Khutbah Jumat: Ketentuan Allah
- account_circle redaktur
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi mimbar masjid.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَأَتَمُّ السَّلَامِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ : إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, tidak ada bekal terbaik dalam perjalanan hidup ini selain ketakwaan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Setiap manusia tentu memiliki harapan. Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi orang yang saleh dan berhasil. Kita ingin usaha berkembang. Kita berharap keluarga hidup tenang dan diberi kesehatan.
Karena itu, kita bekerja keras. Kita menabung sedikit demi sedikit. Kita berdoa setiap selesai salat. Kita juga memohon kepada Allah dalam sujud-sujud panjang pada malam hari.
Namun, hidup tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita rencanakan.
Barangkali ada di antara jamaah sekalian yang pernah mengantar anaknya mengikuti berbagai tes sekolah atau pekerjaan, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.
Ada pula yang sudah bertahun-tahun berdagang, tetapi keadaan ekonomi masih naik turun.
Ada yang telah menyiapkan pernikahan dengan penuh harapan, namun takdir Allah ternyata membawa arah yang berbeda.
Dan mungkin ada yang selama ini diam-diam memendam doa, tetapi hingga hari ini Allah belum mengabulkannya seperti yang diinginkan.
Pada saat seperti itulah, seorang mukmin diuji.
Apakah ia hanya ridha kepada Allah ketika keinginannya tercapai?
Ataukah ia tetap ridha ketika Allah memilihkan sesuatu yang berbeda?
Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam memberikan sebuah nasihat yang sangat mendalam:
سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الْأَقْدَارِ
Sawā’u al-himami lā takhriqu aswāra al-aqdār.
“Kekuatan tekad dan semangat tidak dapat menembus dinding-dinding takdir.”
Maksudnya, sebesar apa pun usaha manusia, semuanya tetap berada di bawah kehendak Allah SWT.
Namun, jamaah sekalian, jangan salah memahami hikmah ini.
Ibnu Athaillah tidak mengajarkan kita untuk menyerah.
Beliau tidak mengajarkan kemalasan.
Beliau juga tidak mengajarkan untuk berhenti berusaha.
Yang beliau ajarkan adalah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Allah SWT berfirman:
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Wa mâ tasyâ’ûna illâ ay yasyâ’allâhu rabbul-‘âlamîn.”
“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah, Tuhan seluruh alam, menghendakinya.”
(QS. At-Takwir: 29)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Wa mâ tasyâ’ûna illâ ay yasyâ’allâh, innallâha kâna ‘alîman ḫakîmâ.”
“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendakinya. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Insan: 30)
Hadirin Rahimakumullah
Sering kali manusia hanya melihat hari ini.
Sedangkan Allah mengetahui hari esok.
Manusia hanya melihat apa yang disukai.
Sedangkan Allah mengetahui apa yang terbaik.
Karena itu Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Maka, ketika apa yang kita inginkan belum terwujud, jangan tergesa-gesa berburuk sangka kepada Allah.
Boleh jadi Allah sedang menyimpan sesuatu yang lebih baik.
Boleh jadi Allah sedang menjaga kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.
Dan boleh jadi, penundaan yang kita rasakan hari ini adalah bagian dari kasih sayang Allah yang belum kita pahami.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Zaman sekarang sering mengajarkan kepada manusia bahwa segala sesuatu dapat dicapai dengan kekuatan diri sendiri.
Padahal, seorang mukmin tidak hanya diajarkan bekerja keras, tetapi juga diajarkan berserah diri kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
“Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan kepada kita tiga hal:
Pertama, jangan malas.
Kedua, jangan sombong.
Ketiga, jangan putus asa.
Karena itu, jangan berhenti berdoa.
Jangan berhenti berikhtiar.
Dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
Sebab tidak semua yang tertunda berarti ditolak.
Tidak semua yang hilang berarti musibah.
Dan tidak semua yang gagal berarti keburukan.
Kadang-kadang Allah hanya ingin mengajari kita satu hal:
Bahwa manusia adalah hamba.
Dan Allah adalah Pemilik segala sesuatu.
Maka, marilah kita memohon kepada Allah agar diberi hati yang ridha terhadap ketetapan-Nya, kesabaran dalam menghadapi ujian-Nya, dan keikhlasan dalam menerima keputusan-Nya.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ، صَابِرَةً عَلَى بَلَائِكَ، شَاكِرَةً عَلَى نَعْمَائِكَ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ، الرَّاضِينَ بِحُكْمِكَ، الْمُسْتَسْلِمِينَ لِأَمْرِكَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar