Opini

Bebas Merdeka atau Budak Duniawi?

albadarpost.com, OPINI – Di tengah hiruk-pikuk ambisi, istilah Bebas Merdeka terdengar seperti slogan upacara. Padahal, menurut hikmah Syekh ‘Athoillah dalam Al-Hikam, Bebas Merdeka bukan sekadar bebas secara fisik, melainkan merdeka dari keinginan palsu dan harapan semu. Ironisnya, banyak orang merasa merdeka, tetapi justru menjadi budak ambisi. Mereka mengira sedang mengejar impian, padahal nafsu diam-diam mengejar mereka.

Syekh ‘Athoillah mengingatkan, “Kita menjadi hamba dari apa yang kita harapkan.” Kalimat ini terasa menampar. Sebab, semakin tinggi harapan duniawi digantungkan, semakin rendah jiwa ditundukkan. Seseorang bisa saja berdasi, berjabatan, bahkan disanjung. Namun, ketika hatinya bergantung pada pujian, uang, atau status sosial, maka ia belum mencapai Bebas Merdeka.

Ketika Elang Turun karena Daging

Bayangkan seekor elang. Ia terbang tinggi menembus langit. Sulit ditangkap, sulit dijangkau. Namun, ketika sepotong daging digantung sebagai umpan, ia turun. Bukan karena lemah, melainkan karena tamak. Sekali cakar menyentuh perangkap, tamatlah kebebasannya. Anak-anak kecil pun bisa mempermainkannya.

Baca juga: Diamnya Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya Makin Membuat Penasaran

Begitulah manusia. Ketika tidak memiliki keinginan palsu, ia terbang tinggi dalam kehormatan. Namun, saat tergoda dunia yang fana, ia rela turun. Ia meninggalkan prinsip, menggadaikan integritas, bahkan menjual iman hanya demi “sepotong daging” bernama kepentingan.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa dunia sering memoles jebakan dengan kilau. Sementara itu, manusia kerap terkecoh oleh kemasan.

Nafsu: Tuan yang Tidak Pernah Kenyang

Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia menginginkan lembah yang ketiga.”
(HR. Muhammad)

Hadis ini bukan sekadar kritik terhadap kerakusan, melainkan potret abadi sifat manusia. Nafsu tidak pernah puas. Hari ini mengejar jabatan, besok mengejar pengaruh. Setelah itu, mengejar validasi. Sementara itu, hati terus lelah.

Imam Imam Al-Ghazali pernah menjelaskan bahwa cinta dunia adalah akar dari banyak keburukan. Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, tetapi dunia tidak boleh menguasai hati. Ketika hati terpaut kuat pada materi, maka Bebas Merdeka menjadi ilusi.

Oleh karena itu, kebebasan sejati bukanlah memiliki segalanya, melainkan tidak diperbudak oleh apa pun. Seseorang boleh kaya, tetapi tidak tamak. Boleh berpengaruh, tetapi tidak sombong. Boleh terkenal, tetapi tidak haus pujian.

Satir Zaman: Merdeka di Status, Terjajah di Hati

Lucunya, manusia modern sering merasa bebas karena bisa berkata apa saja di media sosial. Mereka merasa merdeka karena memiliki pilihan tanpa batas. Namun, pada saat yang sama, mereka gelisah jika tidak mendapat “like”. Mereka marah jika tidak diakui. Bahkan, mereka rela memoles citra demi tepuk tangan digital.

Di sinilah satir itu terasa pedih. Kita berbicara tentang kebebasan, tetapi algoritma menentukan suasana hati. Kita merasa independen, tetapi opini publik mengendalikan arah langkah. Dan kita mengaku tidak peduli, padahal diam-diam berharap dipuji.

Syekh ‘Athoillah seakan tersenyum melihat drama ini. Beliau tidak menyuruh kita kabur ke gunung. Beliau hanya mengingatkan: lepaskan ketergantungan. Jika hati tidak lagi terpaut pada keinginan palsu, maka perangkap kehilangan daya tariknya.

Karena itu, Bebas Merdeka dimulai dari dalam. Pertama, luruskan niat. Kedua, kurangi ketergantungan pada pujian manusia. Ketiga, perbanyak berharap hanya kepada Allah. Dengan demikian, seseorang tidak mudah turun dari “angkasa” kehormatan.

Allah SWT berfirman:

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”
(QS. At-Talaq: 3)

Ayat ini memberi arah yang jelas. Ketika tawakal menjadi fondasi, maka hati tidak lagi mudah diseret oleh umpan dunia.

Bebas Merdeka: Jalan Sunyi yang Menguatkan

Memang, jalan ini tidak populer. Sebab, dunia memuja pencapaian yang terlihat, bukan kebebasan batin yang tersembunyi. Namun, justru di situlah kekuatan sejati lahir. Orang yang Bebas Merdeka tidak mudah diprovokasi, tidak mudah dibeli, dan tidak mudah ditipu.

Sebaliknya, orang yang terjebak keinginan palsu akan terus mencari. Ia lelah, tetapi tidak berhenti. Ia kenyang, tetapi tetap lapar. Ia tersenyum, tetapi batinnya kosong.

Elang itu sebenarnya kuat. Ia hanya salah memilih arah turun. Maka, manusia pun demikian. Ia mulia ketika menjaga jarak dari umpan. Namun, ia menjadi permainan ketika membiarkan nafsu memimpin.

Akhirnya, pertanyaannya sederhana: kita ingin tetap terbang tinggi atau turun demi sepotong daging?

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button