Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Banyak Amal Belum Tentu Bernilai, Ini Pesan Ibnu Athaillah

Banyak Amal Belum Tentu Bernilai, Ini Pesan Ibnu Athaillah

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
  • visibility 49
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada orang yang sibuk menghitung jumlah ibadahnya, tetapi lupa memeriksa niatnya. Ada pula yang amalnya tampak sederhana, namun dilakukan dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan. Dalam pembahasan tentang amal diterima Allah, Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa ukuran lahiriah bukan satu-satunya perkara yang menentukan nilai sebuah amal. Pesan tentang keikhlasan dan hati yang zuhud ini terasa relevan ketika manusia semakin mudah menunjukkan kebaikan kepada publik.

Ibnu Athaillah dan Teguran untuk Hati yang Terlalu Sibuk

Dalam Al-Hikam al-‘Atha’iyyah, Ibnu Athaillah as-Sakandari menulis sebuah hikmah:

مَا قَلَّ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ زَاهِدٍ، وَلَا كَثُرَ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ رَاغِبٍ

Artinya kurang lebih:

“Tidaklah sedikit amal yang lahir dari hati yang zuhud, dan tidaklah banyak amal yang lahir dari hati yang masih kuat menginginkan dunia.”

Hikmah tersebut tidak mengajarkan umat Islam agar mengurangi ibadah. Sebaliknya, pesan utamanya terletak pada kualitas batin yang menyertai amal. Dalam penjelasan atas hikmah itu, amal dari hati yang zuhud dinilai memiliki makna besar karena berusaha terbebas dari penyakit seperti riya, pencitraan, dan keinginan mendapatkan keuntungan duniawi.

Di sinilah sindirannya terasa.

Kita sering bertanya, “Sudah berapa banyak amal yang saya lakukan?”

Jarang kita berhenti dan bertanya, “Untuk siapa sebenarnya amal itu saya lakukan?”

Pertanyaan kedua jauh lebih mengusik.

Sebab, manusia bisa menghitung jumlah sedekah dengan kalkulator. Namun, manusia tidak memiliki alat untuk mengukur seberapa bersih niatnya sendiri.

Allah Tidak Hanya Melihat Banyaknya Amal

Al-Qur’an memberi gambaran yang sangat penting tentang penerimaan amal. Dalam kisah dua putra Nabi Adam, Allah berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”

Ayat tersebut terdapat dalam QS. Al-Ma’idah ayat 27. Ayat ini menceritakan dua orang yang sama-sama mempersembahkan kurban, tetapi hanya salah satunya yang diterima.

Pesannya sangat dalam.

Dua orang bisa sama-sama beramal. Dua orang bisa sama-sama mengeluarkan harta. Dua orang bahkan bisa melakukan ibadah yang secara lahiriah terlihat serupa.

Namun, hasil di sisi Allah tidak otomatis sama.

Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya terlalu cepat merasa aman hanya karena memiliki banyak aktivitas keagamaan. Banyaknya amal adalah sesuatu yang baik, tetapi seorang hamba tetap perlu memohon agar amal tersebut diterima.

Bahkan, semakin banyak beramal, seharusnya semakin rendah hati.

Jangan Sampai Amal Berubah Menjadi Panggung

Di zaman media sosial, persoalan ini menjadi semakin menarik.

Dahulu seseorang mungkin berbuat baik lalu hanya dirinya dan Allah yang mengetahui. Sekarang, satu kebaikan dapat direkam, diedit, diberi musik, kemudian dibagikan kepada ribuan orang dalam hitungan menit.

Namun, publikasi amal tidak otomatis berarti riya. Ada orang yang membagikan kegiatan sosial untuk mengajak masyarakat ikut membantu. Ada pula lembaga yang mendokumentasikan programnya sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Karena itu, kita tidak boleh sembarangan menuduh seseorang tidak ikhlas.

Yang perlu diperiksa justru hati sendiri.

Jika pujian membuat kita semakin bersemangat berbuat baik, sementara tidak ada yang melihat membuat kita malas, pertanyaan tentang niat layak diajukan.

Bukan untuk menghakimi diri sendiri secara berlebihan, melainkan untuk memperbaiki arah.

Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan pentingnya niat. Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari menyebut bahwa pahala amal bergantung pada niat dan seseorang memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.

Dengan demikian, pembahasan amal diterima Allah tidak dapat dipisahkan dari persoalan niat.

Zuhud Bukan Berarti Membenci Dunia

Ada satu istilah penting dalam hikmah Ibnu Athaillah: zuhud.

Zuhud tidak harus dipahami sebagai meninggalkan pekerjaan, keluarga, harta, atau kehidupan dunia. Dalam konteks hikmah tersebut, yang menjadi perhatian adalah keterikatan hati kepada dunia.

Seseorang boleh memiliki harta, tetapi tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup.

Seseorang boleh memiliki jabatan, tetapi tidak menjadikan jabatan sebagai ukuran harga dirinya.

Seseorang boleh dikenal banyak orang, tetapi tidak menjadikan popularitas sebagai alasan utama berbuat baik.

Masalahnya muncul ketika dunia berpindah dari tangan ke hati.

Karena itu, nasihat tentang zuhud sebenarnya bukan ajakan untuk hidup miskin. Ia lebih dekat dengan ajakan untuk menempatkan dunia pada posisi yang tepat.

Ketika Amal Banyak tetapi Hati Tidak Tenang

Dalam penjelasan yang dinukil bersama hikmah tersebut, terdapat kisah seseorang yang mengeluhkan bahwa ia telah banyak melakukan amal kebaikan, tetapi tidak merasakan kelezatan dalam amalnya. Jawaban yang diberikan menggunakan perumpamaan tentang “putri Iblis”, yang dimaksudkan sebagai kecintaan berlebihan kepada dunia.

Perumpamaan itu keras. Namun, justru di situlah kekuatan nasihatnya.

Seseorang bisa saja memperbanyak ibadah, tetapi pikirannya tetap dikuasai pujian manusia, harta, kedudukan, dan pengakuan.

Tubuhnya berada di tempat ibadah.

Namun, pikirannya masih sibuk mengejar dunia.

Karena itu, memperbaiki hati menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai.

Jangan Berhenti Beramal Hanya Karena Takut Tidak Ikhlas

Ada satu hal yang juga perlu ditegaskan.

Jangan sampai pembahasan tentang keikhlasan membuat seseorang berhenti beramal karena merasa niatnya belum sempurna.

Tetaplah bersedekah.

Tetaplah salat.

Tetaplah membaca Al-Qur’an.

Tetaplah membantu orang lain.

Kemudian, sambil beramal, terus periksa niat dan perbaiki hati.

Sebab, manusia tidak mengetahui secara pasti apakah amalnya telah diterima Allah. Yang bisa dilakukan adalah berusaha, berharap, berdoa, dan tidak merasa paling suci.

Pada akhirnya, hikmah Ibnu Athaillah mengajak kita melakukan semacam audit spiritual.

Bukan hanya menghitung berapa banyak amal yang sudah dilakukan, tetapi juga bertanya apakah hati masih mengejar pujian manusia.

Bukan sekadar melihat seberapa besar sedekah yang keluar dari dompet, tetapi juga memeriksa apa yang keluar dari hati.

Dan bukan hanya mengejar agar amal terlihat besar di mata manusia, melainkan memohon agar amal tersebut bernilai di hadapan Allah.

Manusia mungkin terpesona oleh amal yang terlihat besar. Allah mengetahui hati yang bekerja di baliknya. Karena itu, jangan terlalu sibuk membuat amal kita tampak besar di hadapan manusia. Sibuklah membuat hati kita layak berharap agar amal itu diterima Allah. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • El Nino Indonesia

    BMKG: El Nino Indonesia Berpotensi Bertahan hingga 2027

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 62
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – El Nino Indonesia diprakirakan masih berlanjut hingga awal tahun 2027. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dipublikasikan melalui akun resmi Info BMKG, fenomena iklim tersebut memiliki peluang 75 persen mencapai kategori sangat kuat. Bersamaan dengan itu, musim kemarau 2026 diperkirakan mencapai puncaknya secara bertahap pada Juli hingga September […]

  • Ilustrasi muslim membaca Surat Al-Kautsar dengan suasana tenang dan reflektif tentang makna hidup dan ketakwaan.

    Ternyata Makna Surat Al-Kautsar Bukan Cuma Tentang Kurban

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 194
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Banyak orang mengenal makna Al-Kautsar hanya sebagai dalil tentang kurban. Padahal tafsir Surat Al-Kautsar jauh lebih dalam dari sekadar perintah menyembelih hewan. Di balik tiga ayat pendek itu, Allah menyampaikan pesan tentang luka hati, penghinaan manusia, ketenangan jiwa, dan cara menghadapi hidup tanpa kehilangan arah. Karena terlalu sering dibaca saat salat, sebagian […]

  • Al Hikam Ibnu Athaillah

    Al-Hikam: Mengapa Orang Arif Tak Lagi Membanggakan Diri?

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 69
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Hampir setiap hari manusia berlomba menjadi “seseorang”. Ada yang mengejar jabatan, harta, popularitas, bahkan berlomba membangun citra di media sosial. Namun Al Hikam Ibnu Athaillah justru mengajarkan arah yang berlawanan. Dalam pembahasan Hakikat Bashirah, Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa semakin seseorang mengenal Allah, semakin kecil keinginannya untuk membesarkan dirinya. Di situlah cahaya […]

  • pengerukan pasir sungai

    Larangan Keras Tak Mampu Hentikan Tambang Pasir, Apa yang Salah?

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 178
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pengerukan pasir sungai kembali menjadi sorotan karena aktivitas ini terus berlangsung meski larangan sudah ditegakkan. Fenomena pengerukan pasir sungai, tambang ilegal, dan eksploitasi sungai menunjukkan masalah yang belum terselesaikan. Di satu sisi, penindakan terlihat tegas. Namun di sisi lain, solusi nyata justru hampir tidak terdengar. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah pendekatan […]

  • Produksi Jagung Ciamis

    Kolaborasi Polisi dan Petani Dongkrak Produksi Jagung Ciamis

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 70
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kolaborasi antara Polres Ciamis, petani, Pemerintah Kabupaten Ciamis, dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mulai menunjukkan hasil nyata. Produksi Jagung Ciamis terus meningkat sepanjang 2026 dan realisasinya telah mendekati 80 persen dari target sekitar 260 ton. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator menguatnya program ketahanan pangan Ciamis yang digerakkan melalui pengembangan […]

  • Perda APBD Tasikmalaya 2025

    Perda APBD Tasikmalaya 2025 Resmi Disahkan DPRD

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 96
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Perda APBD Tasikmalaya 2025 resmi disahkan setelah DPRD Kabupaten Tasikmalaya menyetujui Ranperda APBD Tasikmalaya tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 menjadi Peraturan Daerah (Perda). Keputusan tersebut menjadi tonggak penting dalam evaluasi pengelolaan keuangan daerah sekaligus pijakan untuk meningkatkan kualitas pembangunan pada tahun-tahun berikutnya. Penetapan tersebut berlangsung dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten […]

expand_less