Reward Sukwan Kebersihan Tasik Masih Digodok, Hanapi: Kita Tidak Tutup Mata
- account_circle redaktur
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Plh Sekda Kota Tasikmalaya, Hanapi sedang bergurau dengan petugas kebersihan, Selasa (19/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Plh Sekda Kota Tasikmalaya Hanapi akhirnya angkat bicara terkait tuntutan reward sukwan Tasik yang disampaikan 116 petugas kebersihan berstatus sukwan di Bale Wiwitan, Selasa (19/5/2026). Ia mengakui pernah menyampaikan janji pemberian reward saat masih menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya.
Namun hingga kini, janji tersebut belum terealisasi.
Menurut Hanapi, aspirasi para petugas kebersihan sudah diterima pemerintah kota dan saat ini sedang dibahas bersama pimpinan daerah dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran serta aturan hukum yang berlaku.
“Apa yang mereka sampaikan sudah tertangkap. Kita tidak menutup mata. Aspirasi ini akan kita godok bersama pimpinan dan melihat kemampuan anggaran serta aturan yang berlaku,” ujar Hanapi usai kegiatan pelepasan petugas kebersihan.
Pernyataan tersebut muncul setelah suasana apel petugas kebersihan sebelumnya berubah menjadi momen penagihan janji oleh ratusan sukwan.
Hanapi Sebut Sukwan Layak Diperhatikan
Dalam keterangannya, Hanapi menilai para petugas kebersihan sukwan memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan Kota Tasikmalaya meskipun bekerja dengan keterbatasan status dan penghasilan.
Karena itu, menurutnya, pemerintah daerah memahami aspirasi yang mereka sampaikan.
“Mereka berjuang secara sukarela membantu kebersihan kota, meskipun hasilnya tidak signifikan dan tidak pasti. Justru karena itu, mereka sangat layak untuk kita perhatikan,” katanya.
Ia juga meminta seluruh petugas tetap semangat menjalankan tugas sambil menunggu hasil pembahasan internal pemerintah daerah.
Di sisi lain, Hanapi menegaskan pemerintah tidak bisa langsung merealisasikan reward tanpa mempertimbangkan dasar hukum dan kemampuan keuangan daerah.
Menurutnya, setiap kebijakan harus tetap mengacu pada aturan yang berlaku agar tidak menimbulkan persoalan administratif di kemudian hari.
Reward Masih Menunggu Pembahasan Anggaran
Hanapi mengakui perubahan jabatan menjadi salah satu faktor yang membuat realisasi reward belum berjalan sesuai harapan para sukwan.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah kota tidak mengabaikan tuntutan tersebut.
“Saya tidak berani mengatakan apa-apa dulu sekarang. Pokoknya, insyaallah akan kita bantu. Kita cari jalan terbaik agar pengabdian mereka mendapat bentuk apresiasi yang sesuai,” tegasnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa pembahasan reward masih terbuka, meskipun belum ada keputusan final terkait bentuk maupun besaran apresiasi yang akan diberikan.
Bagi sebagian sukwan, jawaban tersebut memberi sedikit harapan. Namun di sisi lain, banyak yang masih menunggu kepastian lebih konkret.
Karena bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar soal tambahan bantuan.
Tetapi juga tentang penghargaan terhadap pekerjaan yang selama ini sering dianggap biasa.
Sukwan Jadi Tulang Punggung Kebersihan Kota
Selama ini para sukwan kebersihan bekerja di berbagai titik wilayah Kota Tasikmalaya, mulai dari jalan protokol, pasar, hingga lingkungan permukiman.
Sebagian besar bekerja sejak dini hari sebelum aktivitas masyarakat dimulai.
Ada yang menyapu trotoar ketika jalan masih sepi. Ada pula yang membersihkan tumpukan sampah pasar sebelum pedagang kembali membuka lapak.
Namun pekerjaan mereka jarang terlihat ketika kota dalam keadaan bersih.
Masyarakat biasanya baru sadar pentingnya petugas kebersihan saat sampah mulai menumpuk atau saluran tersumbat.
Dan kondisi itulah yang membuat tuntutan reward menjadi perhatian publik.
Apalagi jumlah sukwan yang menyampaikan aspirasi mencapai 116 orang.
Di Bale Wiwitan sendiri, suasana sempat terasa tegang ketika para petugas mulai mempertanyakan janji yang pernah disampaikan Hanapi saat masih memimpin DLH.
Meski tidak ada kericuhan, sebagian petugas terlihat memilih bertahan lebih lama seusai apel untuk mendengarkan langsung jawaban dari pemerintah kota.
Pemerintah Kota Cari Solusi yang Aman Secara Hukum
Hanapi menegaskan pemerintah daerah harus berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait reward sukwan.
Menurutnya, pemberian apresiasi kepada tenaga nonformal tetap membutuhkan payung aturan yang jelas agar tidak menyalahi ketentuan pengelolaan anggaran daerah.
Karena itu, pembahasan akan dilakukan bersama pimpinan daerah sebelum diputuskan lebih lanjut.
Di sisi lain, pemerintah juga memahami pentingnya menjaga motivasi para petugas kebersihan yang selama ini membantu menjaga kenyamanan kota.
Apalagi persoalan kebersihan menjadi salah satu wajah utama pelayanan publik di perkotaan.
Dan pekerjaan itu sebagian besar dijalankan oleh orang-orang yang sering bekerja tanpa sorotan.
Ada petugas yang tetap menyapu jalan saat hujan turun. Ada juga yang berangkat sebelum matahari terbit ketika sebagian besar warga masih tidur.
Hal-hal seperti itu mungkin terlihat sederhana.
Tetapi kota yang bersih tidak pernah tercipta dengan sendirinya.
Aspirasi Sukwan Jadi Sorotan Publik
Persoalan reward sukwan kini mulai menjadi perhatian masyarakat karena menyangkut kesejahteraan tenaga kebersihan yang selama ini berada di lapangan.
Sebagian warga menilai pemerintah perlu memberi perhatian lebih terhadap para sukwan yang ikut menjaga kebersihan kota meski berstatus nonformal.
Di media sosial, sejumlah komentar juga muncul mendukung agar ada solusi konkret bagi para petugas kebersihan tersebut.
Karena pada akhirnya, kebersihan kota bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
Tetapi juga hasil kerja banyak orang yang sering tidak terlihat.
Janji itu memang belum berubah menjadi reward.
Tetapi pagi di Bale Wiwitan kemarin meninggalkan satu pesan yang cukup jelas: kota yang bersih berdiri di atas kerja orang-orang sederhana… yang selama ini terlalu sering dilupakan. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar