Humaniora

Pelatih Sukabumi Perluas Pencak Silat Ke Singapura

Upaya pencak silat global dari Sukabumi diperkuat lewat pelatih yang dikirim ke Singapura.

Pelatih Indonesia Perluas Pencak Silat Global dan Dorong Diplomasi Budaya

albadarpost.com, HUMANIORA – Lima pelatih dari perguruan silat Sang Maung Bodas berangkat ke Singapura pada akhir pekan lalu. Langkah ini menandai babak baru upaya memperluas pencak silat global yang selama lebih dari satu dekade digarap perguruan asal Sukabumi tersebut. Perjalanan mereka disebut penting karena langsung berhubungan dengan permintaan lembaga pelatihan luar negeri yang membutuhkan instruktur berkualifikasi untuk mendidik ratusan pesilat muda.

Keberangkatan tim pelatih dilakukan setelah kerja sama berjalan antara Sang Maung Bodas dan Grasio Sport Silat School, Woodlands, Singapura. Pihak sekolah sebelumnya mengirim atlet berlatih di Sukabumi, lalu mengusulkan kerja sama berbasis program pelatihan jangka menengah. Pelatih akan menetap hingga 1 Januari 2026, mengisi sesi pelatihan yang mencakup atlet usia dini hingga dewasa.

Apriansyah, pelatih muda yang biasa dipanggil Mio, menjelaskan bahwa tim berhadapan dengan sekitar 100 atlet dan 60 pelatih. Menurutnya, kebutuhan tenaga instruktur semakin meningkat karena Singapura menargetkan penguatan persiapan kompetisi regional pada awal 2026. Para atlet akan mengikuti kejuaraan di Johor, Malaysia, yang dikenal sebagai salah satu ajang penting bagi pesilat Asia Tenggara.

“Kami sudah mempersiapkan diri sejak jauh hari. Bukan hanya teknik, tetapi juga mental dan komunikasi,” kata Mio. Ia menambahkan, permintaan kerja sama ini muncul berkat inisiatif dan jejaring yang dibangun Guru Besar Sang Maung Bodas, KH Fajar Laksana.


Ekspansi Silat dan Upaya Memperkuat Pencak Silat Global

Kegiatan ini menjadi perluasan paling nyata dari strategi perguruan untuk mengembangkan pencak silat global. Dalam beberapa tahun terakhir, minat lembaga pendidikan bela diri di luar negeri meningkat. Perguruan-perguruan di Indonesia merespons dengan menyiapkan pelatih terlatih dan kurikulum yang mengikuti standar IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia).

Program pelatihan yang dibawa ke Singapura mencakup jurus tunggal, ganda, beregu, serta kategori kreatif. Selain materi baku IPSI, tim juga memperkenalkan jurus khas Sang Maung Bodas. Beberapa di antaranya Golok Kala Petok, Maung Keubet, dan Panca Kinanti. Mereka juga membawa permainan tradisional berbasis teknik api yang dikenal sebagai Boles.

Baca juga: Tasikmalaya Perkuat Mitigasi Bencana Lewat Penanaman Pohon Langka

Guru Besar KH Fajar Laksana menegaskan bahwa nilai penting kerja sama tidak berhenti pada ranah olahraga. Ia menyebut pengiriman pelatih ini sebagai bagian dari diplomasi budaya. “Ini bukan sekadar mengajar jurus. Ini menjaga identitas dan memperluas ruang budaya bangsa,” ujarnya.

Penampilan Pesilat Maung Bodas di Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi (Foto: Dok PS Maung Bodas)

Menurut KH Fajar Laksana, momentum meningkatnya minat luar negeri terhadap pencak silat global membuka jalan bagi peluang ekonomi baru. Pendapatan pelatih dapat mencapai puluhan juta rupiah per bulan dari fasilitas dan kompensasi yang diberikan institusi mitra. Namun ia menegaskan bahwa aspek ekonomi tidak boleh menghilangkan ruh tradisi. “Silat tetap harus berdiri sebagai warisan yang kita jaga,” kata Fajar.


Konteks, Dampak, dan Peran Negara

Pencak silat telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Status ini memberi penekanan bahwa seni bela diri tersebut tidak hanya bagian dari sejarah, tetapi juga identitas sosial yang perlu dijaga. Fajar mendorong pemerintah untuk terus menyiapkan instruksi, fasilitas latihan, dan dukungan pembinaan. Ia melihat tren positif minat luar negeri sebagai momentum memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kawasan Asia.

Baca juga: Akses KUR Bekasi Dikeluhkan Rumit, Pemkab Janji Permudah Proses Kredit

Secara lokal, keberangkatan lima pelatih ini juga menegaskan perkembangan perguruan daerah dalam lingkup internasional. Sang Maung Bodas, yang berproses selama lebih dari 15 tahun, menunjukkan bahwa upaya konsisten dapat membuka jejaring global. Efeknya dirasakan komunitas pelatih muda di Sukabumi yang kini melihat pencak silat bukan hanya kegiatan tradisi, tetapi profesi berdaya ekonomi.

Dengan program ini, Sang Maung Bodas menciptakan pola baru yang menggabungkan pendidikan bela diri, penyebaran budaya, dan peluang ekonomi. Bila berkelanjutan, model seperti ini berpotensi menjadi standar baru ekspansi seni tradisi ke tingkat internasional.

Ekspansi pelatih silat Sukabumi ke Singapura memperkuat pencak silat global dan membuka jalur baru diplomasi budaya Indonesia. (Red/Arrian)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button