Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Jerat Pemerasan Jabatan dan Rusaknya Moral Oknum Aparatur

Jerat Pemerasan Jabatan dan Rusaknya Moral Oknum Aparatur

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
  • visibility 166
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA NASIONALPemerasan jabatan kembali menjadi sorotan publik karena praktik ini terus muncul dalam berbagai layanan pemerintahan. Tindak pidana pemerasan dalam jabatan atau penyalahgunaan wewenang oleh oknum pejabat tidak hanya merugikan korban secara materi, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Karena itu, isu pemerasan jabatan bukan sekadar persoalan hukum, melainkan persoalan moral dan integritas aparatur.

Fenomena ini sering terjadi secara tersembunyi. Namun demikian, dampaknya terasa nyata. Masyarakat kecil yang membutuhkan pelayanan cepat kerap berada pada posisi tertekan. Mereka menghadapi pilihan sulit: membayar agar urusan selesai atau menolak dan berisiko dipersulit.

Modus Pemerasan Jabatan yang Kian Variatif

Pemerasan jabatan biasanya bermula dari kewenangan formal yang dimiliki seorang pejabat. Akan tetapi, kewenangan tersebut berubah menjadi alat tekan ketika disertai ancaman terselubung. Misalnya, oknum aparat meminta sejumlah uang agar izin usaha segera terbit. Selain itu, ada pula kasus pemotongan bantuan sosial dengan dalih administrasi.

Praktik seperti ini sering dibungkus dengan istilah “uang rokok” atau “biaya percepatan”. Padahal, secara hukum, tindakan tersebut memenuhi unsur pemerasan dalam jabatan karena terdapat paksaan dan keuntungan pribadi. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami bahwa tindakan tersebut bukan budaya, melainkan pelanggaran serius.

Lebih jauh lagi, pemerasan jabatan menunjukkan lemahnya pengawasan internal. Jika sistem pengendalian berjalan efektif, ruang penyalahgunaan kekuasaan akan semakin sempit. Namun ketika kontrol longgar, celah pelanggaran terbuka lebar.

Ancaman Hukum dan Tanggung Jawab Moral

Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi secara tegas mengatur pemerasan dalam jabatan. Pelaku dapat menghadapi hukuman penjara hingga 20 tahun serta denda miliaran rupiah. Ketentuan ini menunjukkan bahwa negara memandang serius kejahatan tersebut.

Meski demikian, penegakan hukum tidak selalu mudah. Korban sering enggan melapor karena takut mendapatkan tekanan lanjutan. Selain itu, relasi kuasa antara pejabat dan masyarakat membuat posisi korban cenderung lemah. Karena itulah, perlindungan saksi dan pelapor menjadi sangat penting.

Di sisi lain, persoalan ini tidak bisa hanya diserahkan kepada aparat penegak hukum. Setiap pejabat publik memegang amanah yang harus dijaga. Ketika jabatan disalahgunakan, yang runtuh bukan hanya reputasi individu, melainkan wibawa institusi.

Dampak Sosial yang Lebih Luas

Pemerasan jabatan menimbulkan efek domino. Pertama, kepercayaan publik terhadap pemerintah menurun. Ketika masyarakat merasa diperas, mereka akan memandang pelayanan publik sebagai beban, bukan hak.

Baca juga: Menu Berbuka Hemat tapi Penuh Berkah, Wajib Coba!

Kedua, praktik ini menciptakan ketidakadilan. Warga yang mampu membayar akan mendapatkan kemudahan, sedangkan yang tidak mampu harus menunggu lebih lama. Akibatnya, kesenjangan sosial semakin tajam.

Ketiga, budaya integritas sulit tumbuh jika pemerasan dibiarkan. Pegawai yang jujur akan merasa terpinggirkan, sementara pelaku pelanggaran justru mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu, pembenahan sistem harus berjalan beriringan dengan penindakan tegas.

Mendesak Reformasi dan Transparansi

Untuk memutus mata rantai pemerasan jabatan, transparansi layanan menjadi kunci. Setiap biaya dan prosedur harus diumumkan secara terbuka. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui hak dan kewajibannya tanpa ruang abu-abu.

Selain itu, digitalisasi layanan publik mampu mengurangi interaksi langsung yang berpotensi menimbulkan penyalahgunaan. Sistem berbasis daring juga memudahkan pengawasan karena jejak transaksi tercatat dengan jelas.

Namun demikian, teknologi saja tidak cukup. Pendidikan etika dan penguatan integritas aparatur perlu dilakukan secara berkelanjutan. Ketika pejabat memahami bahwa jabatan adalah amanah, kecenderungan menyalahgunakan wewenang akan berkurang.

Lebih dari itu, partisipasi publik harus didorong. Masyarakat perlu berani melaporkan dugaan pemerasan jabatan melalui saluran resmi. Negara pun wajib menjamin keamanan pelapor agar tidak mengalami intimidasi.

Menjaga Wibawa Negara dari Praktik Pemerasan

Pada akhirnya, pemerasan jabatan adalah cermin rapuhnya integritas sebagian aparatur. Jika praktik ini terus terjadi, kepercayaan publik akan terkikis sedikit demi sedikit. Sebaliknya, ketika negara bertindak tegas, pesan kuat akan tersampaikan bahwa kekuasaan tidak boleh disalahgunakan.

Karena itu, pemberantasan pemerasan jabatan harus menjadi agenda bersama. Aparat penegak hukum perlu konsisten menindak pelaku tanpa pandang bulu. Sementara itu, pejabat publik harus menyadari bahwa jabatan bukan alat mencari keuntungan, melainkan sarana melayani.

Jika komitmen ini dijaga, pelayanan publik akan kembali pada tujuan utamanya: melindungi dan menyejahterakan masyarakat. Tanpa integritas, kekuasaan hanya akan menjadi sumber ketakutan. Namun dengan kejujuran, jabatan dapat menjadi jalan pengabdian yang bermartabat. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi sinematik pemimpin berpidato menggambarkan pesan Surah Al-Fil tentang kekuasaan, keadilan, dan kehancuran tirani

    Makna Surah Al-Fil: Peringatan Abadi bagi Kekuasaan

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 178
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Surah Al-Fil tidak hadir sebagai cerita sejarah semata. Sebaliknya, Al-Qur’an menghadirkannya sebagai cermin kekuasaan yang relevan di setiap zaman. Karena itu, kisah pasukan bergajah Abrahah tetap hidup ketika kita berbicara tentang pemerintahan, legitimasi, dan arah sebuah negara hari ini. Allah berfirman: “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?”(QS. Al-Fil: […]

  • Tumpukan sampah di Kota Tasikmalaya saat sukwan mogok kerja dan DPRD mendesak solusi cepat dari pemerintah.

    Krisis Sampah Tasikmalaya Meledak, Sukwan Mogok Kerja

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 111
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Krisis Sampah Tasikmalaya kembali menjadi sorotan setelah tumpukan sampah terlihat di sejumlah titik kota dalam beberapa hari terakhir. Persoalan sampah Kota Tasikmalaya itu memuncak saat para sukarelawan pemungut sampah atau sukwan menghentikan aktivitas mereka sebagai bentuk protes terhadap minimnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mereka. Dampaknya langsung terasa. Di beberapa sudut kota, […]

  • Tarif Listrik 2026

    Tarif Listrik dan Elpiji Awal 2026

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 239
    • 0Komentar

    Tarif listrik triwulan I 2026 dan harga elpiji non-subsidi dipastikan tetap demi jaga daya beli masyarakat. albadarpost.com, FOKUS – Awal tahun sering datang dengan dua hal: harapan dan kecemasan. Harapan karena kalender baru selalu memberi janji, kecemasan karena pengalaman mengajarkan satu hal—biaya hidup jarang mau diam. Maka ketika pemerintah memutuskan tarif listrik dan harga elpiji […]

  • Patroli Siber

    Patroli Siber Bongkar Modus Baru Judi Online

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Patroli siber Polri membongkar modus baru judi online memakai perusahaan fiktif untuk menyamarkan aliran dana ilegal. Patroli Siber Ungkap Modus Baru Judi Online albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Aparat kepolisian kembali mengungkap wajah baru kejahatan judi online di Indonesia. Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri membongkar penggunaan perusahaan fiktif sebagai alat penampung dan pencuci uang hasil […]

  • bawaslu-tasikmalaya

    Bawaslu Tasikmalaya Terkendala Bukti dan Saksi

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 50
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Bawaslu Tasikmalaya mengungkap kendala utama dalam menangani pelanggaran pemilu Tasikmalaya, yakni minimnya bukti dan saksi yang bersedia memberikan keterangan. Kondisi tersebut membuat sejumlah laporan maupun temuan dugaan pelanggaran tidak dapat diproses hingga tahap penindakan meskipun indikasi awal telah ditemukan. Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat (Parmas), dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kota Tasikmalaya, Enceng […]

  • penebangan ilegal hutan

    Perkara Penebangan Ilegal Hutan: Apa Arti Putusan MA bagi Warga

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Perspektif: Putusan MA soal penebangan ilegal hutan menguji konsistensi negara melindungi lingkungan dan kepentingan publik. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Putusan Mahkamah Agung yang memenjarakan pelaku penebangan ilegal di kawasan hutan lindung kembali menempatkan hukum kehutanan pada titik krusial: seberapa jauh negara konsisten melindungi hutan dari ekspansi perkebunan. Perkara ini penting bukan hanya karena ada vonis pidana, […]

expand_less