Ayat Mutasyabih Adalah Apa? Ini Penjelasan Ulama yang Jarang Dibahas
- account_circle redaktur
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang membaca Al-Qur'an sambil mempelajari ayat mutasyabih dan tafsir ulama di ruang belajar yang tenang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Pernahkah Anda membaca Al-Qur’an lalu berhenti beberapa detik karena menemukan ayat yang terasa sulit dipahami?
Mungkin itu terjadi saat melihat rangkaian huruf seperti Alif Lam Mim. Atau ketika membaca ayat tentang Arsy, surga, neraka, dan berbagai perkara gaib lainnya.
Sebagian orang melanjutkan bacaan begitu saja. Sebagian lagi membuka kitab tafsir. Ada juga yang bertanya kepada guru ngaji setelah pengajian selesai.
Pertanyaan itu sebenarnya bukan hal baru.
Ratusan tahun lalu, para ulama juga membahas persoalan yang sama. Mengapa dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang maknanya tidak langsung mudah dipahami?
Jawabannya berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai ayat mutasyabih.
Di sebuah musala kampung selepas Magrib, misalnya, suasana sering terlihat sederhana. Lampu LED putih menggantung di langit-langit. Beberapa mushaf terbuka di atas karpet hijau yang mulai memudar warnanya. Suara kipas angin berputar pelan di sudut ruangan. Di tengah suasana itu, tidak jarang seorang santri muda mengangkat tangan dan bertanya, “Ustaz, Alif Lam Mim itu artinya apa?”
Pertanyaan sederhana. Tetapi jawabannya ternyata sangat panjang.
Apa Itu Ayat Mutasyabih?
Secara bahasa, mutasyabih berarti sesuatu yang memiliki kemiripan atau belum tampak jelas perbedaannya.
Dalam ilmu tafsir, ayat mutasyabih adalah ayat Al-Qur’an yang maknanya tidak langsung dapat dipahami secara pasti oleh semua orang. Karena itu, pemahamannya membutuhkan penjelasan dari ayat lain, hadis Nabi, maupun keterangan para ulama.
Allah SWT berfirman:
“Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an, dan yang lain mutasyabihat…”
(QS Ali Imran: 7)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Al-Qur’an memang terdiri dari ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat.
Keduanya bukan untuk dipertentangkan.
Sebaliknya, keduanya saling melengkapi.
Ayat yang Membuat Banyak Orang Penasaran
Ketika seseorang pertama kali belajar tafsir, biasanya ia akan menemukan beberapa contoh ayat mutasyabih yang cukup terkenal.
Di antaranya huruf-huruf pembuka surah:
- Alif Lam Mim (الم)
- Ha Mim (حم)
- Qaf (ق)
Hingga hari ini, para ulama memiliki berbagai penjelasan mengenai huruf-huruf tersebut. Namun banyak ulama berpendapat bahwa hakikat makna sebenarnya hanya diketahui oleh Allah SWT.
Selain itu terdapat ayat tentang sifat-sifat Allah.
Misalnya firman Allah:
“Ar-Rahman beristiwa di atas Arsy.”
(QS Taha: 5)
Ayat seperti ini menjadi pembahasan penting dalam ilmu aqidah. Para ulama sepakat mengimaninya, tetapi mereka juga berhati-hati agar tidak menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
Di sinilah letak pentingnya ilmu.
Sebab tidak semua ayat bisa dipahami hanya dengan membaca terjemahan.
Mengapa Allah Menurunkan Ayat Mutasyabih?
Pertanyaan ini sering muncul.
Bahkan terkadang muncul di grup WhatsApp keluarga setelah ada potongan ceramah atau video kajian yang beredar. Seseorang bertanya. Yang lain mencoba menjawab. Lalu diskusi kecil pun berlangsung.
Menariknya, para ulama telah menjelaskan beberapa hikmah besar di balik keberadaan ayat mutasyabih.
Pertama, sebagai ujian keimanan.
Apakah manusia mau mencari ilmu dengan rendah hati atau justru memaksakan tafsir sesuai hawa nafsunya.
Kedua, untuk mendorong manusia berpikir dan belajar.
Karena itulah lahir berbagai disiplin ilmu Islam, mulai dari tafsir, ushul fikih, hingga ilmu bahasa Arab.
Ketiga, untuk mengingatkan bahwa ilmu manusia memiliki batas.
Allah SWT berfirman:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS Al-Isra: 85)
Ayat ini terasa sederhana. Namun maknanya sangat dalam.
Semakin banyak seseorang belajar, sering kali ia justru semakin sadar betapa luas ilmu Allah.
Aneh memang.
Tetapi begitulah kenyataannya.
Bagaimana Sikap Seorang Muslim?
Para ulama Ahlus Sunnah memberikan pedoman yang cukup jelas.
Pertama, mengimani seluruh ayat Al-Qur’an.
Kedua, memahami ayat mutasyabih dengan merujuk kepada ayat-ayat yang muhkam.
Ketiga, tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu tanpa dasar ilmu yang kuat.
Imam Malik rahimahullah pernah memberikan jawaban terkenal ketika ditanya mengenai makna istiwa.
Beliau menjelaskan bahwa makna istiwa diketahui secara bahasa, tetapi hakikatnya tidak diketahui. Mengimaninya wajib, sedangkan memperdebatkan hakikat yang tidak dijelaskan wahyu bukanlah jalan yang bermanfaat.
Sikap seperti ini menunjukkan keseimbangan antara akal dan keimanan.
Tidak berlebihan.
Tidak pula meremehkan ilmu.
Pelajaran yang Relevan untuk Kehidupan Sehari-hari
Ayat mutasyabih ternyata tidak hanya mengajarkan ilmu tafsir.
Ada pelajaran hidup di dalamnya.
Di ruang pengajian yang sederhana, di antara suara sandal yang bergesekan saat jamaah pulang, atau ketika seorang ayah membaca mushaf selepas Subuh sambil menyeruput kopi hangat yang mulai dingin, ada satu pelajaran yang sering muncul: manusia tidak harus mengetahui segalanya.
Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban instan.
Tidak semua misteri langsung terbuka.
Kadang seseorang perlu belajar lebih lama. Membaca lebih banyak. Bertanya kepada ahlinya.
Lalu menerima bahwa ada batas yang tidak bisa dilampaui oleh akal manusia.
Justru di situlah letak keindahannya.
Karena ayat mutasyabih mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungi sepanjang hidup.
Semakin dalam seseorang menyelami ayat mutasyabih, semakin ia menyadari satu kenyataan yang menenangkan: tidak semua yang belum dipahami harus ditolak. Sebab terkadang, kebesaran Allah justru tampak paling jelas pada hal-hal yang belum sepenuhnya mampu dijangkau oleh akal manusia. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar