Dihantam Retribusi, 800 Ruko Cikurubuk Tasikmalaya Jadi “Kuburan”
- account_circle redaktur
- calendar_month 23 jam yang lalu
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (Hipatas), Ahmad Jahid.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Retribusi Pasar Cikurubuk melonjak tajam dan langsung memukul aktivitas perdagangan di Pasar Induk Cikurubuk. Kenaikan retribusi pasar ini—yang oleh pedagang disebut mencapai 80 persen—mendorong eksodus besar-besaran. Akibatnya, sekitar 800 ruko kini kosong, terutama di zona jongko pakaian, sandal, dan fashion.
Sejak kebijakan itu berlaku, kondisi pasar berubah drastis. Arus pembeli menurun, sementara pedagang memilih angkat kaki. Banyak kios ditinggalkan karena biaya operasional tidak lagi sebanding dengan pendapatan harian.
Pedagang Tertekan, Penjualan Anjlok
Ketua Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (Hipatas), Ahmad Jahid, menilai situasi sudah berada di titik kritis. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak sekadar soal kenaikan biaya, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup pedagang.
“Kalau dipaksa bayar retribusi naik, ini bukan lagi soal untung rugi. Ini soal hidup mati keluarga,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Di lapangan, pedagang mengaku dagangan sering tidak laku hingga menjelang siang. Bahkan, hingga pukul 11.00 WIB, banyak kios belum mencatat transaksi berarti. Kondisi ini menunjukkan penurunan daya beli sekaligus berkurangnya kunjungan konsumen.
Selain itu, suasana pasar dinilai tidak lagi nyaman. Pembeli cenderung menghindari lokasi yang sepi dan tidak terawat. Dampaknya, perputaran ekonomi di pasar semakin melambat.
800 Ruko Kosong, Pasar Kehilangan Daya Tarik
Fenomena ruko kosong menjadi indikator paling nyata dari tekanan yang dialami pedagang. Area yang sebelumnya ramai kini terlihat lengang. Beberapa pemilik bahkan mencoba menjual atau menyewakan kiosnya, tetapi tidak mendapat respons.
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa Pasar Cikurubuk sedang kehilangan daya tariknya sebagai pusat perdagangan utama di Tasikmalaya. Ketika aktivitas ekonomi menurun, efek berantai pun muncul, mulai dari berkurangnya tenaga kerja hingga melemahnya sektor pendukung.
Sementara itu, pedagang yang masih bertahan harus beradaptasi dengan situasi sulit. Mereka menekan biaya, mengurangi stok, dan berharap kondisi segera membaik.
Protes Pedagang Menguat, Minta Tarif Ditinjau Ulang
Hipatas terus mendorong dialog dengan pemerintah. Mereka telah melakukan audiensi ke DPRD, pemerintah kota, dan dinas terkait. Namun hingga kini, keputusan revisi tarif belum juga muncul.
Menurut Jahid, pedagang tidak menolak retribusi. Mereka hanya meminta kebijakan yang realistis dan sesuai kondisi pasar. “Kalau tarif lama diberlakukan, pedagang siap bayar. Tapi kalau sekarang, kami merasa dicekik,” katanya.
Selain itu, pedagang juga menyoroti proses penyusunan Perda yang dinilai minim partisipasi. Mereka mengaku tidak dilibatkan dalam pembahasan, padahal kebijakan tersebut berdampak langsung pada usaha mereka.
Ketimpangan Kebijakan dan Dampaknya ke Ekonomi Rakyat
Kenaikan retribusi di tengah pasar yang sepi memunculkan pertanyaan besar. Di satu sisi, pemerintah menaikkan tarif untuk meningkatkan pendapatan daerah. Namun di sisi lain, kondisi riil di lapangan justru menunjukkan penurunan aktivitas ekonomi.
Ketidakseimbangan ini berpotensi mempercepat penurunan fungsi pasar tradisional. Jika pedagang terus keluar, maka ruang ekonomi rakyat akan semakin menyempit.
Lebih jauh, situasi ini juga berdampak pada masyarakat luas. Pasar tradisional selama ini menjadi tempat utama distribusi kebutuhan sehari-hari. Ketika pasar melemah, harga dan akses barang bisa ikut terpengaruh.
Antara Kebijakan dan Realitas Lapangan
Kasus Retribusi Pasar Cikurubuk menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan dapat berdampak langsung pada ekonomi rakyat. Kenaikan tarif tanpa mempertimbangkan kondisi lapangan berisiko mempercepat penurunan aktivitas perdagangan.
Kini, semua mata tertuju pada langkah pemerintah selanjutnya. Apakah tarif akan ditinjau ulang, atau kondisi pasar akan terus memburuk?
Bagi para pedagang, jawabannya tidak bisa ditunda. Karena bagi mereka, ini bukan sekadar angka—melainkan soal bertahan hidup. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar