Polisi Telusuri Dugaan Pembunuhan Pengemudi Taksi Online di Tol Jagorawi

Polisi selidiki kasus pembunuhan pengemudi taksi online yang ditemukan tewas di Tol Jagorawi.
albadarpost.com, HUMANIORA – Suasana duka masih menyelimuti rumah Iffah Muhtianah di kawasan Pancoran Mas, Depok. Sejak Senin malam, 10 November 2025, kabar kematian suaminya, Ujang Adiwijaya (57), pengemudi taksi online, membuat keluarga terpukul. Ujang ditemukan tewas di pinggir Tol Jagorawi, dengan luka di tubuh yang diduga akibat kekerasan.
Bagi Iffah, kehilangan itu bukan sekadar kabar buruk, melainkan akhir tragis dari rutinitas suaminya yang mencari nafkah di jalanan. Ia masih mengingat percakapan terakhir sebelum Ujang berangkat bekerja pada Minggu pagi. “Biasanya dia selalu kirim kabar, tapi hari itu tidak. Pesan WhatsApp terakhir sore hari, tapi saya yakin bukan dia yang baca,” tutur Iffah dengan suara bergetar, Rabu (12/11/2025).
Sejak pagi hingga malam, telepon Ujang tak bisa dihubungi. Hingga komunitas sopir daring memberi kabar bahwa ada jasad pria ditemukan di pinggir tol. Foto yang beredar di grup membuat Iffah gemetar. “Saya lihat baju dan celananya, itu benar dia. Astagfirullahaladzim,” ucapnya lirih.
Penyelidikan Polisi: Dugaan Pembunuhan
Polisi dari Polres Metro Depok memastikan telah membuka penyelidikan atas tewasnya pengemudi taksi online itu. Berdasarkan hasil awal visum di RS Polri Kramat Jati, ditemukan sejumlah luka memar dan bekas tusukan di tubuh korban. “Kami mendalami kemungkinan korban dibunuh, mengingat adanya tanda-tanda kekerasan,” ujar seorang penyidik yang enggan disebutkan namanya.
Hingga kini, tim gabungan masih menelusuri rekam jejak perjalanan Ujang melalui sistem GPS aplikator dan kamera tol. Beberapa barang milik korban dilaporkan hilang, termasuk ponsel dan dompet. Polisi menduga korban sempat menerima pesanan fiktif sebelum kejadian.
Kasus ini menjadi satu dari sejumlah peristiwa kekerasan terhadap pengemudi transportasi daring dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan data LBH Mitra Jalan, sedikitnya 12 pengemudi di Jabodetabek menjadi korban kejahatan selama 2024–2025, sebagian besar terjadi di jalur sunyi atau area tol pada malam hari.
Dugaan Teror dari Pinjaman Online
Iffah menambahkan, suaminya sempat menerima teror dari pihak pinjaman online beberapa waktu lalu. “Ada yang kirim pesan mengancam, tapi saya tidak tahu hubungannya apa. Dia memang pernah pinjam, tapi jumlahnya kecil,” katanya.

Meski demikian, Iffah yakin suaminya bukan orang bermasalah. “Dia tidak pernah ribut, orangnya penyayang dan sabar. Hanya sering mengeluh karena pendapatan makin kecil, kadang sehari cuma dapat Rp100 ribu,” ujarnya.
Baca juga: Kartu Bansos Ditahan Pendamping, Warga Margamulya Gagal Cairkan Bantuan
Polisi belum mengonfirmasi kaitan antara dugaan teror pinjol dan kematian Ujang. Namun, mereka tidak menutup kemungkinan motif ekonomi di balik peristiwa ini. “Kami akan memeriksa catatan transaksi korban dan memanggil pihak aplikasi transportasi untuk mendukung penyelidikan,” kata Kapolres Metro Depok, AKBP Raden Surya, dalam keterangan pers singkat.
Kekerasan terhadap Pengemudi Online Kian Mengkhawatirkan
Kematian Ujang menambah panjang daftar kekerasan terhadap pekerja sektor informal, khususnya pengemudi daring. Minimnya jaminan keselamatan di lapangan membuat mereka rentan menjadi sasaran kejahatan. Ketua Asosiasi Driver Online Depok, Arif Maulana, menyebut para pengemudi sering beroperasi tanpa perlindungan hukum yang jelas.
“Kasus seperti ini seharusnya jadi alarm bagi pemerintah dan aplikator. Pengemudi tidak boleh dibiarkan menghadapi risiko sendirian,” kata Arif.
Baca juga: Buruh di Bandung Bunuh Penjaga Konter demi Judi Online
Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan agar perusahaan aplikasi menambah fitur keamanan—seperti tombol darurat yang langsung terhubung ke polisi—terus disuarakan. Namun, hingga kini belum ada perubahan signifikan.
Keadilan yang Ditunggu Keluarga
Kini, yang tersisa bagi keluarga Ujang hanyalah penantian panjang terhadap hasil penyelidikan. Iffah berharap polisi segera menangkap pelaku agar ada kejelasan hukum dan rasa keadilan bagi keluarganya. “Saya hanya ingin pelakunya cepat tertangkap. Suami saya mencari nafkah, bukan cari mati,” katanya.
Keluarga dan rekan-rekan sesama pengemudi berencana menggelar doa bersama di rumah duka akhir pekan ini. Mereka berharap tragedi ini menjadi kasus terakhir yang menimpa pengemudi taksi online di wilayah Jabodetabek.
Kasus pembunuhan pengemudi taksi online di Tol Jagorawi membuka kembali sorotan atas lemahnya perlindungan bagi pekerja sektor transportasi daring. (Red)




