Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Al-Hikam: Mengapa Orang Arif Tak Lagi Membanggakan Diri?

Al-Hikam: Mengapa Orang Arif Tak Lagi Membanggakan Diri?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Hampir setiap hari manusia berlomba menjadi “seseorang”. Ada yang mengejar jabatan, harta, popularitas, bahkan berlomba membangun citra di media sosial. Namun Al Hikam Ibnu Athaillah justru mengajarkan arah yang berlawanan. Dalam pembahasan Hakikat Bashirah, Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa semakin seseorang mengenal Allah, semakin kecil keinginannya untuk membesarkan dirinya. Di situlah cahaya mata hati bekerja: bukan meninggikan ego, melainkan meruntuhkannya sedikit demi sedikit.

Pesan ini terasa semakin relevan di era ketika ukuran kesuksesan sering ditentukan oleh jumlah pengikut, tanda suka, dan pujian. Ironisnya, semakin tinggi manusia membangun panggung untuk dirinya, semakin mudah ia lupa bahwa seluruh hidupnya bergantung kepada Allah.

Dunia Sibuk Membesarkan Ego, Al-Hikam Justru Mengajarkan Sebaliknya

Syekh Ibnu Athaillah berkata:

شُعَاعُ الْبَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ، وَعَيْنُ الْبَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُودِهِ، وَحَقُّ الْبَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُودَهُ لَا عَدَمَكَ وَلَا وُجُودَكَ

Artinya:

“Sinar bashirah memperlihatkan kepadamu dekatnya Allah kepadamu. Mata bashirah memperlihatkan kepadamu ketiadaanmu karena adanya Allah. Dan hakikat bashirah memperlihatkan kepadamu adanya Allah, bukan ketiadaanmu dan bukan pula wujudmu.”

Kalimat singkat ini memuat perjalanan ruhani seorang hamba menuju ma’rifat.

Pertama adalah syu’ā’ al-bashirah, yaitu cahaya akal. Pada tahap ini manusia menyadari bahwa Allah selalu dekat.

Allah SWT berfirman:

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf: 16).

Allah juga berfirman:

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
(QS. Al-Hadid: 4).

Kesadaran tersebut membuat seorang mukmin berhati-hati dalam ucapan, perbuatan, dan niatnya. Ia mulai memahami bahwa tidak ada ruang yang luput dari pengawasan Allah.

Ketika Ilmu Datang, Kesombongan Mulai Retak

Tahapan berikutnya ialah ‘ain al-bashirah, yaitu cahaya ilmu.

Pada fase ini, seseorang tidak lagi terpukau oleh kelebihan yang dimilikinya. Ilmu justru mengajarkan bahwa seluruh kemampuan hanyalah titipan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Fathir: 15).

Ayat tersebut membongkar ilusi terbesar manusia: merasa mampu berdiri sendiri.

Sayangnya, dunia modern sering menawarkan pesan yang berbeda.

Seminar berkata, “Percayalah sepenuhnya kepada dirimu.”

Media sosial berkata, “Jadilah pusat perhatian.”

Budaya populer berkata, “Kamu bisa melakukan apa saja tanpa bergantung kepada siapa pun.”

Pesan-pesan itu tidak selalu salah jika dimaknai sebagai dorongan untuk berusaha. Namun, semuanya menjadi keliru ketika membuat manusia lupa bahwa keberhasilan hanya lahir atas izin Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa penyakit paling halus bukanlah kemiskinan, melainkan kesombongan yang bersembunyi di balik prestasi, ilmu, ibadah, bahkan amal saleh.

Hakikat Bashirah Bukan Menghilangkan Alam, Tetapi Menghilangkan Kesombongan

Puncaknya adalah haqqul bashirah, yaitu cahaya ilahi.

Pada tingkat ini, perhatian hati seorang hamba lebih tertuju kepada Allah daripada kepada dirinya sendiri. Namun, hal ini bukan berarti ia meyakini bahwa makhluk menyatu dengan Allah atau alam semesta tidak benar-benar ada. Pemahaman seperti itu bertentangan dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud Syekh Ibnu Athaillah ialah fanā’ asy-syuhūd, yaitu lenyapnya rasa membanggakan diri ketika menyaksikan kebesaran Allah. Makhluk tetap ada sebagai ciptaan, tetapi seluruh keberadaannya bergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Allah SWT berfirman:

“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”
(QS. Ar-Rahman: 26–27).

Dan firman-Nya:

“Segala sesuatu pasti binasa kecuali Allah.”
(QS. Al-Qashash: 88).

Karena itu, seorang arif tetap bekerja, berdagang, mengurus keluarga, memimpin masyarakat, dan berinteraksi dengan sesama. Bedanya, ia tidak lagi menganggap dirinya sebagai sumber segala keberhasilan. Ia melihat setiap nikmat sebagai karunia dan setiap ujian sebagai pendidikan dari Allah.

Mengapa Pesan Ini Sangat Relevan di Era Media Sosial?

Barangkali inilah sindiran paling halus dari Al-Hikam kepada manusia modern.

Kita rela menghabiskan waktu berjam-jam mempercantik foto profil, tetapi sering lupa memperbaiki hati.

Kita gelisah ketika jumlah pengikut berkurang, tetapi tenang saat kualitas ibadah menurun.

Dan kita mudah kecewa karena tidak dipuji manusia, padahal belum tentu Allah meridai apa yang kita lakukan.

Satirnya, manusia hari ini sibuk membangun merek pribadi, sementara para wali Allah justru sibuk menghancurkan egonya.

Semakin terang cahaya Hakikat Bashirah, semakin redup keinginan untuk dipuji. Sebaliknya, semakin besar ego dipelihara, semakin sulit hati menangkap cahaya hidayah.

Imam Ibnu ‘Athaillah seakan mengingatkan bahwa akar banyak kegelisahan bukan terletak pada kurangnya harta atau jabatan, melainkan karena manusia terlalu sering memandang dirinya sendiri dan terlalu jarang memandang kebesaran Allah.

Renungan untuk Setiap Mukmin

Muhasabah bukan berarti membenci diri sendiri. Muhasabah adalah menyadari posisi kita sebagai hamba yang selalu membutuhkan pertolongan Allah.

Saat seseorang memahami hakikat ini, ia tidak mudah sombong ketika berhasil dan tidak mudah putus asa ketika gagal. Ia tahu bahwa segala sesuatu berada dalam kehendak Allah, sementara dirinya hanyalah hamba yang diperintahkan untuk berikhtiar dan bertawakal.

Di situlah letak kebebasan sejati. Bukan bebas dari aturan Allah, melainkan bebas dari belenggu ego yang selama ini menipu manusia.

Dunia terus mengajarkan cara membesarkan nama. Al-Hikam justru mengajarkan cara mengecilkan ego. Sebab, semakin kecil rasa “aku” di hadapan Allah, semakin luas jalan menuju ma’rifat dan semakin terang cahaya bashirah menerangi kehidupan. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pembacokan mantan istri Bogor

    Emosi Lama Meledak, Pasutri Dibacok Mantan Suami di Bogor

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Kasus pembacokan mantan istri di Bogor mengungkap konflik emosional lama yang berujung tindak pidana berat. albadarpost.com, HUMANIORA – Kasus pembacokan mantan istri Bogor kembali menyorot persoalan konflik rumah tangga yang tidak tuntas dan berujung pada tindak pidana berat. Insiden ini terjadi di Kabupaten Bogor dan melibatkan seorang pria yang menyerang mantan istrinya beserta suami baru […]

  • UMKM modal kecil

    7 Ide UMKM Modal Kecil 2026, Cocok Dimulai dari Rumah

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 170
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – UMKM modal kecil kini menjadi pilihan banyak orang yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus menyewa tempat usaha. Bahkan, usaha rumahan modal kecil semakin diminati karena fleksibel, mudah dijalankan, dan memiliki peluang keuntungan yang menjanjikan. Di tengah perkembangan ekonomi digital, ide UMKM modal kecil dari rumah bisa berkembang cepat jika dikelola […]

  • Lebaran Yatim Ciamis

    Lebaran Yatim Ciamis Hadirkan Harapan Baru

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 68
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Senyum mulai merekah di wajah anak-anak ketika nama mereka dipanggil satu per satu di Aula Kelurahan Ciamis, Kamis (25/6/2026). Pada momentum Lebaran Yatim Ciamis yang bertepatan dengan Hari Asyura 10 Muharam 1448 Hijriah, sebanyak 100 anak yatim menerima santunan melalui kegiatan Gebyar Muharam 2026. Lebih dari sekadar penyaluran bantuan, kegiatan ini […]

  • Nanik Deyang

    Mengapa Nanik Deyang Mundur? Ini 5 Fakta Penting

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 41
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Nanik Deyang menjadi sorotan setelah memutuskan mundur dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Keputusan tersebut langsung menarik perhatian publik karena Badan Gizi Nasional memegang peran strategis dalam menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pengunduran diri itu memunculkan berbagai pertanyaan. Apakah pergantian pimpinan […]

  • Pemantauan hilal Zulhijah 1447 Hijriah di Gunung Putri Lapas Banjar menggunakan teropong saat cuaca mendung tebal.

    Mendung Tebal Tutupi Hilal Banjar, Awal Zulhijah Resmi Ditetapkan

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 115
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemantauan hilal Zulhijah untuk menentukan awal Zulhijah 1447 Hijriah di kawasan Gunung Putri Lapas Banjar, Kota Banjar, berlangsung tertib pada Minggu (17/5/2026). Meski hilal tidak terlihat akibat cuaca mendung dan awan tebal, hasil rukyat nasional memastikan awal bulan Zulhijah tetap dimulai besok. Kegiatan rukyatul hilal tersebut menarik perhatian masyarakat yang datang […]

  • Mahasiswi Hilang

    Breaking News: Mahasiswi UMB Tasikmalaya Dilaporkan Hilang

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 155
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kasus mahasiswi hilang kembali menghebohkan warga Jawa Barat. Seorang mahasiswi Universitas Mayasari Bakti (UMB) Tasikmalaya bernama Ulfah Hadiatul Alia dilaporkan hilang sejak 5 April 2026 dan hingga kini belum diketahui keberadaannya. Informasi tersebut langsung menyebar luas di media sosial dan memicu perhatian masyarakat. Banyak warga ikut membagikan foto korban dengan harapan […]

expand_less