Breaking News
light_mode
Beranda » Perspektif » Dulu Tak Bisa Komputer, Kini Jadi Desa Digital Nasional: Kisah Krandegan

Dulu Tak Bisa Komputer, Kini Jadi Desa Digital Nasional: Kisah Krandegan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • visibility 29
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, PERSPEKTIF – Di sebuah sudut Kabupaten Purworejo, ada satu desa yang dulu bahkan belum akrab dengan komputer. Tahun 2013, Desa Krandegan masuk kategori desa miskin. Perangkat desanya berjumlah belasan orang—dan tidak satu pun mampu mengoperasikan komputer.

Namun hari ini, desa itu dikenal sebagai desa digital. Transformasi digitalisasi desa dan perubahan berbasis teknologi bukan lagi wacana di sana. Ia hidup, digunakan setiap hari, dan dirasakan langsung oleh warganya.

Perubahan ini tidak datang dari kemewahan. Ia lahir dari keterbatasan.

Ketika Keterbatasan Justru Jadi Titik Awal

Krandegan tidak memulai dari kondisi ideal. Pelayanan publik masih manual. Informasi berjalan lambat. Akses teknologi hampir tidak ada.

Namun di tengah keterbatasan itu, muncul satu keputusan penting: berubah.

Perubahan dimulai perlahan. Belajar teknologi dari nol. Membangun sistem sederhana. Mengubah cara kerja yang sudah bertahun-tahun berjalan.

Prosesnya tidak cepat. Bahkan tidak mudah. Tetapi langkah kecil itu terus dijaga.

Hingga akhirnya, hasilnya mulai terlihat.

Lompatan yang Tak Banyak Disangka

Dalam waktu kurang dari satu dekade, Krandegan mengalami lonjakan yang sulit dipercaya.

Tahun 2020, desa ini mulai meraih penghargaan. Tahun 2022, statusnya berubah menjadi desa mandiri. Lalu sejak 2023 hingga sekarang, Krandegan dikenal sebagai salah satu percontohan desa digital di Indonesia.

Yang berubah bukan hanya status. Cara hidup masyarakat juga ikut berubah.

Warga tidak lagi harus datang ke kantor desa untuk mengurus administrasi. Layanan bisa diakses secara digital. Informasi terbuka. Proses menjadi cepat.

Dan yang paling terasa: masyarakat mulai terbiasa dengan teknologi.

Desa Digital: Bukan Sekadar Internet

Banyak orang mengira desa digital hanya soal jaringan internet. Namun Krandegan menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Teknologi di sana benar-benar digunakan untuk menjawab kebutuhan warga.

Sistem pelayanan online seperti SiPolgan mempermudah urusan administrasi. Portal desa membuka akses informasi. Bahkan keamanan lingkungan didukung CCTV online dan panic button.

Selain itu, teknologi juga masuk ke sektor lain. Pertanian mulai memanfaatkan IoT. Lingkungan dipantau dengan sistem peringatan dini. Komunikasi warga terhubung melalui kanal digital.

Dalam empat bulan saja hingga April 2026, akses layanan digital desa ini mencapai sekitar 1,4 juta kunjungan. Angka yang tidak kecil untuk ukuran desa.

Transparansi yang Mengubah Kepercayaan

Salah satu perubahan paling terasa adalah keterbukaan.

Anggaran desa, kegiatan, hingga keputusan pemerintah dapat diakses publik. Warga tidak lagi hanya menerima informasi, tetapi bisa ikut mengawasi.

Akibatnya, kepercayaan tumbuh. Partisipasi meningkat. Desa tidak lagi berjalan satu arah.

Perubahan ini menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya alat, tetapi jembatan antara pemerintah dan masyarakat.

Regulasi Membuka Jalan, Keberanian Menentukan Hasil

Transformasi seperti ini tidak berdiri sendiri. Ada kebijakan yang mendorong desa untuk berkembang.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memberi ruang kemandirian.
Prioritas Dana Desa membuka peluang inovasi.
Program Kemendes PDT (12 Aksi Prioritas) mendorong digitalisasi desa sebagai bagian pembangunan nasional.

Namun regulasi hanya membuka jalan. Yang menentukan hasil tetap pada keberanian untuk melangkah.

Krandegan memilih untuk melangkah.

Desa Lain Bisa, Jika Berani Memulai

Kisah Krandegan memberi pesan sederhana: tidak ada desa yang terlalu tertinggal untuk berubah.

Perbedaan bukan pada kondisi awal, tetapi pada keputusan untuk bergerak.

Digitalisasi desa bukan soal siapa yang paling siap. Justru sering dimulai oleh mereka yang berani mencoba.

Dan ketika langkah pertama diambil, perubahan mulai menemukan jalannya.

Krandegan membuktikan satu hal yang sering dilupakan: desa tidak berubah karena sudah siap, tetapi karena berani memulai—dan dari keberanian itulah masa depan dibangun. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi kalender hijriah global dengan peta dunia dan penentuan hilal secara internasional

    Muhammadiyah Gunakan Kalender Global, Hari Raya Bisa Serentak

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 44
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kalender hijriah global kini menjadi pendekatan baru yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam menetapkan hari raya Islam. Sistem ini, yang juga dikenal sebagai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), membawa perubahan besar dari metode lokal ke sistem global yang berlaku untuk seluruh dunia. Selain itu, metode ini tidak lagi bergantung pada batas negara. […]

  • Ilustrasi dramatis Perang Uhud dengan pasukan bertempur dan pemanah meninggalkan posisi strategis di bukit

    Perang Uhud: Saat Kemenangan di Depan Mata Jadi Kekalahan Menyakitkan

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 57
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Perang Uhud bukan sekadar kisah pertempuran biasa. Dalam Perang Uhud, atau pertempuran Uhud ini, kemenangan yang sudah hampir diraih justru berubah menjadi kekalahan yang menyakitkan. Peristiwa Perang Uhud menghadirkan satu realitas pahit: satu celah kecil bisa meruntuhkan segalanya dalam hitungan menit. Bayangkan situasinya—pasukan sudah unggul, lawan mulai mundur, dan harapan kemenangan terbuka […]

  • Kereta Petani dan Pedagang

    Pemerintah Terapkan Tarif Rp3.000 Kereta Petani dan Pedagang

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Kereta Petani dan Pedagang resmi beroperasi dengan tarif Rp3.000 melalui subsidi PSO untuk pelaku distribusi lokal. Layanan Transportasi Terjangkau, Pemerintah Tekan Biaya Distribusi Lokal albadarpost.com, LENSA – Kereta Petani dan Pedagang resmi beroperasi mulai 1 Desember 2025 dengan tarif Rp3.000. Kereta Petani dan Pedagang ini dirancang sebagai armada distribusi barang dan mobilitas pelaku usaha kecil […]

  • penolakan geothermal Cianjur

    Warga Cianjur Tagih Janji Bupati Tolak Geothermal di Kaki Gunung Gede

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Warga Cianjur menagih janji Bupati untuk menolak geothermal di kaki Gunung Gede yang dinilai mengancam lingkungan. albadarpost.com, LENSA – Ratusan warga dari berbagai kecamatan di lereng Gunung Gede-Pangrango, Cianjur, mendatangi Kantor Bupati Cianjur untuk menagih janji kepala daerah terkait penolakan geothermal Cianjur. Aksi yang berlangsung pada Rabu itu menjadi gelombang tuntutan terbaru atas pembangunan proyek […]

  • Asiyah istri Firaun

    Kisah Asiyah Istri Firaun, Pelindung Nabi Musa

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 56
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kisah Asiyah istri Firaun sering tenggelam di balik cerita besar Nabi Musa. Padahal, Asiyah, perempuan istana Mesir kuno yang juga dikenal sebagai istri Firaun, memainkan peran penting dalam menyelamatkan bayi Musa dari kebijakan kejam penguasa Mesir. Tanpa keberanian Asiyah istri Firaun, perjalanan hidup Nabi Musa mungkin berakhir bahkan sebelum dimulai. Peristiwa ini […]

  • Polisi Peduli Tasikmalaya

    Polisi Tasikmalaya Beli Al-Qur’an Pakai Gaji Sendiri, Warga Terharu

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 36
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Polisi Peduli di Kabupaten Tasikmalaya mendadak jadi perhatian warga setelah seorang anggota Bhabinkamtibmas di Kecamatan Tanjungjaya melakukan aksi yang jarang terjadi di lapangan. Seorang polisi turun langsung membawa kitab dan Al-Qur’an untuk santri, bahkan seluruhnya dibeli menggunakan uang pribadinya. Aksi Polisi Peduli Tasikmalaya yang dilakukan Aipda Arif Rachman ini berlangsung di […]

expand_less