Mereka Membawa Merah Putih ke Podium, Lalu Apa yang Kita Berikan?
- account_circle redaktur
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Pahlawan olahraga Indonesia membawa Merah Putih ke podium dalam perjuangan prestasi olahraga internasional.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, EDITORIAL – Ada momen yang hampir selalu membuat dada menghangat.
Indonesia Raya berkumandang. Bendera Merah Putih perlahan naik. Seorang atlet berdiri di podium dengan mata berkaca-kaca. Di rumah, orang-orang ikut bersorak.
Lalu ponsel dipenuhi ucapan selamat.
Bangga. Haru. Pahlawan.
Beberapa hari kemudian, sorotan mulai bergeser.
Atlet kembali berlatih. Kompetisi berikutnya menunggu. Sebagian mulai jarang diberitakan. Sebagian lainnya harus kembali mengejar target berikutnya dari nol.
Di titik itulah sebuah pertanyaan layak diajukan:
Setelah mereka membawa Merah Putih ke podium, apa yang kita berikan kepada mereka?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan setiap Hari Olahraga Nasional (Haornas). Sebab medali yang terlihat dalam hitungan menit sesungguhnya lahir dari proses yang bisa berlangsung bertahun-tahun.
Ada latihan yang melelahkan. Ada kekalahan. Ada cedera. Ada tekanan. Ada keluarga yang ikut berkorban. Ada pelatih dan tim pendukung yang bekerja jauh dari sorotan kamera.
Podium hanya memperlihatkan hasil akhirnya.
Medali Tidak Datang dalam Semalam
Indonesia punya sejarah panjang di panggung olahraga dunia.
Pada Olimpiade Barcelona 1992, Susy Susanti dan Alan Budikusuma mempersembahkan dua medali emas dari bulu tangkis.
Paris 2024 mengulang jumlah tersebut, tetapi dengan cerita berbeda.
Veddriq Leonardo membawa pulang emas dari panjat tebing nomor speed putra. Beberapa jam kemudian, Rizki Juniansyah menambah emas dari angkat besi kelas 73 kilogram. Gregoria Mariska Tunjung melengkapi raihan Indonesia dengan perunggu dari bulu tangkis tunggal putri. Totalnya, Indonesia membawa pulang dua emas dan satu perunggu.
Yang membuat Paris 2024 semakin istimewa, dua emas tersebut datang dari cabang olahraga di luar bulu tangkis. Veddriq tercatat sebagai peraih emas Olimpiade pertama Indonesia dari cabang di luar bulu tangkis, sedangkan Rizki menjadi lifter Indonesia pertama yang meraih emas Olimpiade.
Prestasinya besar.
Tetapi cerita seorang atlet tidak selesai ketika medali dikalungkan.
Justru di situlah persoalan yang lebih panjang dimulai.
Kita Melihat Podium, Mereka Menjalani Perjalanan
Penonton mungkin hanya melihat beberapa menit pertandingan.
Atlet menjalaninya bertahun-tahun.
Ada masa ketika tubuh harus tetap bergerak meski lelah. Ada latihan yang gagal. Ada pertandingan yang tidak sesuai harapan. Ada target yang harus diulang. Bahkan ada kemungkinan karier berhenti lebih cepat karena cedera.
Semua itu jarang masuk ke dalam foto podium.
Karena itu, ukuran penghargaan terhadap atlet tidak semestinya hanya dihitung dari jumlah medali yang mereka bawa pulang.
Kita memang perlu merayakan kemenangan.
Tetapi kita juga perlu memperhatikan proses yang membuat kemenangan itu mungkin.
Pertanyaannya bukan sekadar:
Berapa emas yang bisa Indonesia raih?
Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
Berapa banyak anak Indonesia yang mendapat kesempatan untuk menjadi atlet?
Dan setelah mereka masuk ke dunia olahraga, apakah mereka memiliki tempat latihan, pelatih, kompetisi, pendidikan, dukungan kesehatan, dan lingkungan yang cukup untuk berkembang?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih menentukan masa depan olahraga Indonesia daripada satu seremoni kemenangan.
Bonus Penting, Tetapi Bukan Segalanya
Bonus kemenangan tentu penting.
Atlet yang berhasil mengharumkan nama Indonesia layak mendapatkan penghargaan atas prestasinya.
Namun penghargaan tidak seharusnya hanya muncul ketika seorang atlet sudah menang.
Pembinaan membutuhkan pekerjaan yang jauh lebih panjang dan sering kali tidak terlihat.
Atlet muda harus ditemukan. Kemampuannya harus diasah. Pelatih perlu terus meningkatkan kapasitas. Kompetisi harus tersedia. Fasilitas perlu dirawat. Atlet juga membutuhkan dukungan ketika cedera dan ketika karier kompetitifnya mulai berakhir.
Itulah bagian yang tidak masuk ke foto podium.
Padahal, tanpa bagian tersebut, Indonesia akan terus bergantung pada munculnya individu-individu luar biasa yang mampu bertahan di tengah berbagai keterbatasan.
Prestasi memang bisa lahir dari bakat.
Tetapi prestasi yang berkelanjutan membutuhkan sistem.
Jangan Hanya Memuji Ketika Mereka Menang
Ada satu hal lain yang sering luput.
Ketika atlet menang, kita memujinya habis-habisan.
Ketika kalah, sebagian orang justru cepat mencari kesalahan.
Seolah-olah atlet hanya layak mendapat dukungan selama medali masih mungkin diraih.
Padahal kekalahan merupakan bagian dari olahraga.
Tidak ada atlet yang bisa menang selamanya.
Karena itu, istilah “pahlawan olahraga” sebaiknya tidak berhenti sebagai pujian setelah kemenangan. Jika istilah itu digunakan, maknanya mestinya lebih luas: menghargai perjuangan atlet ketika menang maupun ketika gagal.
Termasuk ketika mereka cedera.
Termasuk ketika prestasinya menurun.
Termasuk ketika namanya tidak lagi memenuhi halaman utama media.
Sebab manusia tidak berubah menjadi tidak berjasa hanya karena tidak lagi berdiri di podium.
Haornas Jangan Hanya Menjadi Hari untuk Bertepuk Tangan
Setiap 9 September, Indonesia memperingati Hari Olahraga Nasional.
Tanggal itu semestinya bukan hanya menjadi pengingat untuk mengunggah foto atlet, memasang spanduk, atau menggelar seremoni.
Haornas juga bisa menjadi saat yang tepat untuk bercermin.
Bagaimana kondisi fasilitas olahraga di daerah?
Bagaimana pembinaan atlet usia dini?
Seberapa luas kesempatan anak-anak mengenal berbagai cabang olahraga?
Bagaimana nasib atlet ketika mengalami cedera?
Dan setelah karier mereka berakhir, apa yang tersedia untuk mereka?
Pertanyaan semacam ini memang tidak semeriah pengalungan medali.
Namun justru pertanyaan itulah yang menentukan apakah olahraga Indonesia hanya sesekali melahirkan juara atau mampu membangun tradisi prestasi.
Setelah Medali Dikalungkan
Kita berhak bangga.
Kita berhak bersorak ketika Indonesia Raya berkumandang.
Kita juga berhak menyebut para atlet berprestasi sebagai pahlawan olahraga sebagai bentuk penghormatan.
Tetapi jangan sampai rasa bangga itu hanya bertahan selama nama mereka sedang ramai.
Karena ketika lampu arena padam dan kamera meninggalkan podium, seorang atlet tetap harus menjalani hidupnya.
Ia tetap membutuhkan kesehatan.
Tetap membutuhkan pekerjaan dan pendidikan.
Tetap membutuhkan masa depan.
Dan generasi berikutnya juga membutuhkan kesempatan untuk memulai perjalanan yang sama.
Mereka sudah membawa Merah Putih ke podium.
Sekarang pertanyaannya kembali kepada kita:
Apa yang sudah kita siapkan untuk mereka setelah podium itu ditinggalkan?
Sebab memenangkan medali mungkin membutuhkan beberapa menit.
Tetapi melahirkan juara membutuhkan bertahun-tahun kerja yang serius.
Dan menghargai seorang juara seharusnya tidak berhenti ketika medali sudah dikalungkan.
Merah Putih membutuhkan lebih dari sekadar atlet yang mampu membawanya ke podium. Merah Putih membutuhkan sistem yang membuat perjuangan mereka tidak sia-sia. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar