Hadis tentang Utang Ini Kini Menusuk di Tengah Hidup yang Makin Berat
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi kepala keluarga termenung di teras rumah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Malam itu rumah sebenarnya tenang.
Televisi masih menyala kecil di ruang tamu. Anak-anak sudah tidur. Namun seorang ayah belum juga memejamkan mata. Tangannya memegang ponsel. Berkali-kali ia membuka aplikasi mobile banking, lalu menutupnya lagi pelan-pelan.
Besok cicilan jatuh tempo.
Situasi seperti itu hari ini semakin sering terjadi di banyak keluarga Indonesia.
Hadis hutang yang dulu hanya terdengar sebagai nasihat agama kini terasa sangat nyata. Di tengah tekanan ekonomi, gaya hidup modern, dan budaya ingin terlihat sukses, banyak rumah tangga perlahan kehilangan ketenangan karena utang.
Awalnya mungkin hanya satu cicilan.
Lalu bertambah menjadi beberapa tagihan sekaligus.
Rumah masih berdiri. Keluarga masih terlihat baik-baik saja. Tetapi suasana di dalamnya mulai berubah sedikit demi sedikit.
Rasulullah SAW Sudah Mengingatkan tentang Bahaya Utang
Rasulullah SAW ternyata sering berdoa agar dijauhkan dari lilitan utang.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Nabi Muhammad SAW berdoa:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.”
(HR. Bukhari)
Ketika sahabat bertanya mengapa beliau begitu sering meminta perlindungan dari utang, Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang terlilit utang mudah berkata dusta dan ingkar janji.
Hari ini, nasihat itu terasa semakin dekat dengan kehidupan banyak orang.
Sebab tekanan utang sering mengubah perilaku seseorang tanpa disadari.
Ada yang mulai menghindari telepon. Ada yang takut bertemu teman karena pernah meminjam uang. Bahkan ada pasangan suami istri yang perlahan kehilangan kehangatan hanya karena terlalu sering memikirkan tagihan bulanan.
Rumah Tangga Tidak Selalu Hancur karena Orang Ketiga
Banyak orang mengira keretakan keluarga selalu datang karena perselingkuhan atau konflik besar.
Padahal kenyataannya, masalah ekonomi sering menjadi api kecil yang membesar diam-diam.
Awalnya hanya pembicaraan sederhana:
“Uang belanja masih ada?”
“Tagihan listrik sudah dibayar?”
“Cicilan motor jatuh tempo kapan?”
Namun ketika penghasilan tidak lagi cukup menutup kebutuhan, percakapan kecil mulai berubah menjadi ketegangan.
Suara anak-anak yang dulu menghangatkan rumah perlahan tergantikan oleh suasana cemas.
Bahkan ada keluarga yang tetap tersenyum di depan tetangga, tetapi diam-diam tidur dengan pikiran berat setiap malam.
Gaya Hidup Modern Membuat Banyak Orang Terjebak
Dulu orang tua membeli barang setelah benar-benar punya uang.
Sekarang banyak orang membeli dulu, memikirkan bayarnya belakangan.
Media sosial ikut memperbesar tekanan itu.
Setiap hari orang melihat teman memamerkan mobil baru, liburan, atau gaya hidup mewah. Lama-lama muncul perasaan tertinggal.
Padahal belum tentu semua yang terlihat indah di media sosial benar-benar nyaman dalam kehidupan nyata.
Karena ingin terlihat berhasil, sebagian orang akhirnya memaksakan diri mengambil cicilan di luar kemampuan.
Rasulullah SAW sebenarnya sudah mengingatkan agar umatnya hidup sederhana dan tidak berlebihan.
Beliau bersabda:
“Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan.”
(HR. Baihaqi)
Nasihat itu terasa sederhana. Namun di zaman sekarang, menjalani hidup secukupnya justru menjadi sesuatu yang berat bagi banyak orang.
Utang Bukan Sekadar Angka
Yang paling melelahkan dari utang sering kali bukan jumlahnya.
Melainkan rasa takut yang datang setiap hari.
Takut ponsel berbunyi. Takut ditagih. Dan takut anak meminta kebutuhan sekolah saat uang sedang kosong.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
“Jiwa seorang mukmin masih tergantung karena utangnya sampai utang itu dilunasi.”
(HR. Tirmidzi)
Karena itu, Islam memandang utang bukan perkara ringan.
Utang memang boleh dalam kondisi tertentu. Namun Islam mengajarkan tanggung jawab dan kehati-hatian.
Allah SWT juga berfirman:
“Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”
(QS. Al-Baqarah: 282)
Ayat itu menunjukkan bahwa urusan utang harus dijaga dengan serius, jelas, dan penuh tanggung jawab.
Banyak Orang Baru Paham Setelah Mengalaminya
Ada nasihat orang tua zaman dulu yang sekarang terasa masuk akal:
“Kalau belum mampu, jangan dipaksakan.”
Kalimat itu mungkin terdengar kuno. Namun hari ini banyak orang mulai memahami maksudnya setelah merasakan sendiri beratnya hidup dengan cicilan yang terus berjalan.
Sebab ketenangan ternyata bukan datang dari banyaknya barang yang dimiliki.
Melainkan dari hati yang tidak terus-menerus dibebani tagihan.
Kadang yang paling membuat rumah terasa dingin bukan bocornya atap atau sempitnya ruangan — tetapi utang yang diam-diam menghilangkan tenang, tawa, dan rasa nyaman di dalam keluarga. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar