Hari Ini Rawat Alam, Besok Alam Jaga Kita: Momen Menggetarkan di Tasikmalaya
- account_circle redaktur
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Bupati Tasikmalaya, H. Asep Sopari Al Ayubi, S.P., M.I.P.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Udara pagi di kawasan Gunung Kokosan Kelurahan Cibunigeulis Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, terasa berbeda pada peringatan Hari Bumi 2026, Rabu 22 April 2026. Di tengah hijaunya pepohonan dan gemericik air, gaung ngarumat hulu cai menggema—bukan sekadar seremoni, melainkan ajakan nyata menjaga sumber kehidupan: air.
Sejak awal kegiatan dimulai, pesan tentang pelestarian sumber daya air langsung terasa kuat. Ngarumat hulu cai, yang berarti merawat kawasan hulu, menjadi simbol gerakan menjaga lingkungan, melindungi ekosistem, sekaligus memastikan masa depan tetap memiliki air bersih.
Dari Seremoni ke Aksi Nyata
Kegiatan ini tidak berhenti pada pidato. Peserta langsung terlibat dalam berbagai aksi—mulai dari edukasi lingkungan, membersihkan area, hingga penanaman pohon.
Langkah-langkah sederhana itu terlihat kecil. Namun jika dilakukan bersama, dampaknya bisa besar. Karena itu, suasana kegiatan terasa hangat sekaligus penuh kesadaran.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi, menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan tugas satu pihak saja.
“Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan Pemerintah Kota Tasikmalaya selalu ingin bersinergi membangun masyarakat yang sejahtera,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menanam dan merawat pohon. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi berikutnya.
Hulu Adalah Awal Segalanya
Banyak orang fokus pada hilir—banjir, kekeringan, atau krisis air. Namun kegiatan ini justru menyoroti hulu sebagai akar persoalan sekaligus solusi.
Ketika hutan di hulu terjaga, air akan tetap mengalir. Sebaliknya, jika kawasan hulu rusak, dampaknya akan terasa ke mana-mana.
Karena itu, pendekatan berbasis kearifan lokal seperti ngarumat hulu cai menjadi sangat relevan. Nilai tradisional ini tidak hanya berbicara soal alam, tetapi juga tentang tanggung jawab bersama.
Kolaborasi Dua Wilayah, Satu Tujuan
Kehadiran Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Chandra Negara, sebagai tuan rumah membuat suasana acara begitu hangat dan penuh keakraban.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa isu lingkungan tidak mengenal batas wilayah. Air mengalir tanpa melihat garis administratif, sehingga upaya menjaganya pun harus dilakukan bersama.
Dengan adanya sinergi ini, pesan yang disampaikan menjadi lebih kuat: menjaga alam adalah urusan semua pihak.
Kalimat Sederhana yang Mengena
Di tengah kegiatan, satu kalimat dari Asep Sopari terasa paling membekas:
“Hari ini kita merawat alam, dan besok kita akan dirawat oleh alam.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun maknanya dalam. Ia mengingatkan bahwa hubungan manusia dan alam bersifat timbal balik.
Jika manusia menjaga alam, alam akan memberikan kehidupan. Tetapi jika diabaikan, dampaknya juga akan kembali kepada manusia.
Dari Gerakan Jadi Kebiasaan
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Sebaliknya, gerakan ini diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari.
Selain itu, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama. Tanpa partisipasi aktif, upaya pelestarian lingkungan hanya akan menjadi wacana.
Karena itu, edukasi terus didorong. Generasi muda perlu memahami bahwa menjaga alam bukan tren sesaat, melainkan kebutuhan jangka panjang.
Lebih dari Sekadar Peringatan Hari Bumi
Apa yang terjadi di Gunung Kokosan bukan hanya peringatan simbolis. Ada kesadaran yang perlahan tumbuh—bahwa menjaga alam tidak bisa ditunda.
Ngarumat hulu cai akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan. Ia berubah menjadi gerakan kolektif, yang mengajak semua orang untuk kembali peduli.
Dan mungkin, dari langkah kecil seperti menanam pohon hari ini, masa depan yang lebih baik sedang disiapkan. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar