Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Menu MBG Ramadan: Ini yang Diterima Siswa Berpuasa dan Tidak

Menu MBG Ramadan: Ini yang Diterima Siswa Berpuasa dan Tidak

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
  • visibility 144
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadan. Namun, pemerintah melakukan penyesuaian penting pada menu yang diterima siswa. Penyesuaian ini bukan sekadar teknis distribusi, melainkan cerminan kebijakan yang berupaya menghormati praktik ibadah sekaligus menjaga kecukupan gizi anak sekolah.

Selama Ramadan, siswa Muslim yang berpuasa tidak menerima menu siap santap seperti hari biasa. Sebaliknya, mereka memperoleh paket makanan kering yang dapat dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka. Sementara itu, siswa non-Muslim tetap menerima menu MBG dalam bentuk makanan siap makan sesuai jadwal sekolah.

Perbedaan ini memunculkan pertanyaan publik. Apakah kebijakan tersebut adil? Bagaimana pemerintah memastikan kebutuhan gizi seluruh siswa tetap terpenuhi?

Penyesuaian Menu MBG di Bulan Ramadan

Pemerintah merancang kebijakan menu MBG Ramadan dengan mempertimbangkan kebiasaan ibadah mayoritas siswa. Oleh karena itu, siswa Muslim menerima paket makanan kering berisi kurma, telur rebus, buah, susu, atau sumber protein lain yang mudah disimpan.

Baca juga: Pemeriksaan Ridwan Kamil dan Peran Asisten Pribadi

Paket tersebut dibagikan di sekolah pada siang hari. Dengan demikian, siswa dapat membawanya pulang dan mengonsumsinya saat waktu berbuka. Skema ini menjaga tujuan utama MBG, yakni pemenuhan gizi, tanpa mengganggu pelaksanaan puasa.

Sebaliknya, siswa non-Muslim tetap menerima menu MBG seperti biasa. Mereka mengonsumsi makanan bergizi di sekolah sesuai jam makan. Kebijakan ini diterapkan di sekolah yang memiliki siswa lintas agama agar layanan tetap berjalan optimal.

Melalui pendekatan ini, pemerintah berupaya menyesuaikan layanan tanpa menghentikan program. Selain itu, negara ingin memastikan tidak ada kelompok siswa yang tertinggal dari sisi asupan gizi.

Prinsip Keadilan Gizi dalam Program MBG

Perbedaan menu MBG Ramadan bukan bentuk diskriminasi. Sebaliknya, kebijakan ini berdiri di atas prinsip keadilan kontekstual. Keadilan tidak selalu berarti perlakuan yang sama, tetapi perlakuan yang sesuai kebutuhan.

Siswa yang berpuasa membutuhkan pola konsumsi berbeda. Oleh sebab itu, menu kering menjadi pilihan yang relevan. Di sisi lain, siswa yang tidak berpuasa tetap membutuhkan asupan energi di siang hari untuk mendukung aktivitas belajar.

Pemerintah memosisikan MBG sebagai program berbasis kebutuhan. Karena itu, pendekatan seragam justru berpotensi mengabaikan kondisi riil siswa. Dengan menyesuaikan menu, negara berupaya hadir secara lebih sensitif dan fungsional.

Selain itu, kebijakan ini juga mencerminkan penghormatan terhadap keberagaman. Sekolah menjadi ruang bersama yang mengakomodasi perbedaan tanpa mengorbankan hak dasar anak.

Menjaga Tujuan Utama MBG di Tengah Ibadah

Tujuan utama MBG tetap sama, yaitu memperbaiki status gizi siswa dan mendukung konsentrasi belajar. Ramadan tidak mengubah tujuan tersebut. Yang berubah hanyalah metode pelaksanaannya.

Pemerintah menilai bahwa menghentikan MBG selama Ramadan justru berisiko menurunkan asupan gizi siswa, terutama bagi keluarga rentan. Oleh karena itu, penyesuaian menu menjadi solusi yang lebih tepat.

Baca juga: Branding Sekolah dan Tanggung Jawab Pendidikan

Di sisi lain, kebijakan ini juga mengajarkan nilai toleransi sejak dini. Anak-anak belajar bahwa perbedaan praktik ibadah dapat berjalan berdampingan dalam satu sistem pendidikan.

Antara Kebijakan Publik dan Kepekaan Sosial

Menu MBG Ramadan menunjukkan bahwa kebijakan publik tidak berdiri di ruang hampa. Ia bersinggungan langsung dengan nilai sosial, budaya, dan agama. Oleh sebab itu, kebijakan yang baik tidak hanya efektif secara administratif, tetapi juga peka secara sosial.

Dengan membedakan menu MBG untuk siswa Muslim dan non-Muslim, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara efisiensi program dan penghormatan terhadap keyakinan.

Ke depan, tantangan utama terletak pada konsistensi pelaksanaan di lapangan. Distribusi, kualitas menu, dan pengawasan gizi harus tetap terjaga agar tujuan program tidak melenceng.

Pada akhirnya, menu MBG Ramadan bukan sekadar soal makanan. Ia mencerminkan cara negara membaca realitas masyarakatnya. Ketika kebijakan mampu menjawab kebutuhan dengan adil dan bijak, kepercayaan publik pun akan tumbuh. (GZ)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Leuwi Genteng Ciamis

    Leuwi Genteng Berduka, Polisi Ungkap Dua Fakta Penting

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 76
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Leuwi Genteng Ciamis menjadi perhatian publik setelah satu insiden pada Minggu (28/6/2026) memicu dua peristiwa sekaligus. Seorang pemuda dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam, sementara seorang pengunjung lain mengalami luka setelah terjadi dugaan penganiayaan di lokasi. Peristiwa di kawasan wisata sungai tersebut kini masih dalam penyelidikan kepolisian untuk memastikan seluruh rangkaian kejadian […]

  • WFH ASN Jabar

    WFH ASN Jabar Berlaku 2026

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Pemprov Jabar tetapkan WFH ASN setiap Kamis mulai 2026 lewat surat edaran dengan pengecualian layanan publik. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan kebijakan kerja fleksibel bagi aparatur sipil negara (ASN) melalui skema work from home (WFH) setiap hari Kamis mulai tahun 2026. Kebijakan ini menegaskan upaya penataan birokrasi dengan pengaturan operasional yang […]

  • santet dalam Islam

    Hukum Santet dalam Islam dan Risikonya bagi Tauhid

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 175
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kepercayaan terhadap santet masih hidup di sebagian masyarakat. Namun, para ulama menegaskan bahwa santet dalam Islam hukumnya haram dan termasuk perbuatan syirik. Keyakinan ini bukan sekadar persoalan mistik, tetapi menyentuh inti keimanan umat. Islam mengakui adanya sihir sebagai ujian, tetapi melarang umat menggantungkan nasib kepada kekuatan selain Allah Swt.. Dampaknya tidak hanya […]

  • Potret Try Sutrisno saat menjabat Wakil Presiden RI periode 1993-1998 di masa akhir Orde Baru.

    Sunyi di Pusat Kekuasaan: Peran Try Sutrisno Saat Krisis 1998

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 152
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Nama Try Sutrisno 1998 kembali mengemuka ketika publik menelisik ulang fase akhir Orde Baru. Pada periode genting itu, Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden RI dan berdiri tepat di pusat pusaran krisis. Sosok wapres militer ini hadir di ujung kekuasaan Orde Baru, mendampingi Suharto saat tekanan ekonomi dan politik mengguncang fondasi negara. […]

  • kualitas layanan internet

    IndiHome dan Paradoks Laba vs Layanan

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 164
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Laporan keuangan menunjukkan pertumbuhan laba yang kuat. Namun di sisi lain, keluhan pelanggan terus bermunculan. Paradoks inilah yang kini melekat pada IndiHome, layanan internet rumah yang berada di bawah Telkomsel dan Telkom Group. Di tengah laba triliunan rupiah, kualitas layanan internet justru menjadi sorotan publik. Dalam beberapa hari terakhir, gangguan koneksi […]

  • Korupsi Pengadaan

    Terungkap! Korupsi Pengadaan Sudah Diatur Sejak Awal

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 145
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Korupsi pengadaan kembali menunjukkan wajah aslinya. Data Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkap bahwa sekitar 25 persen perkara korupsi berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa (PBJ). Namun, temuan ini bukan sekadar angka. Di baliknya, ada pola yang berulang dan terstruktur. Dalam kurun 2004 hingga 2025, KPK menangani 1.782 perkara korupsi. Dari jumlah itu, 446 […]

expand_less