RSIA Tasikmalaya: Keluarga Kuat Cegah Kekerasan
- account_circle redaktur
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Hampir 5 Jam Organisasi Perempuan Dialog Ketahanan Keluarga Bersama Menteri PPPA RI Digelar di RSIA Tasikmalaya, Jumat Sore( 19/6/2026)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Ketahanan keluarga dan penguatan keluarga kembali menjadi perhatian dalam dialog terbuka yang digelar di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA). Tema tersebut dinilai penting karena keluarga yang berkualitas merupakan fondasi utama dalam melahirkan generasi sehat, berkarakter, serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.
Di sela-sela kegiatan, suasana diskusi berlangsung hangat. Sejumlah peserta tampak antusias mengangkat tangan untuk menyampaikan pengalaman yang mereka jumpai di lingkungan sekitar. Ada yang menanyakan cara mencegah kekerasan terhadap anak, sementara peserta lainnya menyoroti pentingnya komunikasi antara orang tua dan remaja. Sesekali terdengar anggukan dan respons dari peserta lain yang mengikuti jalannya dialog dengan penuh perhatian.
Kunjungan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI ke RSIA Tasikmalaya pun mendapat sambutan positif dari para peserta. Selain menjadi ruang berbagi pengalaman, kegiatan tersebut juga menghadirkan diskusi mengenai berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Pendidikan dalam Keluarga Menjadi Kunci Pencegahan
Direktur RSIA dr. Polar Silumi, Sp.OG., M.H.Kes mengatakan bahwa tema ketahanan keluarga memiliki peran yang sangat penting. Menurutnya, rumah tangga merupakan tempat pertama bagi seorang anak untuk belajar mengenal nilai, akhlak, serta cara berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
“Tema ketahanan keluarga sangat penting karena ini merupakan pondasi utama dalam membentuk generasi yang sehat dan berkualitas. Keluarga yang kuat akan menjadi tempat tumbuh kembang anak yang baik,” ujarnya.
Dalam dialog tersebut, sejumlah persoalan yang muncul di masyarakat turut menjadi bahan pembahasan. Beberapa peserta menyinggung kasus pelecehan seksual serta perselisihan dalam rumah tangga yang belakangan kerap menjadi perhatian publik.
Menurut dr. Polar, fenomena tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dalam keluarga memegang peranan penting dalam upaya pencegahan.
“Tadi sudah terangkum bahwa upaya meningkatkan ketahanan keluarga harus berakar pada akhlak yang baik dan akhlakul karimah. Kasus yang muncul saat dialog menunjukkan bahwa pendidikan harus dimulai dari internal keluarga itu sendiri,” katanya.
Karena itu, keluarga tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Lebih dari itu, rumah menjadi ruang pertama bagi anak untuk mengenal kasih sayang, rasa aman, serta nilai-nilai kehidupan.

Penyerahan cenderamata dari Direktur RSIA kepada Menteri PPPA RI, Jumat (19/6/2026).
Keluarga Tetap Menjadi Benteng Utama
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, tantangan yang dihadapi keluarga juga semakin kompleks. Oleh sebab itu, dr. Polar menilai peran orang tua tidak dapat tergantikan oleh siapa pun.
Ia menegaskan bahwa pemerintah hadir untuk mengayomi masyarakat melalui berbagai program perlindungan. Namun demikian, keluarga tetap menjadi benteng pertama dalam mencegah munculnya berbagai persoalan sosial.
RSIA Tasikmalaya, lanjutnya, siap mengambil peran sebagai mitra masyarakat melalui pelayanan kesehatan, edukasi, dan pendampingan yang berpihak kepada perempuan serta anak.
“Kunjungan Ibu Menteri ini menjadi momentum penting. Kami di RSIA siap mendukung upaya penguatan ketahanan keluarga, karena keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat pula,” tegasnya.
Komunikasi yang Hangat Perlu Terus Dijaga
Dialog tersebut diharapkan mampu mendorong tumbuhnya kesadaran baru di tengah masyarakat mengenai pentingnya membangun komunikasi yang sehat di dalam rumah tangga.
Sebab, berbagai persoalan yang muncul sering kali berawal dari renggangnya hubungan antaranggota keluarga. Sebaliknya, komunikasi yang baik dapat menjadi jembatan untuk memperkuat rasa saling percaya, kepedulian, dan kasih sayang.
Di tengah arus perubahan yang begitu cepat, rumah tetap menjadi sekolah pertama bagi seorang anak. Dari rumah pula nilai kejujuran, tanggung jawab, empati, dan penghormatan terhadap sesama mulai ditanamkan.
Karena itu, penguatan keluarga bukan hanya menjadi tugas pemerintah atau lembaga tertentu. Semua pihak memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga agar rumah tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi setiap anggota keluarga.
Menjelang akhir acara, beberapa peserta masih terlihat berbincang dengan para narasumber. Ada yang berkonsultasi mengenai pola pengasuhan anak, ada pula yang bertukar pengalaman tentang cara menjaga keharmonisan rumah tangga. Suasana sederhana itu memperlihatkan bahwa persoalan keluarga bukan sekadar isu pribadi, melainkan bagian penting dari masa depan masyarakat.
Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh gedung yang megah atau teknologi yang canggih. Sebab sebelum mengenal dunia, seorang anak lebih dahulu belajar tentang kasih sayang, akhlak, dan kehidupan dari keluarganya sendiri. Ketika keluarga kokoh, masa depan bangsa pun akan berdiri dengan lebih tegak. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar