tetapi, kebersamaan seperti itu sering menghadirkan kebahagiaan yang sulit diukur dengan angka.
Rasulullah SAW bersabda:
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini.” (HR. Bukhari)
Lalu beliau mengisyaratkan dua jari yang saling berdekatan.
Muharram Adalah Waktu Terbaik untuk Muhasabah
Banyak orang menyambut Tahun Baru Islam dengan ucapan dan perayaan. Namun Muharram sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih penting: evaluasi diri.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat tersebut mengajarkan pentingnya muhasabah atau introspeksi.
Karena itu, Muharram menjadi waktu yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri:
- Apakah salat saya sudah lebih baik?
- Apakah hubungan saya dengan orang tua sudah membaik?
- Dan apakah saya masih menyimpan dendam kepada orang lain?
- Serta apakah saya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sering menjadi awal perubahan besar dalam hidup seseorang.
Memperbanyak Dzikir dan Membaca Al-Qur’an
Selain puasa dan sedekah, Muharram juga menjadi waktu yang sangat baik untuk memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Sementara itu, Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Tidak semua orang mampu berpuasa setiap hari.
Tidak semua orang memiliki banyak harta untuk bersedekah.
Namun hampir setiap Muslim memiliki kesempatan untuk berdzikir, berdoa, dan membaca beberapa halaman Al-Qur’an setiap hari.
Karena itu, jangan remehkan amalan yang terlihat kecil.
Bisa jadi amalan sederhana itulah yang paling dicintai Allah.
Jangan Biarkan Muharram Berlalu Begitu Saja
Muharram datang setiap tahun.
Namun tidak semua orang memanfaatkannya.
Sebagian hanya melihat pergantian kalender.
Sebagian sibuk membuat resolusi yang akhirnya terlupakan.
Sementara itu, sebagian lainnya menjadikan Muharram sebagai titik awal perubahan hidup.
Pada akhirnya, amalan terbaik di bulan Muharram bukan hanya yang paling banyak dilakukan. Amalan terbaik adalah amalan yang mampu mendekatkan hati kepada Allah dan terus istiqamah setelah Muharram berakhir.
Muharram bukan sekadar halaman pertama dalam kalender Hijriah. Muharram adalah kesempatan baru yang Allah berikan. Jika Ramadan mengajarkan cara kembali kepada Allah, maka Muharram mengajarkan cara tetap bertahan di jalan-Nya setelah Ramadan berlalu. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar