Kisah Inspiratif Lapas Tasikmalaya, Budidaya Lele dari Lahan Terbatas
- account_circle redaktur
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dukung Ketahanan Pangan, Lapas Tasikmalaya budidaya ikan lele, Selasa(28/4/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Budidaya lele Lapas Tasikmalaya menjadi perhatian setelah berhasil mencatat lima kali panen dalam tiga bulan terakhir. Program ketahanan pangan di lingkungan lapas tersebut bahkan berjalan di tengah keterbatasan lahan. Ember dan parit sempit yang sebelumnya tak dimanfaatkan kini berubah menjadi kolam produktif untuk budidaya ikan lele.
Langkah kreatif itu menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Selain mendukung kebutuhan pangan warga binaan, hasil panen juga dipakai untuk kegiatan sosial dan mendukung program makan bergizi di lingkungan lapas.
Lahan Sempit Disulap Jadi Kolam Lele Produktif
Lapas Kelas IIB Tasikmalaya memanfaatkan area terbatas untuk menjalankan budidaya lele secara mandiri. Warga binaan bersama petugas memanfaatkan ember besar dan parit kecil sebagai media pembesaran ikan.
Kasubsi Kegiatan Kerja Lapas Tasikmalaya, Arief Setiyo Budiarto, mengatakan seluruh proses budidaya dilakukan dengan usaha sendiri. Pihak lapas membeli indukan dan bibit lele dari luar karena belum mendapat bantuan khusus untuk pengembangan program tersebut.
“Kalau mengandalkan bantuan memang belum pernah. Bibit dan indukan kami beli sendiri,” ujar Arief, Selasa (28/4/2026).
Meski sederhana, metode itu justru membuahkan hasil yang konsisten. Dalam waktu tiga bulan, lapas berhasil melakukan panen hingga lima kali. Produktivitas tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas mampu mengatasi keterbatasan ruang.
“Lahan sempit, tapi alhamdulillah menghasilkan,” katanya.
Hasil Panen Dipakai untuk Dapur Lapas dan Korban Bencana
Panen lele dari dalam lapas ternyata tidak hanya dipakai untuk kebutuhan internal. Pada panen pertama, hasil budidaya langsung disumbangkan untuk korban bencana alam di Sumatra dan Aceh.
Langkah itu mendapat perhatian karena menunjukkan kepedulian sosial dari lingkungan warga binaan. Setelah penyaluran bantuan tersebut, hasil panen berikutnya diprioritaskan untuk kebutuhan dapur lapas.
Arief menjelaskan bahwa ikan lele hasil budidaya dipakai untuk mendukung kebutuhan makan warga binaan. Karena produksi masih terbatas, pihak lapas belum menjual hasil panen ke luar.
“Kami jual ke dapur lapas untuk memenuhi kebutuhan makan warga binaan. Ini mendukung program MBG,” jelasnya.
Program budidaya tersebut sekaligus membantu efisiensi kebutuhan pangan di dalam lapas. Selain itu, warga binaan juga mendapat pengalaman baru dalam pengelolaan budidaya perikanan skala kecil.
Pemkot Tasikmalaya Siap Beri Dukungan
Keberhasilan budidaya lele di balik jeruji besi mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Tasikmalaya. Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk membantu pengembangan program tersebut.
Menurutnya, program Sentra Usaha Lapas atau Sule memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas. Karena itu, pemerintah daerah berencana memberi dukungan agar budidaya lele dapat berjalan lebih optimal.
“Kami dari Pemkot akan mendukung penuh program Sule agar budidaya lele ini semakin besar,” ujar Diky.
Dukungan pemerintah diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas manfaat program pembinaan warga binaan.
Budidaya Lele Jadi Simbol Pembinaan dan Ketahanan Pangan
Program budidaya lele di Lapas Tasikmalaya tidak hanya soal panen ikan. Di balik kegiatan tersebut, ada proses pembinaan yang terus berjalan bagi warga binaan.
Mereka belajar bekerja sama, mengelola usaha sederhana, hingga memahami proses budidaya dari awal sampai panen. Aktivitas itu juga menciptakan suasana produktif di lingkungan lapas.
Selain itu, program ini memperlihatkan bagaimana ketahanan pangan dapat dimulai dari langkah kecil. Ember bekas dan parit sempit yang sebelumnya tidak bernilai kini berubah menjadi sumber pangan dan harapan baru.
Di tengah keterbatasan ruang, Lapas Tasikmalaya justru mampu menunjukkan inovasi yang nyata. Hasilnya bukan hanya terlihat dari panen lele yang terus berlangsung, tetapi juga dari tumbuhnya solidaritas dan semangat pembinaan di balik tembok lapas.
Ke depan, budidaya lele tersebut berpotensi menjadi contoh pengembangan ketahanan pangan berbasis lingkungan terbatas. Jika terus mendapat dukungan, program itu bisa berkembang menjadi model pembinaan produktif yang memberi manfaat luas bagi masyarakat maupun warga binaan sendiri. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar