Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Tafsir Al-Kahfi 79: Kadang Allah Melukai untuk Menyelamatkan

Tafsir Al-Kahfi 79: Kadang Allah Melukai untuk Menyelamatkan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Setiap Jumat pagi, Surah Al-Kahfi dibaca di banyak masjid. Ada jamaah yang membukanya dari mushaf dengan sampul yang mulai pudar karena sering disentuh. Ada pula yang membacanya dari layar ponsel sambil menunggu khatib naik mimbar.

Ayat demi ayat dilantunkan.

Lalu berlalu.

Padahal di antara ayat-ayat itu terdapat satu kisah yang sangat dekat dengan kehidupan manusia modern: kisah perahu Nabi Khidir dalam QS Al-Kahfi ayat 79.

Kisah ini bukan hanya tentang sebuah perahu yang dilubangi.

Ia berbicara tentang kegagalan, kehilangan, penolakan, dan rencana hidup yang tiba-tiba berubah arah.

Tentang sesuatu yang terasa menyakitkan hari ini, tetapi mungkin justru menyelamatkan kita di masa depan.

Ketika Nabi Musa Tidak Mengerti

Dalam perjalanan bersama Nabi Khidir, Nabi Musa menyaksikan sesuatu yang sulit diterima akal.

Sebuah perahu milik nelayan miskin yang telah membantu mereka justru dilubangi.

Kalau melihat dari sudut pandang manusia biasa, tindakan itu tampak tidak masuk akal.

Mengapa merusak milik orang yang sudah berbuat baik?

Mengapa menambah beban hidup mereka?

Nabi Musa pun mempertanyakan hal tersebut.

Namun setelah itu Nabi Khidir menjelaskan alasan sebenarnya.

Allah berfirman:

“Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusakkannya karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu yang baik.”

(QS Al-Kahfi: 79)

Ternyata lubang kecil itu bukan bentuk kezaliman.

Lubang itu adalah perlindungan.

Perahu yang tampak rusak tidak menarik perhatian sang raja. Akibatnya, pemilik perahu tetap memiliki sumber penghidupan mereka.

Kerusakannya kecil.

Penyelamatannya besar.

Kita Sering Hanya Melihat Lubangnya

Masalahnya, manusia hampir selalu fokus pada apa yang hilang.

Jarang melihat apa yang sedang diselamatkan.

Ada orang yang sudah mengikuti beberapa kali wawancara kerja. Semua berjalan lancar. Bahkan ia merasa sangat yakin akan diterima.

Namun pengumuman itu tidak pernah datang.

Ada pula yang sudah menentukan tanggal pernikahan. Keluarga sudah bertemu. Sebagian perlengkapan bahkan sudah dibeli. Lalu hubungan itu berakhir begitu saja.

Sebentar.

Mendadak.

Menyakitkan.

Di media sosial, tidak sedikit orang yang beberapa tahun kemudian menulis cerita serupa. Menariknya, banyak dari mereka baru memahami hikmahnya setelah waktu berlalu cukup lama.

Ada yang bersyukur tidak jadi menikah karena kemudian mengetahui sifat pasangan yang selama ini tersembunyi.

Ada yang gagal diterima bekerja di suatu tempat, lalu menemukan pekerjaan lain yang jauh lebih baik.

Dan ada yang kehilangan modal usaha, tetapi terhindar dari risiko yang bisa membuat seluruh keluarganya terjerat utang.

Saat kejadian itu berlangsung, mereka hanya melihat lubangnya.

Mereka belum melihat rajanya.

Allah Melihat Hal yang Tidak Kita Ketahui

Kisah Nabi Khidir mengajarkan satu hal yang sering dilupakan manusia: pandangan kita sangat terbatas.

Kita hanya melihat hari ini.

Allah melihat tahun depan.

Kita hanya melihat satu pintu yang tertutup.

Allah mengetahui apa yang berada di belakang pintu itu.

Karena itulah Allah berfirman:

“… boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

(QS Al-Baqarah: 216)

Ayat ini tidak mengajarkan manusia untuk pasrah tanpa usaha.

Sebaliknya, ayat ini mengajarkan kerendahan hati.

Bahwa tidak semua hal yang kita inginkan benar-benar baik untuk kita.

Dan tidak semua hal yang membuat kita menangis adalah keburukan.

Anehnya, manusia sering meminta penjelasan ketika kehilangan sesuatu.

Namun saat memperoleh sesuatu yang diinginkan, jarang sekali bertanya mengapa Allah memberikannya.

Takdir Belum Sampai di Halaman Terakhir

Kadang kita terlalu cepat menyimpulkan.

Baru satu bab.

Sudah merasa tahu seluruh cerita.

Padahal tidak.

Ketika perahu itu dilubangi, pemiliknya tentu tidak langsung mengetahui adanya raja yang akan merampas kapal-kapal bagus.

Mereka hanya melihat kerusakan di depan mata.

Begitu pula kita.

Saat kehilangan pekerjaan, kita melihat kecemasan.

Saat kehilangan uang, kita melihat kerugian.

Dan saat kehilangan seseorang yang dicintai, kita melihat kesedihan.

Dan itu manusiawi.

Sangat manusiawi.

Namun seorang mukmin diajarkan untuk percaya bahwa Allah tidak pernah menetapkan sesuatu tanpa hikmah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, maka itu baik baginya.”

(HR Muslim)

Hadis ini bukan berarti hidup selalu mudah.

Bukan.

Tetapi seorang mukmin percaya bahwa Allah selalu bekerja melalui cara-cara yang kadang belum bisa dipahami saat ini.

Mungkin Anda Sedang Mengalami Perahu yang Berlubang

Mungkin saat ini ada doa yang belum terkabul.

Dan mungkin ada usaha yang belum berhasil.

Serta mungkin ada harapan yang belum sampai.

Atau mungkin ada sesuatu yang baru saja hilang dari hidup Anda.

Tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskan rasa kecewa ketika harapan runtuh.

Sebagian orang pernah mengalaminya.

Sebagian mungkin sedang mengalaminya sekarang.

Namun kisah Nabi Khidir mengingatkan bahwa takdir tidak berhenti pada satu peristiwa.

Masih ada halaman berikutnya.

Masih ada cerita yang belum dibuka.

Dan bisa jadi, apa yang hari ini Anda anggap sebagai kehilangan hanyalah “lubang kecil” yang Allah buat agar hidup Anda tidak tenggelam oleh musibah yang jauh lebih besar.

Suatu hari nanti, ketika waktu membuka tabir yang hari ini masih tertutup, mungkin Anda akan menoleh ke belakang lalu berkata: “Ya Allah, sekarang aku mengerti. Ternyata yang dulu membuatku menangis bukanlah hukuman-Mu. Itu adalah cara-Mu menyelamatkanku.” (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • macam-macam gempa bumi

    Macam-Macam Gempa Bumi dan Cara Siaga Menghadapinya

    • calendar_month Selasa, 22 Nov 2022
    • account_circle redaktur
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Macam-Macam Gempa Bumi dan Cara Siaga Menghadapinya. albadarpost.com, PERSPEKTIF — Indonesia berada pada salah satu kawasan paling aktif secara geologis di dunia. Kondisi ini membuat negara kepulauan tersebut kerap merasakan guncangan dalam berbagai skala. Karena itulah, memahami macam-macam gempa bumi menjadi penting, bukan hanya bagi lembaga penanggulangan bencana, tetapi juga bagi masyarakat yang hidup di […]

  • Ilustrasi Luqman al-Hakim menasihati anaknya tentang tauhid, akhlak mulia, dan tanggung jawab sosial dalam Al-Qur’an Surat Luqman.

    Pesan Abadi Luqman al-Hakim untuk Generasi Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 78
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Suatu hari di masa depan, ketika dunia bergerak semakin cepat dan nilai-nilai kerap tergeser oleh ambisi, seorang anak mungkin akan bertanya: apa yang bisa menjadi pegangan hidup di tengah kebisingan zaman? Jawabannya ternyata telah lama hadir dalam Al-Qur’an, melalui wasiat Luqman al-Hakim kepada anaknya, yang terabadikan dalam Surat Luqman ayat 13–19. Luqman […]

  • Harkitnas Ciamis

    Harkitnas 2026 di Ciamis Soroti Ancaman Era Digital terhadap Generasi Muda

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 39
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peringatan Harkitnas Ciamis atau Hari Kebangkitan Nasional ke-118 di Kabupaten Ciamis berlangsung khidmat di halaman Pendopo Kabupaten Ciamis, Rabu (20/05/2026). Namun di balik prosesi upacara bendera dan barisan peserta yang tertib, ada pesan kuat yang menjadi sorotan utama tahun ini: ancaman era digital terhadap generasi muda Indonesia. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya […]

  • Arsip Digital

    Bupati Garut Minta Arsip Kertas Dikurangi, Era Digital Dimulai

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 32
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Hujan turun cukup deras sejak pagi di kawasan Tarogong Kidul, Senin (25/5/2026). Beberapa pegawai tampak berlari kecil sambil melindungi map dokumen dengan tangan. Sebagian lainnya masuk ke Ruang Rapat Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Garut dengan ujung sepatu yang masih basah terkena genangan halaman kantor. Apel Gabungan yang awalnya direncanakan berlangsung di […]

  • Kebakaran pabrik mie lidi

    Api dari Oven Hanguskan Pabrik Mie Lidi di Leuwisari Tasikmalaya

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 58
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kebakaran pabrik mie lidi di Tasikmalaya menghanguskan seluruh ruang produksi pada Selasa malam, 12 Mei 2026. Insiden itu terjadi di Kampung Kalieung RT/RW 005/002, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Api diduga muncul dari oven pengering mie lidi saat proses produksi masih berlangsung. Peristiwa kebakaran pabrik mie lidi tersebut langsung menyita […]

  • ilustrasi zakat fitrah umat Islam saat Ramadan

    Jarang Diketahui, Ini Sejarah Zakat Fitrah Sejak Zaman Nabi

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 74
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak umat Islam menunaikan zakat setiap Ramadan. Namun tidak semua orang mengetahui sejarah zakat fitrah dalam Islam. Padahal sejarah zakat fitrah menunjukkan bahwa ibadah ini sudah ada sejak masa Rasulullah SAW dan menjadi bagian penting dari sistem sosial umat Islam. Sejak awal Islam berkembang, zakat fitrah atau zakat Idul Fitri berfungsi bukan […]

expand_less