Polisi Tasikmalaya Beli Al-Qur’an Pakai Gaji Sendiri, Warga Terharu
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Polisi Peduli di Kabupaten Tasikmalaya mendadak jadi perhatian warga setelah seorang anggota Bhabinkamtibmas di Kecamatan Tanjungjaya melakukan aksi yang jarang terjadi di lapangan. Seorang polisi turun langsung membawa kitab dan Al-Qur’an untuk santri, bahkan seluruhnya dibeli menggunakan uang pribadinya.
Aksi Polisi Peduli Tasikmalaya yang dilakukan Aipda Arif Rachman ini berlangsung di Masjid DKM Al Ishlah, Kampung Panugaran, Desa Cikeusal. Momen itu terjadi saat pengajian rutin bulanan, ketika suasana masjid sedang dipenuhi warga dan para santri.
Yang membuat suasana berubah haru, bantuan itu tidak datang dari program resmi, melainkan dari kantong pribadi sang polisi.
Suasana Pengajian Berubah Haru Saat Kitab Dibagikan
Awalnya kegiatan berjalan seperti biasa. Warga mengikuti pengajian bulanan dengan tenang. Namun suasana berubah ketika Aipda Arif mulai membagikan kitab dan Al-Qur’an kepada jemaah satu per satu.
Beberapa santri tampak terdiam sebelum menerima bantuan tersebut. Ada yang langsung tersenyum, ada pula yang menunduk haru.
Di tengah kesederhanaan desa, bantuan itu terasa sangat berarti. Banyak warga mengaku baru kali ini melihat aparat kepolisian hadir dengan cara yang begitu personal dan menyentuh.
Beli dari Gaji Sendiri, Bukan Program Formal
Fakta yang membuat warga semakin terkejut adalah sumber bantuan tersebut. Semua kitab dan Al-Qur’an yang dibagikan ternyata dibeli menggunakan uang pribadi Aipda Arif.
Ia mengaku sengaja menyisihkan sebagian gajinya untuk kegiatan sosial di desa binaannya. Bagi dirinya, kepedulian tidak harus menunggu perintah atau program formal.
“Saya hanya ingin membantu. Semoga bisa bermanfaat untuk warga dan santri dalam belajar agama,” ujarnya dengan sederhana.
Pernyataan singkat itu justru menjadi bagian paling kuat dari momen tersebut.
Dari Penjaga Keamanan Jadi Penggerak Sosial di Desa
Di mata warga, kehadiran polisi selama ini identik dengan tugas keamanan dan ketertiban. Namun di Cikeusal, gambaran itu sedikit bergeser.
Aipda Arif tidak hanya hadir saat ada masalah, tetapi juga ikut terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan warga.
Ia menilai pendekatan seperti ini penting untuk membangun kepercayaan. Sebab, hubungan antara polisi dan masyarakat tidak cukup hanya dibangun lewat tugas formal di lapangan.
“Kalau hubungan dekat, komunikasi juga lebih mudah. Itu yang saya jaga,” ungkapnya.
Warga Cikeusal Tak Menyangka, Apresiasi Mengalir
Warga Desa Cikeusal mengaku tidak menyangka aksi tersebut akan terjadi. Mereka terbiasa melihat bantuan datang dari program pemerintah atau lembaga resmi, bukan dari kantong pribadi aparat.
Sejumlah warga bahkan menyebut aksi itu sebagai contoh nyata kepedulian yang jarang ditemui.
Para santri merasa terbantu karena kitab dan Al-Qur’an tersebut langsung bisa digunakan untuk belajar. Bagi sebagian dari mereka, bantuan itu bukan hanya soal buku, tetapi juga semangat baru untuk memperdalam ilmu agama.
Polisi dan Warga, Jarak yang Mulai Menghilang
Aksi sederhana ini perlahan mengubah cara pandang warga terhadap aparat di desa mereka. Sekat formal antara polisi dan masyarakat terasa lebih cair.
Kehadiran Aipda Arif dalam kegiatan pengajian membuat warga merasa lebih dekat, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.
Pendekatan humanis seperti ini menunjukkan bahwa keamanan tidak selalu dibangun dengan ketegasan, tetapi juga dengan kedekatan sosial.
Keteladanan yang Lahir dari Desa Kecil
Dari sebuah desa di Tasikmalaya, muncul cerita yang menyebar cepat di kalangan warga. Bukan karena peristiwa besar, tetapi karena ketulusan kecil yang terasa nyata.
Seorang polisi memilih menyisihkan gajinya untuk membantu santri belajar agama. Tidak ada panggung besar, tidak ada seremoni, hanya niat sederhana yang berdampak langsung.
Cerita ini menjadi pengingat bahwa perubahan sosial sering kali dimulai dari langkah kecil di tingkat paling dekat dengan masyarakat.
Polisi Peduli Tasikmalaya melalui aksi Aipda Arif Rachman memperlihatkan sisi lain dari tugas kepolisian di lapangan. Di luar fungsi keamanan, hadir pula peran sosial yang menyentuh kehidupan warga secara langsung.
Di Cikeusal, satu tindakan kecil berhasil menghadirkan dampak besar: memperkuat hubungan, menumbuhkan kepercayaan, dan menghidupkan kembali makna kedekatan antara aparat dan masyarakat. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar