Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Dihantam Retribusi, 800 Ruko Cikurubuk Tasikmalaya Jadi “Kuburan”

Dihantam Retribusi, 800 Ruko Cikurubuk Tasikmalaya Jadi “Kuburan”

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
  • visibility 191
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – Retribusi Pasar Cikurubuk melonjak tajam dan langsung memukul aktivitas perdagangan di Pasar Induk Cikurubuk. Kenaikan retribusi pasar ini—yang oleh pedagang disebut mencapai 80 persen—mendorong eksodus besar-besaran. Akibatnya, sekitar 800 ruko kini kosong, terutama di zona jongko pakaian, sandal, dan fashion.

Sejak kebijakan itu berlaku, kondisi pasar berubah drastis. Arus pembeli menurun, sementara pedagang memilih angkat kaki. Banyak kios ditinggalkan karena biaya operasional tidak lagi sebanding dengan pendapatan harian.

Pedagang Tertekan, Penjualan Anjlok

Ketua Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (Hipatas), Ahmad Jahid, menilai situasi sudah berada di titik kritis. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak sekadar soal kenaikan biaya, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup pedagang.

“Kalau dipaksa bayar retribusi naik, ini bukan lagi soal untung rugi. Ini soal hidup mati keluarga,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Di lapangan, pedagang mengaku dagangan sering tidak laku hingga menjelang siang. Bahkan, hingga pukul 11.00 WIB, banyak kios belum mencatat transaksi berarti. Kondisi ini menunjukkan penurunan daya beli sekaligus berkurangnya kunjungan konsumen.

Selain itu, suasana pasar dinilai tidak lagi nyaman. Pembeli cenderung menghindari lokasi yang sepi dan tidak terawat. Dampaknya, perputaran ekonomi di pasar semakin melambat.

800 Ruko Kosong, Pasar Kehilangan Daya Tarik

Fenomena ruko kosong menjadi indikator paling nyata dari tekanan yang dialami pedagang. Area yang sebelumnya ramai kini terlihat lengang. Beberapa pemilik bahkan mencoba menjual atau menyewakan kiosnya, tetapi tidak mendapat respons.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa Pasar Cikurubuk sedang kehilangan daya tariknya sebagai pusat perdagangan utama di Tasikmalaya. Ketika aktivitas ekonomi menurun, efek berantai pun muncul, mulai dari berkurangnya tenaga kerja hingga melemahnya sektor pendukung.

Sementara itu, pedagang yang masih bertahan harus beradaptasi dengan situasi sulit. Mereka menekan biaya, mengurangi stok, dan berharap kondisi segera membaik.

Protes Pedagang Menguat, Minta Tarif Ditinjau Ulang

Hipatas terus mendorong dialog dengan pemerintah. Mereka telah melakukan audiensi ke DPRD, pemerintah kota, dan dinas terkait. Namun hingga kini, keputusan revisi tarif belum juga muncul.

Menurut Jahid, pedagang tidak menolak retribusi. Mereka hanya meminta kebijakan yang realistis dan sesuai kondisi pasar. “Kalau tarif lama diberlakukan, pedagang siap bayar. Tapi kalau sekarang, kami merasa dicekik,” katanya.

Selain itu, pedagang juga menyoroti proses penyusunan Perda yang dinilai minim partisipasi. Mereka mengaku tidak dilibatkan dalam pembahasan, padahal kebijakan tersebut berdampak langsung pada usaha mereka.

Ketimpangan Kebijakan dan Dampaknya ke Ekonomi Rakyat

Kenaikan retribusi di tengah pasar yang sepi memunculkan pertanyaan besar. Di satu sisi, pemerintah menaikkan tarif untuk meningkatkan pendapatan daerah. Namun di sisi lain, kondisi riil di lapangan justru menunjukkan penurunan aktivitas ekonomi.

Ketidakseimbangan ini berpotensi mempercepat penurunan fungsi pasar tradisional. Jika pedagang terus keluar, maka ruang ekonomi rakyat akan semakin menyempit.

Lebih jauh, situasi ini juga berdampak pada masyarakat luas. Pasar tradisional selama ini menjadi tempat utama distribusi kebutuhan sehari-hari. Ketika pasar melemah, harga dan akses barang bisa ikut terpengaruh.

Antara Kebijakan dan Realitas Lapangan

Kasus Retribusi Pasar Cikurubuk menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan dapat berdampak langsung pada ekonomi rakyat. Kenaikan tarif tanpa mempertimbangkan kondisi lapangan berisiko mempercepat penurunan aktivitas perdagangan.

Kini, semua mata tertuju pada langkah pemerintah selanjutnya. Apakah tarif akan ditinjau ulang, atau kondisi pasar akan terus memburuk?

Bagi para pedagang, jawabannya tidak bisa ditunda. Karena bagi mereka, ini bukan sekadar angka—melainkan soal bertahan hidup. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • nama jin dalam islam

    Nama-nama Jin Sering Disalahpahami: Ini Faktanya Menurut Hadis

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 260
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Nama jin dalam Islam sering dicari, mulai dari nama jin pengganggu, jenis jin dalam Islam, hingga qarin dalam Islam. Namun faktanya, tidak semua nama yang beredar di masyarakat benar-benar memiliki dasar dalam Al-Qur’an atau hadis sahih. Di Indonesia sendiri, banyak orang mengenal nama-nama jin tertentu dari cerita turun-temurun, bahkan dari media sosial. […]

  • Pinjol Darurat

    Ambulans Dipakai Tagih Pinjol, DPR RI Minta Debt Collector Ditindak

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 182
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Suara sirene ambulans biasanya membuat warga panik. Orang-orang memberi jalan karena mengira ada nyawa yang harus segera diselamatkan. Namun belakangan, fasilitas darurat itu justru diduga dipakai untuk kepentingan penagihan pinjaman online atau pinjol darurat. Kasus ini memantik kemarahan publik setelah muncul laporan tentang debt collector yang memanfaatkan layanan ambulans dan pemadam […]

  • Musim Kemarau Islam

    Musim Kemarau dalam Islam, Pelajaran dari Nabi Yusuf

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 133
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Di tengah musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia, kekhawatiran terhadap berkurangnya pasokan air, menurunnya hasil pertanian, hingga ancaman kekeringan kembali menjadi perhatian masyarakat. Dalam ajaran Islam, musim kemarau dapat dipahami sebagai salah satu ujian kehidupan sekaligus momentum untuk memperkuat ikhtiar, kesabaran, dan ketakwaan kepada Allah SWT. Perspektif tersebut tercermin […]

  • Cendekia: Ruang Ilmu, Ruang Pencerahan

    Cendekia: Ruang Ilmu, Ruang Pencerahan

    • calendar_month Kamis, 18 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 131
    • 0Komentar

    albadarpost.com – CENDEKIA. Rubrik Cendekia di albadarpost.com hadir sebagai ruang yang menyalakan api pengetahuan dan semangat literasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Nama “Cendekia” dipilih bukan sekadar sebagai simbol kaum terpelajar, tetapi juga sebagai pengingat bahwa setiap manusia memiliki hak untuk belajar, berpikir, dan berkembang tanpa dibatasi oleh keadaan sosial maupun ekonomi. Dalam konteks perjuangan sosial, […]

  • Kasus KTP Cianjur: Status Kewarganegaraan Aron Geller Dipersoalkan

    Kasus KTP Cianjur: Status Kewarganegaraan Aron Geller Dipersoalkan

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Kuasa hukum bantah KTP Cianjur palsu atas nama Aron Geller dan ajukan gugatan ke Dewan Pers. albadarpost.com, LENSA – Isu KTP Cianjur yang menampilkan identitas warga negara Israel memicu kegaduhan publik. Nama Aron Geller atau AG terseret dalam unggahan media sosial yang menampilkan foto kartu tanda penduduk dengan logo Disdukcapil Kabupaten Cianjur. Publik meragukan validitas […]

  • Kontingen Garut Popwilda 2026

    Bupati Syakur Lepas Kontingen Garut, Silat dan Sepak Bola Jadi Tumpuan Medali

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 153
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kontingen Garut Popwilda 2026 resmi dilepas oleh Bupati Garut Abdusy Syakur Amin dalam sebuah momen yang sarat semangat dan harapan. Pelepasan atlet pelajar terbaik Kabupaten Garut ini menjadi simbol kesiapan daerah untuk bersaing di ajang Pekan Olahraga Pelajar Wilayah Daerah (Popwilda) Jawa Barat 2026. Selain membidik prestasi olahraga, Garut juga membawa […]

expand_less