Pelan Tapi Pasti: UU PRT 2026 Ubah Cara Kita Memperlakukan PRT
- account_circle redaktur
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi buku UU PRT 2026.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Selama ini, banyak orang melihat pekerjaan rumah tangga sebagai sesuatu yang “ya sudah begitu saja”. Tidak perlu aturan rumit. Tidak perlu kesepakatan tertulis. Semuanya berjalan berdasarkan kebiasaan.
Lalu UU PRT 2026 hadir.
Dan tiba-tiba, hal-hal yang dulu terasa wajar mulai dipertanyakan. UU PRT 2026, perlindungan pekerja rumah tangga, dan hak PRT kini bukan sekadar istilah, tapi mulai masuk ke percakapan sehari-hari.
Jujur saja, perubahan ini terasa sedikit mengganggu—terutama bagi yang sudah nyaman dengan cara lama.
Dulu Biasa, Sekarang Jadi Masalah
Coba ingat lagi.
Berapa banyak PRT yang bekerja tanpa kontrak jelas?
Berapa banyak orang yang tidak pernah benar-benar menghitung jam kerja mereka?
Dulu, itu dianggap normal.
Sekarang, tidak lagi sesederhana itu.
UU PRT 2026 menegaskan bahwa hubungan kerja di rumah tetaplah hubungan kerja. Artinya, harus ada kesepakatan. Harus ada batas.
Dan di titik ini, sebagian orang mulai merasa, “Kok jadi ribet?”
Namun, jika kita memikirkannya dengan lebih tenang, kita mungkin menyadari bahwa selama ini kita terlalu longgar.
.
Hak PRT: Yang Selama Ini Dianggap ‘Bonus’
Ada satu hal yang menarik.
Banyak hak PRT yang sebenarnya bukan hal baru. Namun, dulu banyak orang menganggapnya sebagai “kebaikan tambahan”, bukan sebagai kewajiban.
Misalnya soal upah yang layak.
Atau waktu istirahat.
Atau sekadar hari libur.
Sekarang, semua itu punya dasar hukum.
Tidak bisa lagi bergantung pada niat baik semata.
Dan di sinilah perubahan terasa nyata—bukan pada aturan, tapi pada cara kita memandangnya.
Kewajiban Tetap Ada, Bukan Hanya Hak
Di sisi lain, UU PRT 2026 tidak menghapus tanggung jawab.
PRT tetap harus menjalankan pekerjaan sesuai kesepakatan.
Menjaga kepercayaan.
Menghormati aturan yang sudah disepakati bersama.
Ini penting untuk diingat.
Karena sering kali, ketika bicara soal hak, orang lupa bahwa hubungan kerja tetap butuh keseimbangan.
Tidak bisa berat sebelah.
Yang Berubah Sebenarnya Cara Pandang
Kita melihat dengan lebih dalam bahwa UU ini bukan sekadar soal aturan baru.
Yang berubah justru cara pandang kita.
Dulu, banyak yang menganggap pekerjaan rumah tangga sebagai “bantuan pribadi”.
Sekarang, mulai dilihat sebagai pekerjaan profesional.
Perbedaannya mungkin terasa tipis.
Tapi dampaknya besar.
Karena dari cara pandang itulah muncul perlakuan yang berbeda.
Realita di Lapangan: Tidak Langsung Mulus
Namun, perubahan tidak selalu berjalan rapi.
Di satu sisi, ada yang menyambut baik.
Di sisi lain, ada juga yang merasa aturan ini terlalu mengikat.
Sebagian mungkin bingung harus mulai dari mana.
Sebagian lagi memilih menunggu.
Itu wajar.
Setiap perubahan besar memang butuh waktu.
Pertanyaan yang Jarang Diucapkan
Banyak orang mungkin tidak mengucapkan satu pertanyaan ini, tetapi mereka sering memikirkannya:
Kalau aturan ini sudah ada sejak dulu, apakah kondisi PRT akan berbeda?
Tidak ada jawaban pasti.
Namun, setidaknya sekarang ada arah yang lebih jelas.
Dan itu sudah menjadi langkah awal yang penting.
Bukan Tentang Siapa yang Salah
Pada akhirnya, UU PRT 2026 bukan tentang menyalahkan masa lalu.
Ini lebih tentang memperbaiki ke depan.
Tidak semua orang langsung siap.
Tidak semua perubahan terasa nyaman.
Jika kita ingin mewujudkan keadilan, kita memang harus memulainya dari sini.
Pelan-pelan saja. Yang penting bergerak. (Redaksi)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar