Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Jangan Terkecoh Amal Sendiri, Ini Peringatan Keras Ibnu Athaillah

Jangan Terkecoh Amal Sendiri, Ini Peringatan Keras Ibnu Athaillah

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
  • visibility 207
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Suatu malam selepas salat Isya, seorang jamaah tua duduk cukup lama di teras masjid. Lampu neon di sudut serambi memantulkan cahaya pucat ke lantai keramik yang mulai kusam. Di tangannya ada tasbih kecil yang terus berputar. Namun wajahnya tampak gelisah.

Bukan karena ia jarang beribadah.

Justru sebaliknya.

Ia merasa sedih karena baru saja melakukan kesalahan yang menurutnya sangat besar. Dalam pikirannya muncul satu pertanyaan: apakah semua amal yang selama ini ia kerjakan menjadi sia-sia?

Kegelisahan semacam ini ternyata tidak hanya dialami satu orang. Banyak muslim pernah merasakannya. Mereka rajin beribadah, berusaha menjaga diri dari maksiat, bahkan aktif dalam kegiatan keagamaan. Namun ketika terjatuh pada satu kesalahan, harapan mereka kepada Allah tiba-tiba mengecil.

Dalam dunia tasawuf, keadaan ini memiliki penjelasan yang sangat mendalam.

Ibnu Athaillah As-Sakandari mengingatkan:

مِنْ عَلَامَاتِ الِاعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ

“Di antara tanda bersandar pada amal adalah berkurangnya harapan ketika terjadi kesalahan atau dosa.”

Hikmah ini sederhana. Namun semakin direnungkan, semakin terasa tajam.

Ketika Amal Menjadi Tempat Bergantung

Banyak orang mengira masalah terbesar dalam agama adalah kurang beramal. Padahal ada masalah lain yang lebih halus.

Yaitu terlalu percaya pada amal sendiri.

Di sejumlah grup WhatsApp keluarga, misalnya, tidak jarang muncul pesan motivasi yang menekankan pentingnya kerja keras, disiplin, dan konsistensi ibadah. Pesan-pesan itu tentu baik. Namun kadang tanpa disadari muncul keyakinan bahwa keberhasilan hidup sepenuhnya bergantung pada kemampuan diri.

Ketika usaha berhasil, seseorang merasa bangga.

Ketika ibadah meningkat, ia merasa aman.

Namun saat gagal atau tergelincir dalam dosa, ia langsung kehilangan harapan.

Di situlah letak persoalannya.

Harapan yang naik turun mengikuti kondisi amal sering menjadi tanda bahwa hati lebih bergantung pada amal daripada kepada Allah.

Makna Tauhid yang Sering Terlupakan

Kalimat tauhid:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

bukan hanya pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Kalimat ini juga mengajarkan bahwa tidak ada tempat bergantung secara mutlak selain Allah.

Tidak ada tempat berharap.

Tidak ada tempat berlindung.

Dan tidak ada tempat bersandar.

Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa seorang hamba harus tetap beramal dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak boleh menjadikan amal sebagai sumber keselamatan.

Keselamatan datang dari rahmat Allah.

Amal hanyalah sebab.

Rahmat Allah adalah penentu.

Inilah yang sering luput dari perhatian manusia modern yang terbiasa mengukur segala sesuatu dengan angka, target, dan pencapaian.

Iblis dan Qarun: Ketika Diri Sendiri Menjadi Berhala

Al-Qur’an memberikan dua contoh yang menarik.

Ketika Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, ia berkata:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ

“Aku lebih baik daripadanya.”

Kalimat itu terdengar singkat.

Namun dari situlah kesombongan bermula.

Iblis melihat dirinya sendiri. Ia melihat kelebihan yang dimilikinya. Pada saat yang sama, ia gagal melihat kebesaran Allah.

Hal serupa terjadi pada Qarun.

Saat ditanya tentang kekayaannya, ia menjawab:

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku memperoleh harta ini karena ilmuku sendiri.” (QS Al-Qashash: 78)

Pernyataan Qarun masih sering terulang dalam bentuk yang berbeda pada zaman sekarang.

Ada yang berkata, “Saya sukses karena kerja keras saya.”

Ada yang berkata, “Semua ini hasil kemampuan saya.”

Mungkin kalimatnya berbeda. Namun ruhnya sama.

Lupa bahwa di balik setiap keberhasilan ada izin Allah.

Belajar dari Nabi Sulaiman

Berbeda dengan Qarun, Nabi Sulaiman AS menunjukkan sikap yang sangat berbeda ketika menerima nikmat besar.

Beliau berkata:

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS An-Naml: 40)

Perhatikan cara pandangnya.

Beliau tidak memusatkan perhatian pada dirinya.

Beliau melihat Allah terlebih dahulu.

Di pasar, di kantor, di ruang kelas, bahkan di media sosial, kita sering menjumpai orang yang sibuk menunjukkan pencapaiannya. Tidak semuanya salah. Namun hikmah ini mengingatkan bahwa setiap nikmat seharusnya mengantarkan manusia kepada syukur, bukan kepada rasa paling hebat.

Saat Terjatuh, Tetaplah Berharap

Ada satu pemandangan yang sering terlihat di masjid-masjid kampung.

Seorang jamaah yang dulu rajin tiba-tiba menghilang setelah melakukan kesalahan atau menghadapi masalah hidup. Ia merasa tidak pantas datang ke rumah Allah.

Padahal justru saat itulah ia paling membutuhkan Allah.

Hikmah Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa dosa seharusnya membuat seseorang semakin berharap kepada rahmat Allah, bukan semakin menjauh dari-Nya.

Karena itu Rasulullah SAW mengajarkan:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Kalimat ini mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.

Setiap langkah memerlukan pertolongan-Nya.

Setiap amal membutuhkan taufik-Nya.

Dan setiap taubat memerlukan rahmat-Nya.

Bukan dosa yang paling berbahaya bagi seorang hamba. Yang paling berbahaya adalah ketika ia merasa tidak lagi membutuhkan Allah. Sebab saat manusia berhenti berharap kepada rahmat-Nya, saat itulah ia mulai bersandar kepada dirinya sendiri. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • krisis psikolog singapura

    Darurat Mental di Singapura: Psikolog Kurang, Pasien Membludak

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 181
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Krisis psikolog Singapura semakin terasa ketika kebutuhan layanan kesehatan mental atau kesehatan mental Singapura melonjak tajam. Di saat yang sama, kekurangan psikolog membuat akses bantuan menjadi lebih sulit. Fenomena ini menunjukkan ketidakseimbangan serius antara permintaan dan ketersediaan tenaga ahli. Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat justru mempercepat lonjakan permintaan. Oleh karena itu, […]

  • kelompok penyembah setan 764

    Kelompok Penyembah Setan 764 Jadi Ancaman Online Serius, FBI dan Inggris Perketat Pengawasan Remaja

    • calendar_month Minggu, 2 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Kelompok penyembah setan 764 jadi ancaman online global, FBI dan Inggris peringatkan bahaya bagi remaja. Remaja 14 Tahun Terjerat Kelompok Penyembah Setan 764 albadarpost.com, LENSA – Kasus remaja Inggris berusia 14 tahun yang terjerumus ke dalam kelompok penyembah setan 764 membuka kembali perhatian dunia terhadap ancaman kejahatan siber yang menargetkan anak-anak.Awalnya, sang ibu—disebut Christina—menganggap percakapan […]

  • NIB UMKM

    NIB Kini Jadi Tiket Baru Seller Marketplace

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 169
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Suara notifikasi pesanan masuk terdengar dari sebuah ponsel yang diletakkan di atas meja makan. Di sudut rumah sederhana itu, seorang ibu sedang membungkus keripik pisang yang baru saja dipesan pelanggan melalui marketplace. Tak ada papan nama usaha. Tak ada toko besar. Yang ada hanya ruang tamu yang disulap menjadi gudang kecil, beberapa […]

  • cuaca Nataru

    BMKG Ingatkan Risiko Cuaca Pada Nataru

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 256
    • 0Komentar

    BMKG memetakan cuaca Nataru 2025/2026. Hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi perlu diwaspadai. albadarpost.com, FOKUS – Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 berlangsung di tengah dinamika cuaca yang tidak sepenuhnya ekstrem, namun menyimpan risiko nyata. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah. […]

  • Hajar Aswad

    Hajar Aswad Bukan Batu Biasa, Ini Makna Spiritualnya

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 197
    • 0Komentar

    albadarpost. HIKMAH – Bagi sebagian orang, Hajar Aswad mungkin terlihat seperti batu hitam yang menempel di sudut Ka’bah. Namun bagi jutaan umat Islam, batu itu menyimpan makna spiritual yang jauh lebih dalam daripada sekadar benda biasa. Hajar Aswad atau “batu hitam” menjadi salah satu bagian paling terkenal di Masjidil Haram. Banyak jamaah haji dan umrah […]

  • Tauhid dalam kehidupan sehari-hari

    Kenapa Hati Gelisah? Ini Cara Menghidupkan Tauhid Sehari-hari

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 236
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pernahkah seseorang merasa gelisah padahal hidup terlihat baik-baik saja? Harta cukup, pekerjaan ada, bahkan hubungan sosial berjalan lancar. Namun entah mengapa hati terasa kosong. Kondisi ini sering terjadi ketika manusia lupa menghadirkan Allah dalam hidupnya. Di sinilah pentingnya tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Tauhid bukan hanya keyakinan bahwa Allah itu Esa. Lebih dari […]

expand_less