Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Hukum Buzzer Politik dalam Islam, Halal atau Haram?

Hukum Buzzer Politik dalam Islam, Halal atau Haram?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
  • visibility 269
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Fenomena buzzer politik kini semakin sering dibahas masyarakat. Dalam perspektif Buzzer Politik Islam, topik ini menjadi sensitif karena berkaitan dengan etika berbicara, menyebarkan informasi, hingga tanggung jawab moral di media sosial.

Tidak sedikit orang mulai mempertanyakan: apakah menjadi buzzer politik diperbolehkan dalam Islam?

Pertanyaan itu muncul karena media sosial hari ini bukan lagi sekadar tempat berbagi pendapat. Platform digital sudah berubah menjadi arena perang opini, propaganda, bahkan saling serang antarkelompok politik.

Dan situasinya terasa semakin panas menjelang momentum politik tertentu.

Di media sosial, orang bisa dengan cepat membagikan potongan video, narasi emosional, hingga komentar provokatif hanya dalam hitungan detik.

Kadang tanpa sempat memeriksa kebenarannya lebih dulu.

Islam Sangat Keras soal Fitnah dan Informasi Bohong

Dalam Islam, menyampaikan informasi tidak bisa dilakukan sembarangan. Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan tegas agar umat Islam memverifikasi kabar sebelum menyebarkannya.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS Al-Hujurat: 6)

Ayat ini sering menjadi dasar utama pembahasan etika informasi dalam Islam.

Sebab buzzer politik kerap dikaitkan dengan:

  • penyebaran hoaks,
  • manipulasi opini,
  • framing berlebihan,
  • hingga serangan personal terhadap lawan politik.

Padahal Islam melarang keras fitnah dan kebohongan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Cukuplah seseorang disebut pendusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.”
(HR Muslim)

Artinya, seorang Muslim tidak boleh asal membagikan informasi hanya karena sesuai dengan kelompok atau kepentingannya.

Karena setiap ucapan tetap akan dipertanggungjawabkan.

Ketika Media Sosial Lebih Ramai daripada Ruang Diskusi

Belakangan, media sosial memang terasa semakin bising. Setiap hari muncul potongan video, debat, dan narasi politik yang terus berganti. Ada yang membaca sambil ngopi pagi sebelum kerja. Ada juga yang diam cukup lama hanya memandangi kolom komentar yang semakin panas.

Tidak sedikit orang membaca debat politik sambil rebahan malam hari dengan layar ponsel yang terus menyala sampai lewat tengah malam.

Kadang seseorang baru sadar sudah menghabiskan hampir satu jam di kolom komentar politik tanpa benar-benar mendapat informasi baru.

Dan itu terjadi perlahan.

Lucunya, sebagian akun hari ini lebih sibuk membela tokoh politik dibanding menjaga hubungan dengan keluarga sendiri.

Fenomena inilah yang membuat banyak orang mulai mempertanyakan batas moral dalam aktivitas digital modern.

Apakah Semua Buzzer Politik Haram?

Dalam kajian para ulama kontemporer, tidak semua aktivitas politik digital otomatis haram.

Jika seseorang menyampaikan informasi yang benar, edukatif, tidak memfitnah, dan bertujuan membangun kebaikan publik, maka aktivitas itu bisa masuk ranah amar ma’ruf.

Namun masalah muncul ketika:

  • informasi dipelintir,
  • fakta disembunyikan,
  • lawan dihina,
  • atau opini dibentuk dengan cara manipulatif.

Di titik itulah banyak ulama mulai mengingatkan bahaya etika digital yang rusak.

Sebab Islam tidak hanya menilai tujuan, tetapi juga cara.

Dan itu sering dilupakan.

Tidak sedikit pengguna media sosial membaca berita politik sambil terus menggulir kolom komentar yang isinya saling menyerang.

Bahkan ada yang mengaku mulai lelah melihat perdebatan yang terasa tidak selesai-selesai.

Ulama Ingatkan Bahaya Ghibah Digital dan Dosa Jari

Dalam Islam, dosa tidak hanya lahir dari lisan. Hari ini, jari di layar ponsel juga bisa membawa dosa yang sama.

Imam An-Nawawi dalam penjelasan tentang ghibah menegaskan bahwa menyebarkan keburukan orang lain tetap haram, baik secara lisan maupun tulisan.

Karena itu, komentar, caption, unggahan ulang, hingga meme politik tetap masuk wilayah moral yang harus dijaga.

Apalagi jika bertujuan menjatuhkan martabat seseorang.

Allah SWT juga berfirman:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
(QS Al-Hujurat: 12)

Ayat ini terasa sangat relevan dengan kondisi media sosial hari ini.

Karena sebagian akun justru hidup dari memperbesar konflik.

Kadang narasinya sengaja dibuat kasar agar ramai.

Kadang judul dibuat panas agar viral.

Dan perlahan, kebisingan digital mulai dianggap biasa.

Politik dalam Islam Tetap Harus Bermoral

Islam tidak melarang umatnya terlibat dalam politik. Bahkan kepedulian terhadap urusan masyarakat termasuk bagian penting dalam kehidupan sosial Islam.

Namun politik tetap harus dijalankan dengan:

  • kejujuran,
  • adab,
  • akhlak,
  • dan tanggung jawab moral.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi pernah mengingatkan bahwa dakwah maupun komunikasi publik tidak boleh dibangun di atas kebohongan dan permusuhan.

Karena kebencian yang terus dipelihara bisa merusak persaudaraan umat.

Di sisi lain, media sosial hari ini memang membuat batas antara dakwah, opini, hiburan, dan propaganda menjadi semakin tipis.

Ada orang yang awalnya hanya ikut membagikan konten politik karena tren pertemanan.

Ada pula yang perlahan terbiasa menyerang pihak lain demi engagement.

Dan itu sering terjadi tanpa terasa.

Bijak Bermedia Sosial Jadi Bagian Akhlak Muslim

Kajian tentang buzzer politik akhirnya bukan hanya soal politik itu sendiri. Tetapi juga soal akhlak, kejujuran, dan tanggung jawab seorang Muslim di ruang digital.

Karena setiap tulisan akan meninggalkan jejak.

Setiap komentar akan dibaca orang lain.

Dan setiap unggahan bisa memengaruhi banyak pikiran sekaligus.

Islam mengajarkan bahwa menjaga lisan adalah tanda keselamatan iman.

Hari ini, mungkin yang perlu dijaga bukan hanya lisan.

Tetapi juga jempol dan tombol “share”.

Sebab di zaman media sosial seperti sekarang, dosa kadang tidak lagi keluar dari mulut.

Tetapi dari layar kecil yang setiap hari kita genggam terlalu lama. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puasa Asyura

    Puasa Asyura, Satu Hari Pahala Setahun

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 192
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Menjelang tanggal 10 Muharram, banyak Muslim mulai mencari informasi tentang Puasa Asyura, keutamaan puasa Asyura, dan amalan Muharram yang paling dianjurkan. Menariknya, di tengah berbagai ibadah sunnah yang ada, Puasa Asyura justru memiliki keutamaan yang sangat besar. Hanya satu hari berpuasa, tetapi Rasulullah SAW menyebutnya sebagai amalan yang dapat menjadi sebab dihapuskannya […]

  • OTT oknum LSM

    Oknum LSM Terjaring OTT Polres Subang

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 383
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kepolisian Resor Subang menegaskan tidak memberi ruang bagi praktik pemerasan yang menyasar aparatur pemerintahan desa. Seorang oknum anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) ditangkap melalui operasi tangkap tangan (OTT) karena diduga memeras belasan kepala desa di wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat. OTT oknum LSM tersebut dilakukan oleh Satuan Reserse Kriminal Polres Subang […]

  • Ilustrasi perayaan ulang tahun Persib ke-93 dengan Bobotoh memenuhi stadion membawa bendera biru Maung Bandung.

    Persib 93 Tahun: Warisan Loyalitas Bobotoh Lintas Generasi

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 212
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Suara nyanyian Bobotoh menggema. Warna biru memenuhi jalanan Bandung. Bendera Persib berkibar di berbagai sudut kota. Di tengah atmosfer emosional itu, satu perayaan kembali menyatukan jutaan hati: Persib 93 tahun. Ulang tahun Persib ke-93, hari jadi Persib Bandung, dan perayaan 93 tahun Maung Bandung bukan sekadar angka dalam sejarah sepak bola. […]

  • Bonus Demografi Indonesia

    Bonus Demografi Indonesia, Peluang Emas atau Tantangan?

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 79
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Bonus Demografi Indonesia semakin menjadi perhatian setelah data BPS yang dipublikasikan melalui infografik akun Jabar Stats memperlihatkan bahwa sekitar 46,9 persen penduduk Indonesia berusia di bawah 30 tahun. Struktur demografi Indonesia yang didominasi kelompok usia muda ini menjadi modal penting bagi pembangunan. Di sisi lain, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan besar […]

  • Menu Bergizi Murah

    Modal Rp15 Ribu, Ini Menu Bergizi untuk Anak

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 183
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Menu bergizi murah dan makanan bergizi Rp15 ribu menjadi topik yang semakin sering dibicarakan masyarakat. Di tengah naik turunnya harga bahan pokok, banyak orang tua bertanya: apakah uang Rp15 ribu masih cukup untuk memasak makanan sehat bagi anak? Jawabannya ternyata tidak sesederhana ya atau tidak. Namun, dengan pemilihan bahan pangan yang tepat, […]

  • ornamen kujang

    Revitalisasi Tugu Pancakarsa Berubah, Ornamen Kujang Jadi Sorotan

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Revitalisasi Tugu Pancakarsa memicu polemik setelah perubahan ornamen kujang dianggap menggeser identitas visual Kabupaten Bogor. albadarpost.com, LENSA – Perubahan bentuk dan tampilan ornamen kujang pada Tugu Pancakarsa memantik sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Tugu yang berada di kawasan Sentul itu sebelumnya dikenal sebagai simbol yang merepresentasikan identitas Kabupaten Bogor. Setelah dilakukan revitalisasi oleh Pemerintah […]

expand_less