Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » “Ibu Bayi” dan Lingkar Sunyi di Tasikmalaya

“Ibu Bayi” dan Lingkar Sunyi di Tasikmalaya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
  • visibility 91
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Polisi mengungkap ibu bayi sebagai pelaku penemuan di Tasikmalaya. Tekanan sosial jadi motif. Proses hukum masih berjalan.

albadarpost.com, HUMANIORA – Tangis bayi di Kampung Panyiraman bukan hanya suara dari tubuh mungil yang baru lahir. Ia adalah tanda adanya kegentingan diam-diam yang membelit perempuan desa: beban moral, tekanan sosial, dan hukum keluarga yang tidak hadir ketika dibutuhkan. Di Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, seorang perempuan memilih berpura-pura menjadi “penemu” bayi demi bertahan dari stigma dan menjaga reputasi keluarga.

Polisi akhirnya mengungkap: sang penemu adalah ibu bayi sendiri. Tidak ada drama liar dari luar, tidak ada orang tak dikenal yang membuang bayi. Hanya perempuan yang terjebak antara norma sosial dan kenyataan personal.


Tekanan Sosial: Moralitas Publik yang Menggulung Perempuan

Di wilayah pedesaan, kehamilan tanpa pernikahan sering dianggap aib, bukan peristiwa biologis. Status ibu tunggal disimplifikasi sebagai kesalahan personal. Perempuan dikunci dalam pertanyaan: “Kau malu kepada siapa?” Jawabannya selalu dua: keluarga dan tetangga.

Dalam kasus Salopa, calon suami yang berjanji bertanggung jawab justru menghilang setelah mengetahui kehamilan. Di banyak desa lain, pola ini repetitif: pria mengambil keuntungan seksual, perempuan menanggung konsekuensi sosial. Ketika laki-laki mengingkari, tanggung jawab berpindah ke ranah privat perempuan.

Di titik inilah ibu bayi kehilangan ruang legal dan emosional. Ia tidak tahu harus menjelaskan kehamilan pada siapa, tidak punya akses psikolog, tidak punya perlindungan hukum keluarga. Pilihannya: menyembunyikan fakta, lalu menciptakan skenario “penemuan”.

Baca juga: Polisi Dalami Penemuan Jasad Bayi di Toilet Stasiun Citayam

Skenario itu bukan sekadar tipuan. Ia adalah cara paling sederhana mengaktifkan sistem sosial: orang akan peduli, pemerintah akan bergerak, tenaga kesehatan akan datang. Ringkasnya, masyarakat akan menolong bayi, bukan menilai perempuan. Ini tragis, tetapi logis di desa yang menempatkan kehormatan sebagai mata uang utama.


Jejak Medis: Hipotermia dan Konsekuensi Klinis

Bayi ditemukan dalam kantong plastik hitam, dibalut kain putih, tali ari-ari masih menempel. Kondisi hipotermia bukan tanda niat membunuh, tetapi keterbatasan pengetahuan ibu. Setelah persalinan mandiri, ia tidak memahami prosedur medis dasar: pembersihan luka, pemotongan tali pusat steril, pengaturan suhu tubuh.

Aparat medis di puskesmas Salopa menangani bayi sesuai protokol kegawatdaruratan. Tubuh bayi dipanaskan bertahap, cairan diberikan, pemantauan napas dilakukan. Kondisi bayi membaik. Pada titik ini, negara hadir. Tetapi di titik sebelum itu—saat perempuan mengandung, kehilangan pasangan, menanggung rasa malu—negara absen.


Perspektif Polisi: Penegakan Hukum yang Berhadapan dengan Moralitas Lokal

Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya, AKP Ridwan Budiarta, menyebut tim penyidik berhati-hati menentukan langkah hukum. Kasus ini bisa dikategorikan sebagai penelantaran anak. Namun ada faktor penyangga: kondisi mental, rasa takut, dan motif penyelamatan.

Baca juga: Bupati Tasikmalaya Lantik 4.555 PPPK Paruh Waktu, Evaluasi Kinerja Jadi Kunci

Polisi menimbang kemanfaatan publik. Hukuman keras dapat menghancurkan dua hidup sekaligus: ibu dan bayi. Jika hukuman dipaksakan tanpa mempertimbangkan struktur sosial yang menjerat pelaku, penegakan hukum berubah menjadi balas dendam moral, bukan jaminan keadilan.


Hukum Keluarga: Lubang Besar di Indonesia

Indonesia tidak memiliki instrumen hukum keluarga yang memadai untuk perempuan dalam situasi hamil tanpa dukungan pasangan. Pasal-pasal terkait penelantaran anak ada, tetapi perlindungan terhadap ibu nyaris minim. Ayah biologis yang menghilang jarang dijerat kecuali ada gugatan perdata atau pembuktian DNA, yang keduanya membutuhkan akses hukum.

Sistem dukungan psikologis di tingkat kecamatan tidak pernah menjadi prioritas. Puskesmas memiliki program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), tetapi sifatnya preventif, bukan remedial terhadap stigma sosial. Dalam kasus seperti Salopa, ibu tidak masuk ke sistem karena rasa malu lebih kuat daripada prosedur administrasi.

Kasus ini mengungkap jurang: negara hadir untuk bayi setelah ia lahir, tetapi gagal hadir bagi perempuan saat ia mengandung.


Desa, Gosip, dan Rasa Takut

Di desa kecil, rahasia bukan benda yang bisa disimpan. Obrolan warung, mushala, arisan ibu-ibu, semua ikut menentukan sistem hukuman sosial. Perempuan yang hamil tanpa suami akan kehilangan ruang aman dalam semalam. Tidak ada alternatif sosial kecuali menyembunyikan kehamilan.

Ketika bayi lahir, konsekuensi berubah menjadi konkret: status, nama keluarga, legitimasi sosial. Identitas anak memasuki dunia lewat dua pintu: pernikahan, atau keheningan. Di Salopa, ibu memilih keheningan. Ia menaruh bayi di ruang publik paling aman yang ia punya: halaman rumahnya sendiri.

Gestur itu keras. Tetapi dibandingkan membuang bayi ke sungai atau kebun, ia adalah bentuk permohonan bantuan.


Apa yang Seharusnya Dilakukan Negara?

Kasus-kasus seperti ini tidak tunggal. Di Indramayu, Garut, Purbalingga, skenario serupa berulang. Jika moral menjadi hakim, tidak ada ruang bagi rehabilitasi. Negara perlu membuat tiga intervensi konkrit:

  1. Konseling pasca-persalinan di tingkat puskesmas, bukan hanya ketika perempuan terdaftar sebagai ibu resmi.
  2. Jalur aduan perempuan tanpa identitas pasangan, yang menjamin kerahasiaan.
  3. Pemaknaan ulang hukum keluarga, dengan mekanisme memburu tanggung jawab ayah biologis, bukan menghukum ibu tunggal.

Perempuan tidak perlu memalsukan penemuan bayi jika sistem sosial menyediakan jaring yang tidak menghukumnya sejak awal.

Bayi di Tasikmalaya bukan korban “ibu kejam”. Ia korban sistem nilai yang meninggalkan perempuan sendirian. Ketika negara absen, perempuan menciptakan cara agar anaknya selamat. Tindakan itu mungkin salah secara hukum, tetapi ia mengungkap kerapuhan yang jauh lebih besar: kita masih menghukum perempuan lebih keras daripada laki-laki yang pergi.

Di desa seperti Salopa, lingkar sunyi perempuan tidak terlihat, sampai tangisan bayi memecah malam. (Red/Arrian)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelantikan IKAPTK Tasikmalaya 2025-2030 di hotel Kota Tasikmalaya dihadiri ASN dan pejabat untuk penguatan pelayanan publik

    Resmi Dilantik, IKAPTK Tasikmalaya Siap Tancap Gas Dukung Program Kota

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 112
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pelantikan Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) Tasikmalaya menjadi momen penting dalam penguatan korps kepamongprajaan di Priangan Timur. Kegiatan ini tidak hanya sekadar agenda formal, tetapi juga membawa semangat baru bagi para alumni kepamongprajaan untuk meningkatkan pelayanan publik. Sejak awal, pelantikan IKAPTK Tasikmalaya langsung menunjukkan arah yang jelas, yakni membangun […]

  • Nasabah PNM Mekaar menerima penghargaan Women’s Inspiration Awards 2026 atas keberhasilan mengembangkan usaha UMKM perempuan.

    Dulu Usaha Kecil, Kini Raih Penghargaan Nasional Berkat PNM Mekaar

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 110
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Program PT Permodalan Nasional Madani melalui PNM Mekaar kembali menunjukkan dampaknya terhadap pemberdayaan perempuan dan pengembangan UMKM Indonesia. Lewat pendampingan usaha, pelatihan, hingga dukungan sosial berbasis kelompok, sejumlah nasabah PNM Mekaar berhasil tumbuh dari usaha kecil menjadi inspirasi baru bagi perempuan Indonesia. Perjalanan para pelaku UMKM perempuan ini bahkan mengantarkan mereka […]

  • Raffi Ahmad Nusakambangan

    Raffi Ahmad Apresiasi Transformasi Nusakambangan Jadi Pusat Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan

    • calendar_month Rabu, 5 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Raffi Ahmad puji transformasi Nusakambangan jadi pusat ketahanan pangan dan pembinaan warga binaan. Raffi Ahmad Kagum Nusakambangan Jadi Pusat Ketahanan Pangan dan Pembinaan albadarpost.com, HUMANIORA – Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, menilai transformasi besar-besaran yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan di Cilacap, Jawa Tengah, sebagai langkah luar biasa. […]

  • pencurian ART

    Pencurian ART Rugikan Lansia Singapura Rp 1,3 Miliar

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 129
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Kasus pencurian ART di Singapura yang merugikan seorang lansia hingga Rp 1,3 miliar membuka persoalan yang lebih luas dari sekadar kejahatan individual. Peristiwa ini menyoroti lemahnya sistem perlindungan lansia dalam relasi kerja domestik, sekaligus menunjukkan bagaimana kebijakan pengawasan, literasi keuangan, dan penanganan adiksi belum sepenuhnya menjangkau ruang privat rumah tangga. Fakta […]

  • Libur Sekolah, 5 Jajanan Viral Anak Ini Mudah Dibuat

    Libur Sekolah, 5 Jajanan Viral Anak Ini Mudah Dibuat

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 54
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Jajanan viral anak menjadi salah satu tren yang ramai dibicarakan setiap kali libur sekolah tiba. Mulai dari corn dog, telur gulung, sosis crispy hingga minuman ala kafe, aneka camilan kekinian untuk anak kini banyak dicari karena tampil menarik dan menggugah selera. Di sisi lain, meningkatnya keinginan anak untuk membeli jajanan sering membuat […]

  • SPMB MIS Sukahurip

    SPMB MIS Sukahurip Dibuka, Gratis dan Penuh Prestasi

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 59
    • 0Komentar

    albadarpost.com, KOLABORASI – Suara anak-anak mengaji masih terdengar dari sejumlah rumah di Kampung Sukahurip, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tengah suasana kampung yang tenang itu, banyak orang tua mulai memikirkan satu hal penting menjelang tahun ajaran baru: memilih sekolah terbaik untuk putra-putri mereka. Pencarian informasi mengenai SPMB MIS Sukahurip, pendaftaran sekolah Islam Tasikmalaya, […]

expand_less