Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Ketika Atasan Memilih Diam Padahal Sudah Terima Laporan

Ketika Atasan Memilih Diam Padahal Sudah Terima Laporan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
  • visibility 136
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, EDITORIAL – Di banyak kantor pemerintahan—dan juga di berbagai organisasi—cerita tentang korupsi sering kali dimulai dari bawah. Seorang staf bermain anggaran. Pejabat teknis memanipulasi laporan. Proyek disulap menjadi ladang keuntungan pribadi.
Namun dalam banyak kasus, cerita itu tidak berhenti pada pelaku utama. Ia merambat naik, perlahan, menuju meja pimpinan.

Pertanyaannya sederhana: jika atasan sudah menerima laporan indikasi korupsi tetapi memilih diam, apakah ia juga bisa terjerat hukum?

Jawaban hukumnya: bisa.

Diam Bukan Selalu Netral

Dalam kehidupan sehari-hari, diam sering dianggap netral. Orang tidak bicara, berarti tidak terlibat.
Namun dalam hukum—terutama ketika seseorang memegang kewenangan jabatan—diam tidak selalu berarti netral. Dalam banyak situasi, diam justru dapat dipandang sebagai pembiaran yang memiliki konsekuensi hukum.

Seorang pimpinan bukan sekadar pengamat. Ia adalah pengendali sistem.
Ketika laporan penyimpangan sudah sampai ke meja pimpinan, secara moral dan administratif sebenarnya ada kewajiban yang melekat: memeriksa, meminta klarifikasi, memerintahkan audit, menghentikan kegiatan yang bermasalah, atau bahkan melaporkannya kepada aparat penegak hukum.

Jika semua itu tidak dilakukan, maka pertanyaan berikutnya muncul: apakah itu sekadar kelalaian, atau pembiaran yang disengaja?

Hukum Tidak Hanya Mengejar Pelaku Langsung

Dalam hukum pidana, tanggung jawab tidak selalu berhenti pada orang yang secara langsung melakukan perbuatan.

Seseorang juga dapat dimintai pertanggungjawaban jika ia turut serta, membantu, atau dengan sadar membiarkan kejahatan terjadi padahal memiliki kewenangan untuk mencegahnya.

Dalam konteks birokrasi, posisi pimpinan memiliki dimensi tanggung jawab yang lebih besar. Ia memiliki akses informasi, kewenangan pengawasan, dan kekuatan administratif untuk menghentikan penyimpangan.

Ketika semua itu tidak digunakan, pembiaran bisa berubah menjadi bagian dari mekanisme kejahatan itu sendiri.

Penyalahgunaan Wewenang Tidak Selalu Berbentuk Tindakan

Korupsi sering dibayangkan sebagai tindakan aktif: mengambil uang, memotong anggaran, atau memanipulasi proyek.

Padahal dalam praktiknya, korupsi juga bisa lahir dari ketiadaan tindakan yang seharusnya dilakukan.

Seorang pejabat yang memiliki kewenangan untuk menghentikan kerugian negara tetapi memilih tidak bertindak dapat dinilai telah menyalahgunakan kewenangannya.

Dengan kata lain, korupsi tidak selalu terjadi karena seseorang terlalu aktif.
Kadang justru karena seseorang terlalu pasif pada saat yang seharusnya ia bertindak.

Budaya Diam yang Berbahaya

Masalah terbesar dalam birokrasi sering bukan pelaku tunggal, melainkan budaya diam yang terorganisir.

Semua orang tahu ada masalah.
Staf tahu.
Pejabat teknis tahu.
Atasan juga tahu.

Namun yang terjadi sering hanya bisik-bisik di lorong kantor. Tidak ada tindakan formal, tidak ada laporan resmi, tidak ada langkah korektif.

Budaya seperti ini melahirkan satu ekosistem berbahaya: korupsi menjadi kebiasaan, bukan lagi penyimpangan.

Dan dalam ekosistem seperti itu, pembiaran sering kali berubah menjadi bentuk perlindungan tidak langsung.

Ketika Diam Bukan Lagi Sekadar Diam

Situasinya menjadi jauh lebih serius ketika pembiaran itu ternyata bukan hanya soal menghindari konflik atau menjaga stabilitas kantor.

Apalagi kalau ternyata, diam-diam juga ikut kebagian.

Di banyak kasus korupsi, praktik yang paling sering muncul bukan hanya permainan anggaran di level teknis, tetapi juga aliran keuntungan yang mengalir ke atas secara sistematis.
Istilahnya bermacam-macam: setoran, uang koordinasi, uang pengamanan, hingga “jatah pimpinan”.

Dalam skema seperti ini, diam bukan lagi sikap pasif. Diam menjadi bagian dari transaksi.

Laporan penyimpangan yang masuk ke meja pimpinan tidak lagi diperlakukan sebagai alarm, tetapi sebagai pengingat bahwa sistem pembagian masih berjalan.

Ketika itu terjadi, garis antara pembiaran dan keterlibatan menjadi sangat tipis—bahkan sering kali sudah hilang sama sekali.

Baca juga: Makna Surah Al-Fil: Peringatan Abadi bagi Kekuasaan

Dan jika penyidik suatu hari membuka perkara tersebut, yang dicari bukan hanya siapa yang mengatur proyek atau memanipulasi laporan, tetapi juga siapa yang menikmati hasilnya.

Tanggung Jawab Kepemimpinan

Kepemimpinan bukan hanya soal mengambil keputusan besar atau memimpin rapat.

Kepemimpinan juga diuji
pada momen yang tidak nyaman: ketika harus menindak orang dekat, membuka masalah internal, atau menghentikan praktik yang selama ini dianggap “sudah biasa”.

Seorang pimpinan mungkin tidak ikut menandatangani dokumen fiktif. Ia mungkin tidak pernah memegang uangnya.

Namun jika ia mengetahui dan membiarkannya, publik tetap berhak mempertanyakan integritas kepemimpinannya.

Karena jabatan bukan hanya soal kewenangan.

Jabatan juga adalah tanggung jawab atas apa yang terjadi—dan apa yang dibiarkan terjadi—di bawahnya.

Diam yang Bisa Menjadi Bukti

Dalam banyak perkara korupsi, penyidik sering menemukan pola yang sama: pelaku lapangan tidak bekerja sendirian. Ada sistem yang membuat semuanya berjalan mulus.
Dan kadang sistem itu berdiri bukan karena perintah, tetapi karena ketiadaan larangan dari atas.

Di titik inilah pembiaran menjadi sangat berbahaya.
Ia tidak meninggalkan tanda tangan, tetapi meninggalkan jejak tanggung jawab. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ikhlas sabar syukur

    Perbedaan Ikhlas, Sabar, dan Syukur dalam Tasawuf

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 178
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Ikhlas, sabar, dan syukur sering disebut dalam ajaran Islam, tetapi banyak orang masih mencampurkan maknanya. Dalam perspektif tasawuf, ketiganya bukan sekadar sikap, melainkan maqam (tingkatan spiritual) yang berbeda. Pemahaman tentang ikhlas sabar syukur ini penting karena akan menentukan kualitas ibadah dan ketenangan batin seseorang. Lebih jauh, tasawuf menjelaskan bahwa perjalanan ruhani tidak […]

  • Stadion Piala Dunia 2026

    Stadion Piala Dunia 2026, Ada Cerita Maradona hingga Venue Futuristik

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 157
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Atmosfer Stadion Piala Dunia 2026 perlahan mulai terasa, bahkan ketika kick-off masih cukup jauh. FIFA sudah menetapkan 16 stadion di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai venue resmi World Cup 2026. Namun kali ini, yang menarik bukan cuma pertandingan. Ada kota yang mungkin tak tidur selama turnamen berlangsung. Ada stadion yang […]

  • Halalbihalal PKS Tasikmalaya 2026 di Ibadurahman Hall sebagai konsolidasi menuju target kemenangan Pemilu 2029

    PKS Tasikmalaya Tancap Gas! Target Suara 2 Kali Lipat di 2029

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 123
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – PKS Tasikmalaya 2029 mulai menunjukkan arah yang agresif. Momentum halal bihalal tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi berubah menjadi konsolidasi besar. Strategi politik PKS Tasikmalaya kini semakin terarah, sekaligus memperkuat posisi menuju Pemilu 2029. DPD PKS Kota Tasikmalaya memanfaatkan momen ini secara maksimal. Selain itu, acara yang bertepatan dengan Milad PKS […]

  • Sejarah BPK

    Sejarah BPK dan Arah Baru Pengawasan Keuangan Negara

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Perjalanan sejarah BPK dari 1947 hingga reformasi yang membentuk lembaga audit negara yang independen. albadarpost.com, PELITA – Kekuatan sebuah negara sering terlihat dari cara ia memperlakukan uang publik. Sejarah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menjadi contoh bagaimana arsitektur pengawasan negara dibentuk, diubah, dan disesuaikan dengan arah politik Indonesia sejak 1947. Perjalanan lembaga ini memperlihatkan bagaimana pengawasan […]

  • UMKM modal kecil

    7 Ide UMKM Modal Kecil 2026, Cocok Dimulai dari Rumah

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 163
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – UMKM modal kecil kini menjadi pilihan banyak orang yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus menyewa tempat usaha. Bahkan, usaha rumahan modal kecil semakin diminati karena fleksibel, mudah dijalankan, dan memiliki peluang keuntungan yang menjanjikan. Di tengah perkembangan ekonomi digital, ide UMKM modal kecil dari rumah bisa berkembang cepat jika dikelola […]

  • caregiver Indonesia

    Beban Caregiver Kian Berat di Tengah Minimnya Kebijakan Negara

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Caregiver Indonesia memikul beban perawatan lansia tanpa perlindungan negara di tengah tekanan keluarga. albadarpost.com, LIFESTYLE – Di banyak rumah, aktivitas dimulai jauh sebelum subuh. Ada warga yang bangun bukan untuk bekerja, melainkan mengganti popok orang tua, menyiapkan obat, atau memastikan alat bantu napas berfungsi. Mereka bukan tenaga kesehatan, tetapi menjadi penopang utama perawatan harian. Peran […]

expand_less