Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Jangan Terkecoh Amal Sendiri, Ini Peringatan Keras Ibnu Athaillah

Jangan Terkecoh Amal Sendiri, Ini Peringatan Keras Ibnu Athaillah

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 15 jam yang lalu
  • visibility 20
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Suatu malam selepas salat Isya, seorang jamaah tua duduk cukup lama di teras masjid. Lampu neon di sudut serambi memantulkan cahaya pucat ke lantai keramik yang mulai kusam. Di tangannya ada tasbih kecil yang terus berputar. Namun wajahnya tampak gelisah.

Bukan karena ia jarang beribadah.

Justru sebaliknya.

Ia merasa sedih karena baru saja melakukan kesalahan yang menurutnya sangat besar. Dalam pikirannya muncul satu pertanyaan: apakah semua amal yang selama ini ia kerjakan menjadi sia-sia?

Kegelisahan semacam ini ternyata tidak hanya dialami satu orang. Banyak muslim pernah merasakannya. Mereka rajin beribadah, berusaha menjaga diri dari maksiat, bahkan aktif dalam kegiatan keagamaan. Namun ketika terjatuh pada satu kesalahan, harapan mereka kepada Allah tiba-tiba mengecil.

Dalam dunia tasawuf, keadaan ini memiliki penjelasan yang sangat mendalam.

Ibnu Athaillah As-Sakandari mengingatkan:

مِنْ عَلَامَاتِ الِاعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ

“Di antara tanda bersandar pada amal adalah berkurangnya harapan ketika terjadi kesalahan atau dosa.”

Hikmah ini sederhana. Namun semakin direnungkan, semakin terasa tajam.

Ketika Amal Menjadi Tempat Bergantung

Banyak orang mengira masalah terbesar dalam agama adalah kurang beramal. Padahal ada masalah lain yang lebih halus.

Yaitu terlalu percaya pada amal sendiri.

Di sejumlah grup WhatsApp keluarga, misalnya, tidak jarang muncul pesan motivasi yang menekankan pentingnya kerja keras, disiplin, dan konsistensi ibadah. Pesan-pesan itu tentu baik. Namun kadang tanpa disadari muncul keyakinan bahwa keberhasilan hidup sepenuhnya bergantung pada kemampuan diri.

Ketika usaha berhasil, seseorang merasa bangga.

Ketika ibadah meningkat, ia merasa aman.

Namun saat gagal atau tergelincir dalam dosa, ia langsung kehilangan harapan.

Di situlah letak persoalannya.

Harapan yang naik turun mengikuti kondisi amal sering menjadi tanda bahwa hati lebih bergantung pada amal daripada kepada Allah.

Makna Tauhid yang Sering Terlupakan

Kalimat tauhid:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

bukan hanya pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Kalimat ini juga mengajarkan bahwa tidak ada tempat bergantung secara mutlak selain Allah.

Tidak ada tempat berharap.

Tidak ada tempat berlindung.

Dan tidak ada tempat bersandar.

Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa seorang hamba harus tetap beramal dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak boleh menjadikan amal sebagai sumber keselamatan.

Keselamatan datang dari rahmat Allah.

Amal hanyalah sebab.

Rahmat Allah adalah penentu.

Inilah yang sering luput dari perhatian manusia modern yang terbiasa mengukur segala sesuatu dengan angka, target, dan pencapaian.

Iblis dan Qarun: Ketika Diri Sendiri Menjadi Berhala

Al-Qur’an memberikan dua contoh yang menarik.

Ketika Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, ia berkata:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ

“Aku lebih baik daripadanya.”

Kalimat itu terdengar singkat.

Namun dari situlah kesombongan bermula.

Iblis melihat dirinya sendiri. Ia melihat kelebihan yang dimilikinya. Pada saat yang sama, ia gagal melihat kebesaran Allah.

Hal serupa terjadi pada Qarun.

Saat ditanya tentang kekayaannya, ia menjawab:

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku memperoleh harta ini karena ilmuku sendiri.” (QS Al-Qashash: 78)

Pernyataan Qarun masih sering terulang dalam bentuk yang berbeda pada zaman sekarang.

Ada yang berkata, “Saya sukses karena kerja keras saya.”

Ada yang berkata, “Semua ini hasil kemampuan saya.”

Mungkin kalimatnya berbeda. Namun ruhnya sama.

Lupa bahwa di balik setiap keberhasilan ada izin Allah.

Belajar dari Nabi Sulaiman

Berbeda dengan Qarun, Nabi Sulaiman AS menunjukkan sikap yang sangat berbeda ketika menerima nikmat besar.

Beliau berkata:

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS An-Naml: 40)

Perhatikan cara pandangnya.

Beliau tidak memusatkan perhatian pada dirinya.

Beliau melihat Allah terlebih dahulu.

Di pasar, di kantor, di ruang kelas, bahkan di media sosial, kita sering menjumpai orang yang sibuk menunjukkan pencapaiannya. Tidak semuanya salah. Namun hikmah ini mengingatkan bahwa setiap nikmat seharusnya mengantarkan manusia kepada syukur, bukan kepada rasa paling hebat.

Saat Terjatuh, Tetaplah Berharap

Ada satu pemandangan yang sering terlihat di masjid-masjid kampung.

Seorang jamaah yang dulu rajin tiba-tiba menghilang setelah melakukan kesalahan atau menghadapi masalah hidup. Ia merasa tidak pantas datang ke rumah Allah.

Padahal justru saat itulah ia paling membutuhkan Allah.

Hikmah Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa dosa seharusnya membuat seseorang semakin berharap kepada rahmat Allah, bukan semakin menjauh dari-Nya.

Karena itu Rasulullah SAW mengajarkan:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Kalimat ini mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.

Setiap langkah memerlukan pertolongan-Nya.

Setiap amal membutuhkan taufik-Nya.

Dan setiap taubat memerlukan rahmat-Nya.

Bukan dosa yang paling berbahaya bagi seorang hamba. Yang paling berbahaya adalah ketika ia merasa tidak lagi membutuhkan Allah. Sebab saat manusia berhenti berharap kepada rahmat-Nya, saat itulah ia mulai bersandar kepada dirinya sendiri. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi manusia merenungi nikmat Allah di bawah langit luas dengan cahaya lembut, menggambarkan makna ayat Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban

    Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban: Teguran Langit yang Terus Menggema

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 86
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Langit seakan tidak pernah lelah menyapa kesadaran manusia. Dalam Surah Ar-Rahman, Allah SWT tidak hanya menyebut nikmat-Nya, tetapi menghadirkannya satu per satu, lalu mengajukan pertanyaan yang sama, berulang hingga 31 kali: “Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban?” Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Pertanyaan itu tidak ditujukan pada satu zaman, tidak pula […]

  • Seseorang duduk sendirian di tengah kesibukan kota sambil merenung tentang ketenangan hati menurut hadis Nabi.

    Hadis Nabi tentang Sibuk Dunia, Tapi Hati Tidak Pernah Tenang

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 82
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pagi dimulai dengan notifikasi. Siang dipenuhi target. Malam masih sibuk memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Banyak orang hari ini terlihat produktif, aktif, bahkan sukses di mata orang lain. Namun diam-diam, hati terasa lelah dan sulit tenang. Dalam Islam, keadaan seperti itu ternyata pernah disinggung Rasulullah SAW melalui hadis tentang sibuk dunia dan […]

  • perdagangan bayi

    Kasus Perdagangan Bayi: Singapura Tujuan Utama

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 81
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Aparat penegak hukum mengungkap praktik perdagangan bayi lintas negara yang dijalankan secara terorganisasi. Sindikat tersebut secara selektif memilih bayi berdasarkan penampilan fisik atau yang mereka anggap “good looking” sebelum dikirim ke luar negeri. Pengungkapan kasus ini menegaskan bahwa perdagangan bayi tidak lagi dilakukan secara sporadis. Pelaku menjalankan mekanisme seleksi, distribusi, dan […]

  • gratifikasi hari raya

    Larangan THR untuk ASN: Bupati Tasikmalaya Terbitkan Surat Edaran

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 91
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mengeluarkan kebijakan tegas terkait gratifikasi hari raya. Melalui Surat Edaran Bupati Tasikmalaya Nomor 0018 Tahun 2026, seluruh aparatur sipil negara (ASN) diminta tidak meminta maupun menerima hadiah atau tunjangan hari raya dari masyarakat maupun perusahaan. Kebijakan ini merupakan langkah pencegahan korupsi dan pengendalian gratifikasi hari raya, yang sering […]

  • Ilustrasi pekerja internasional di Singapura terkait kebijakan baru pekerjaan untuk pemegang permit kerja.

    Peluang Kerja Internasional Makin Luas di Singapura

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 96
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Pekerjaan untuk pemegang permit kerja kini semakin terbuka di Singapura. Pemerintah setempat mengumumkan kebijakan baru yang memungkinkan delapan jenis pekerjaan diakses oleh lebih banyak pemegang visa kerja internasional. Dengan aturan terbaru ini, akses kerja bagi tenaga asing diperluas demi menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah […]

  • kalender hijriyah

    Sejarah Kalender Hijriyah: Fakta yang Jarang Diketahui

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 75
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kalender Hijriyah menyimpan sejarah yang tidak banyak diketahui. Banyak orang mengenal kalender Islam ini sebagai penentu ibadah seperti puasa dan haji. Namun, sejarah kalender Hijriyah, asal-usul penanggalan Islam, serta sistem kalender bulan dalam Islam ternyata memiliki kisah menarik yang jarang dibahas. Selain itu, kalender Hijriyah tidak muncul begitu saja. Ada proses […]

expand_less