Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban: Teguran Langit yang Terus Menggema

albadarpost.com, OPINI – Langit seakan tidak pernah lelah menyapa kesadaran manusia. Dalam Surah Ar-Rahman, Allah SWT tidak hanya menyebut nikmat-Nya, tetapi menghadirkannya satu per satu, lalu mengajukan pertanyaan yang sama, berulang hingga 31 kali: “Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban?” Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Pertanyaan itu tidak ditujukan pada satu zaman, tidak pula terikat satu bangsa. Ia melintasi abad, menembus batas bahasa, dan menyapa dua makhluk berakal: manusia dan jin. Setiap pengulangan bukanlah gema kosong. Sebaliknya, ia adalah ketukan lembut sekaligus tegas agar hati tidak tertidur dalam kelalaian yang berkepanjangan.
Ketika Al-Qur’an Bertanya, Hati Manusia Menjawab
Surah Ar-Rahman membuka ayat-ayatnya dengan rahmat. Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman, lalu menyebut penciptaan manusia dan anugerah kemampuan berbicara. Setelah itu, alam semesta dihamparkan sebagai saksi: matahari dan bulan yang beredar teratur, tumbuhan yang tumbuh tunduk, lautan yang mengalirkan kehidupan, hingga keseimbangan kosmik yang menenangkan jiwa.
Di antara bentangan nikmat itu, pertanyaan ilahi terus hadir. Seakan Allah berbisik pada nurani manusia, “Jika semua ini Aku sediakan untukmu, lalu apa yang masih pantas kau sangkal?”
Para mufasir menegaskan bahwa pengulangan ayat ini berfungsi sebagai taqrîr: penegasan makna agar kesadaran tumbuh perlahan namun menetap. Imam Al-Qurthubi menyebutnya sebagai upaya menanamkan rasa malu spiritual: malu karena nikmat begitu melimpah, sementara syukur sering tertunda oleh kesibukan dunia.
Rasulullah ﷺ bahkan mencontohkan adab saat ayat ini dibacakan. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, beliau menceritakan bahwa para jin menjawab setiap pengulangan ayat tersebut dengan kalimat:
“Laa bisyai-in min ni’amika rabbanaa nukadzdzibu fa lakal hamdu.”
Tidak satu pun nikmat-Mu kami dustakan, wahai Tuhan kami. Bagi-Mu segala puji.
Jawaban itu mencerminkan kesadaran dan ketundukan. Sementara itu, manusia kerap terdiam atau justru sibuk mengeluh.
Syukur yang Menghidupkan Jiwa, Kufur yang Menggerogoti Nikmat
Dalam Islam, syukur tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah. Syukur hidup di hati yang sadar, di lisan yang jujur, dan di perbuatan yang lurus. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa syukur menjaga nikmat agar tetap tinggal, sedangkan kufur mempercepat kepergiannya.
Ketika kesehatan digunakan untuk kebaikan, ilmu untuk kemaslahatan, dan harta untuk menolong sesama, manusia sedang menjawab pertanyaan Surah Ar-Rahman dengan amal nyata. Namun sebaliknya, saat nikmat berubah menjadi alasan untuk sombong, lalai, dan bermaksiat, ayat ini menjelma teguran yang perlahan mengikis ketenangan batin.
Allah SWT menegaskan hukum spiritual ini dalam firman-Nya:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).
Ayat ini saling menguatkan dengan Surah Ar-Rahman. Syukur memperluas nikmat, sementara kufur menyempitkannya, bahkan sebelum nikmat itu benar-benar pergi.
Di zaman modern, nikmat sering hadir dalam bentuk yang luput disadari: waktu luang yang singkat, udara yang masih bisa dihirup, keluarga yang menemani, bahkan kemampuan untuk merenung. Karena itu, Surah Ar-Rahman mengajak manusia berhenti sejenak, lalu menghitung bukan menuntut.
Pada akhirnya, “Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban” bukan sekadar ayat untuk dibaca. Ia adalah cermin yang jujur. Setiap kali ayat itu terdengar, hati semestinya bertanya balik: sudahkah aku mensyukuri nikmat ini hari ini?
Jika jawaban itu belum juga jernih, Al-Qur’an kembali mengulang pertanyaannya. Bukan karena Allah lupa, melainkan karena manusia hari ini lebih sering mengeluh daripada bersyukur.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost, Direktur Albadar Institute)




