Hari Arafah Disebut Waktu Mustajab, Ini Dalil dan Keutamaannya
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

Padang Arafah (Foto: Amalia/wikimedia).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Tidak sedikit umat Islam yang merasa suasana Hari Arafah berbeda dibanding hari-hari biasa. Ada yang mendadak lebih tenang. Ada juga yang tiba-tiba ingin memperbanyak doa tanpa tahu kenapa.
Padahal secara kasat mata, harinya tetap sama. Matahari tetap terbit. Jalanan tetap ramai. Notifikasi ponsel tetap berbunyi.
Namun bagi banyak orang, Hari Arafah memang terasa lebih lembut.
Dalam kajian Islam, Hari Arafah dikenal sebagai salah satu waktu terbaik untuk berdoa. Bahkan sebagian ulama menyebut hari ini sebagai momen ketika langit terasa lebih dekat dengan permohonan manusia.
Dan menariknya, suasana itu sering dirasakan bahkan oleh orang yang tidak sedang berhaji.
Hari Arafah Punya Kedudukan Sangat Istimewa
Hari Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Idul Adha. Pada hari itu, jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf, salah satu rukun terpenting dalam ibadah haji.
Rasulullah SAW bersabda:
“Haji adalah Arafah.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya Hari Arafah dalam Islam.
Selain itu, Allah SWT juga menyebut hari-hari mulia Dzulhijjah dalam Al-Qur’an:
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1-2)
Banyak ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Karena itu, Hari Arafah berada dalam rangkaian waktu yang sangat dimuliakan.
Mengapa Doa Hari Arafah Disebut Sangat Mustajab?
Salah satu alasan utama Hari Arafah begitu istimewa adalah karena Rasulullah SAW secara langsung menyebut keutamaan doa pada hari tersebut.
Beliau bersabda:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini sering membuat banyak orang lebih serius memanfaatkan Hari Arafah untuk berdoa.
Bukan hanya meminta rezeki atau kesehatan.
Tetapi juga memohon ketenangan hati, ampunan dosa, dan kehidupan yang lebih baik.
Menariknya, suasana Hari Arafah sering membuat orang lebih mudah merenung.
Ada yang mendadak ingat orang tua. Ada yang diam-diam menangis setelah salat. Dan ada juga yang membuka daftar doa lama di catatan ponsel karena takut lupa menyebut satu per satu harapannya.
Dan momen seperti itu biasanya terasa sangat personal.
Puasa Arafah Juga Punya Keutamaan Besar
Bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, Rasulullah SAW sangat menganjurkan puasa Arafah.
Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Puasa Hari Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim)
Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan Hari Arafah bukan hanya dengan berdoa, tetapi juga memperbanyak ibadah lain seperti:
- puasa,
- zikir,
- membaca Al-Qur’an,
- dan sedekah.
Kadang suasana rumah juga terasa berbeda saat Hari Arafah tiba.
Televisi tetap menyala. Aktivitas tetap berjalan. Tetapi ada orang-orang yang diam-diam memperlambat langkah hidupnya hari itu.
Sekadar ingin lebih banyak berbicara dengan Allah.
Hari Ketika Banyak Orang Mendadak Lebih Jujur pada Dirinya Sendiri
Salah satu hal yang jarang dibahas tentang Hari Arafah adalah suasana emosionalnya.
Hari ini sering membuat orang lebih jujur terhadap dirinya sendiri.
Tentang rasa lelah yang selama ini disembunyikan.
Tentang doa yang belum terkabul.
Atau tentang harapan yang diam-diam masih terus disimpan meski sudah lama terasa mustahil.
Kadang doa paling tulus justru tidak keluar di tempat ramai.
Tetapi di kamar yang lampunya redup. Setelah semua orang tidur. Sambil memegang ponsel yang layarnya mulai gelap sendiri karena terlalu lama dipakai berdoa.
Dan anehnya, banyak orang merasa lebih lega setelahnya.
Hari Arafah Bukan Sekadar Tentang Permintaan
Dalam Islam, Hari Arafah juga menjadi pengingat bahwa manusia sebenarnya sangat kecil di hadapan Allah SWT.
Karena itu, doa pada hari ini bukan sekadar meminta.
Tetapi juga belajar berharap dengan ikhlas.
Belajar menerima.
Dan belajar percaya bahwa tidak semua hal harus dijawab secepat yang kita inginkan.
Kadang justru di Hari Arafah, seseorang mulai sadar bahwa yang paling ia butuhkan bukan jawaban cepat.
Melainkan hati yang lebih kuat untuk menjalani hidup.
Hari Arafah mungkin hanya datang sekali dalam setahun.
Tetapi bagi sebagian orang, satu doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh pada hari itu bisa mengubah cara mereka memandang hidup selamanya. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar