Lapas Tasikmalaya Cetak Barista, Kopinya Bersaing dengan Kafe
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Walikota Tasikmalaya Rd diky Candranegara ungkap kopi Gallery of Haskana mantap, Senin(27/4/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kopi warga binaan dari Lapas Klas IIB Tasikmalaya kini mencuri perhatian. Produk yang juga dikenal sebagai kopi narapidana dan kopi hasil pembinaan lapas ini tidak hanya dikonsumsi internal, tetapi sudah menembus pasar luar, termasuk hotel di Tasikmalaya.
Fenomena ini muncul dari program Giat Bina Mandiri yang dijalankan secara serius. Program tersebut mengubah masa pidana menjadi masa produktif melalui pelatihan keterampilan berbasis industri, salah satunya barista kopi.
Di dalam ruang pelatihan, suara mesin espresso dan grinder terdengar bersahutan. Aroma kopi segar mengisi ruangan, menciptakan suasana yang tidak biasa untuk sebuah lembaga pemasyarakatan.
Dilatih dari Nol hingga Jadi Barista
Program ini tidak berjalan setengah-setengah. Warga binaan dilatih mulai dari dasar. Mereka belajar mengenali jenis biji kopi, teknik roasting, proses grinding, hingga kalibrasi mesin espresso.
Selain itu, mereka juga diajarkan teknik latte art yang membutuhkan ketelitian dan konsistensi. Semua pelatihan dilakukan dengan pendampingan barista profesional yang rutin datang ke lapas.
Pelaksana Harian Kepala Lapas, Yadi Suryaman, menegaskan bahwa program ini menjadi bagian dari perubahan paradigma pemasyarakatan.
“Di sini bukan hanya menjalani hukuman. Mereka belajar, berkarya, dan dipersiapkan untuk mandiri,” ujarnya.
Menurutnya, hasil dari program ini sudah terlihat nyata. Produk kopi yang dihasilkan warga binaan kini mulai diterima pasar.
Kopi Haskana Tembus Hotel, Kualitas Diakui
Brand Gallery of Haskana menjadi wadah utama pemasaran produk kopi tersebut. Nama ini merupakan singkatan dari “Hasil Karya Narapidana”.
Kopi racikan warga binaan bahkan sudah masuk ke beberapa hotel di Tasikmalaya. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas produk tidak bisa dipandang sebelah mata.
Seorang peserta pelatihan mengaku awalnya tidak memiliki pengalaman sama sekali di dunia kopi. Kini, ia mampu meracik espresso hingga membuat latte art dengan tangan yang lebih terampil.
“Dulu hidup saya pahit. Sekarang saya belajar bikin pahit yang enak,” katanya sambil tersenyum.
Pernyataan itu mencerminkan perubahan yang terjadi, bukan hanya pada keterampilan, tetapi juga pada cara pandang terhadap masa depan.
Pemerintah Dorong Naik Kelas dan Perluas Pasar
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, turut mencicipi langsung kopi hasil racikan warga binaan. Ia mengapresiasi kualitas produk tersebut.
“Rasanya tidak kalah dengan coffee shop. Ini bukti bahwa pembinaan berjalan efektif,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar produk kopi ini naik kelas. Menurutnya, penguatan branding, kemasan, dan jalur pemasaran menjadi langkah penting agar produk bisa bersaing lebih luas.
“Pemkot siap membantu. Publik harus tahu bahwa karya warga binaan memiliki kualitas,” tegasnya.
Lebih dari Sekadar Kopi, Ini Tentang Kesempatan Kedua
Program ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membuka peluang baru bagi warga binaan. Mereka tidak lagi hanya menunggu masa bebas, tetapi mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya.
Keterampilan yang diperoleh menjadi bekal nyata. Dengan kemampuan tersebut, mereka memiliki peluang untuk bekerja atau membuka usaha sendiri.
Selain itu, program ini juga mengubah persepsi masyarakat. Warga binaan tidak lagi dilihat hanya dari masa lalunya, tetapi juga dari potensi yang dimiliki.
Gallery of Haskana Jadi Simbol Perubahan
Kini, kopi warga binaan dari Gallery of Haskana tidak hanya menjadi produk, tetapi juga simbol perubahan. Dari biji kopi, lahir cerita baru tentang harapan dan kesempatan kedua.
Di balik tembok lapas, proses itu berlangsung perlahan. Setiap cangkir kopi yang disajikan membawa pesan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi.
Program Giat Bina Mandiri di Lapas Tasikmalaya menunjukkan bahwa pembinaan dapat menghasilkan dampak nyata. Melalui pelatihan barista, warga binaan tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga membangun masa depan.
Kopi yang mereka racik kini telah menembus pasar, bahkan masuk ke hotel. Hal ini menjadi bukti bahwa kesempatan kedua dapat diwujudkan melalui pembinaan yang tepat.
Dari dalam lapas, aroma kopi itu terus mengepul—membawa harapan yang perlahan tumbuh. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar