Rahasia Tugu Koperasi Tasikmalaya yang Jarang Diketahui
- account_circle redaktur
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tugu Koperasi di Jalan Mohamad Hatta, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, (Sabtu, 25/7/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Banyak orang mengenal Hari Koperasi Nasional yang diperingati setiap 12 Juli, tetapi tidak banyak yang mengetahui bahwa momentum bersejarah itu berakar dari Tugu Koperasi Tasikmalaya. Monumen sejarah koperasi yang berdiri di Jalan Mohamad Hatta, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, menjadi penanda tempat berlangsungnya Kongres Koperasi Pertama Indonesia pada 12 Juli 1947. Dari lokasi inilah lahir berbagai keputusan penting yang kemudian membentuk arah gerakan koperasi nasional.
Dalam publikasi resminya, Kementerian Koperasi menjelaskan bahwa Tugu Koperasi bukan sekadar bangunan bersejarah. Monumen tersebut menjadi simbol lahirnya semangat gotong royong, ekonomi kerakyatan, dan kekeluargaan yang hingga kini masih menjadi ruh gerakan koperasi di Indonesia.
Tidak banyak yang menyadarinya. Padahal, setiap hari ribuan kendaraan melintas di depan tugu tersebut tanpa mengetahui bahwa salah satu tonggak penting sejarah ekonomi Indonesia berdiri di sana.
Dari Tasikmalaya, Gerakan Koperasi Nasional Mulai Disatukan
Kongres Koperasi Pertama berlangsung sekitar dua tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Pada masa itu, berbagai koperasi rakyat telah tumbuh di sejumlah daerah, tetapi belum memiliki wadah nasional yang menyatukan arah perjuangan.
Melalui kongres yang berlangsung di Tasikmalaya, para pelopor koperasi berhasil merumuskan fondasi organisasi sekaligus memperkuat cita-cita membangun ekonomi rakyat melalui semangat kebersamaan.
Menurut Kementerian Koperasi, hasil kongres tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan koperasi Indonesia. Karena itu, Tugu Koperasi dibangun sebagai pengingat bahwa gerakan ekonomi berbasis gotong royong memiliki akar sejarah yang kuat.
Sepuluh Keputusan Penting yang Lahir di Kongres Koperasi Pertama
Kongres Koperasi Pertama tidak hanya menghasilkan satu kesepakatan. Sebaliknya, forum tersebut melahirkan berbagai keputusan strategis yang menjadi pijakan perkembangan koperasi di Indonesia.
Keputusan-keputusan itu meliputi:
- Pembentukan Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) yang berkedudukan di Tasikmalaya.
- Penegasan bahwa koperasi Indonesia berasaskan gotong royong.
- Penetapan Peraturan Dasar SOKRI.
- Pembentukan presidium pengurus yang diketuai Niti Sumitri.
- Penguatan cita-cita mewujudkan kemakmuran rakyat sesuai Pasal 33 UUD 1945.
- Gagasan mendirikan Bank Sentral Koperasi.
- Pembentukan Koperasi Rakyat Desa sebagai dasar organisasi.
- Perluasan pendidikan koperasi kepada masyarakat.
- Penguatan distribusi barang kebutuhan penting melalui koperasi.
- Penetapan 12 Juli sebagai Hari Koperasi Nasional.
Keputusan-keputusan tersebut menunjukkan bahwa koperasi sejak awal dirancang sebagai gerakan sosial sekaligus kekuatan ekonomi rakyat.
Tugu Koperasi Bukan Sekadar Monumen
Jika diamati lebih dekat, pada Tugu Koperasi masih tertera tulisan:
“Peringatan Kongres Koperasi 12 Djuli 1947 di Tasikmalaya.”
Kalimat sederhana itu menyimpan makna besar. Ia menjadi pengingat bahwa semangat gotong royong pernah menjadi kekuatan utama masyarakat Indonesia dalam membangun perekonomian pascakemerdekaan.
Kini, Tugu Koperasi masih berdiri di Jalan Mohamad Hatta Nomor 40, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya. Monumen tersebut tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga identitas penting bagi Kota Tasikmalaya dalam perjalanan koperasi nasional.
Mengapa Sejarah Ini Masih Relevan?
Di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat, nilai-nilai yang lahir dari Kongres Koperasi Pertama tetap memiliki makna.
Koperasi mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada modal besar, tetapi juga pada kerja sama, saling percaya, dan semangat berbagi manfaat.
Karena itu, Kementerian Koperasi mengajak masyarakat menjaga sejarah sekaligus meneruskan amanat konstitusi melalui semangat gotong royong agar koperasi Indonesia semakin berdaya.
Ajakan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah tidak cukup dikenang setiap peringatan Hari Koperasi. Nilai-nilainya perlu terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tasikmalaya Menyimpan Warisan yang Tak Boleh Dilupakan
Bagi masyarakat Tasikmalaya, Tugu Koperasi merupakan bagian dari identitas daerah. Namun, bagi Indonesia, monumen ini adalah saksi lahirnya gerakan koperasi yang hingga kini tetap menjadi salah satu pilar pembangunan ekonomi nasional.
Menjaga Tugu Koperasi berarti menjaga ingatan kolektif bangsa terhadap perjuangan membangun ekonomi yang berkeadilan. Semakin banyak masyarakat mengenal sejarah tersebut, semakin kuat pula penghargaan terhadap nilai gotong royong yang menjadi ciri khas Indonesia.
Bangunan bisa menua, tetapi sejarah tidak boleh memudar. Selama Tugu Koperasi tetap berdiri di Tasikmalaya, semangat gotong royong yang melahirkan Hari Koperasi Nasional akan terus mengingatkan bahwa kemajuan Indonesia selalu berawal dari kebersamaan. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar