Dishub Tasikmalaya Jaga Ketat Jalan Gunungsari-Cipanas
- account_circle redaktur
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

Petugas Dishub berjaga di perempatan Jalan Gunungsari Cipanas Tasikmalaya, Selasa (12/5/2026). (Foto: Lintaspasundannews)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pagi di Perempatan Cipanas Galunggung Sukaratu, Selasa (12/5/2026), terasa sedikit berbeda. Udara masih dingin. Kabut tipis belum sepenuhnya hilang dari sekitar Kampung Nyalindung, Jawa Barat. Namun di sisi jalan, tiga petugas Dinas Perhubungan Kabupaten Tasikmalaya sudah berdiri sejak pagi sambil memperhatikan kendaraan yang melintas satu per satu.
Sesekali suara rem angin truk terdengar keras dari kejauhan. Lalu kendaraan besar itu melambat. Sopir membuka kaca, berbicara singkat dengan petugas, kemudian memutar arah.
Situasi seperti itu terus berulang sepanjang pagi.
Di titik tersebut kini berdiri papan peringatan cukup mencolok bertuliskan larangan kendaraan besar dengan lebar lebih dari 2,1 meter memasuki Jalur Gunungsari-Cipanas. Jalan yang selama beberapa waktu terakhir dikeluhkan warga karena cepat rusak itu akhirnya mulai dijaga ketat.
Langkah Dishub Kabupaten Tasikmalaya ini langsung menjadi perhatian masyarakat. Sebab sebelumnya, warga berkali-kali menyuarakan keluhan soal aktivitas kendaraan tambang pasir yang melintas hampir setiap hari.
Warga Sempat Pesimistis, Kini Mulai Percaya
Tidak sedikit warga yang awalnya mengaku pesimistis. Mereka sudah terlalu sering mendengar rencana pengawasan, tetapi kondisi jalan tetap rusak.
Aspal yang baru diperbaiki perlahan kembali retak. Di beberapa titik bahkan sempat bergelombang akibat kendaraan bertonase berat yang terus melintas.
Karena itu, suasana audiensi antara warga dan Dishub pada Senin lalu berlangsung cukup tegang. Forum Antasari bersama sejumlah tokoh masyarakat meminta pemerintah bergerak lebih serius.
Dan ternyata, sehari setelah pertemuan itu, petugas benar-benar turun ke lapangan.
“Kami lihat sendiri sekarang ada penjagaan. Ini yang warga tunggu sebenarnya,” kata Kristiawan, Koordinator Forum Antasari.
Menurut dia, masyarakat tidak pernah melarang aktivitas usaha berjalan. Namun warga juga ingin jalan desa tetap aman digunakan anak sekolah, pengendara motor, hingga mobil warga yang setiap hari melintas.
Apalagi jalur tersebut baru selesai dibangun beberapa bulan lalu.
Jalur Desa Tak Mau Lagi Jadi Korban
Kepala Desa Gunungsari, Susandi, tampak beberapa kali ikut memantau kondisi di sekitar lokasi penjagaan
Jalan Gunungsari Cipanas. Ia menyebut pengawasan ini menjadi langkah penting agar pembangunan jalan tidak kembali sia-sia.
Baginya, jalan desa bukan sekadar akses penghubung antarwilayah. Jalan itu dipakai warga untuk bekerja, membawa hasil pertanian, hingga aktivitas ekonomi harian.
“Kalau rusak lagi, yang paling terasa ya masyarakat kecil,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kondisi anggaran pemerintah yang saat ini harus digunakan seefisien mungkin. Karena itu, menjaga jalan yang sudah dibangun dianggap jauh lebih penting dibanding terus melakukan perbaikan berulang.
Di sisi lain, suasana di lokasi penjagaan juga mulai berubah. Jika sebelumnya kendaraan besar bebas melintas, kini banyak sopir memilih berhenti lebih dulu sebelum masuk jalur Gunungsari.
Sebagian terlihat berdiskusi singkat dengan petugas. Ada pula yang langsung memutar kendaraan tanpa banyak bicara.
Dishub Mulai Tunjukkan Langkah Nyata
Dishub Kabupaten Tasikmalaya membagi pengawasan menjadi dua sesi, mulai pukul 07.00 hingga 18.00 WIB. Pola itu dilakukan agar kendaraan tambang tidak lagi leluasa masuk pada jam-jam tertentu.
Warga menilai langkah tersebut jauh lebih terasa dibanding pengawasan sebelumnya yang hanya berlangsung sesaat.
Selain penjagaan langsung, muncul pula wacana pemasangan portal permanen sebagai solusi jangka panjang. Rencana itu masih dalam tahap kajian karena harus menyesuaikan aturan dan kebutuhan teknis di lapangan.
Meski begitu, masyarakat berharap pengawasan tidak berhenti setelah perhatian publik mereda.
Sebab bagi warga Gunungsari dan Tawangbanteng, persoalan ini bukan hanya soal jalan rusak. Ada rasa lelah karena bertahun-tahun melihat infrastruktur desa cepat hancur sementara aktivitas kendaraan besar terus berjalan.
Kini setidaknya ada tanda bahwa suara warga mulai benar-benar didengar.
Dan pagi itu, ketika satu per satu truk besar diminta putar balik di simpang Cipanas, banyak warga hanya berdiri memperhatikan dari pinggir jalan. Tidak bersorak. Tidak juga bertepuk tangan.
Tetapi dari wajah mereka, tampak ada rasa lega yang pelan-pelan kembali tumbuh.
Kadang warga desa tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin jalan yang dibangun dengan uang rakyat bisa bertahan lebih lama daripada debu dan roda truk yang setiap hari melindasnya. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar