Workshop Kurikulum Berbasis Cinta, MA Al-Muniroh Bergerak
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

Workshop Pengembangan Kurikulum Madrasah Berbasis Cinta di MA Al-Muniroh, Kamis (23/7/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Di tengah tuntutan dunia pendidikan yang terus berubah, Kurikulum Madrasah Berbasis Cinta hadir sebagai salah satu pendekatan baru yang mendorong lahirnya pembelajaran lebih humanis, berkarakter, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam. Semangat itulah yang diusung MA Al-Muniroh Sukahurip, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, melalui Workshop Pengembangan Kurikulum Madrasah Berbasis Cinta yang digelar pada Kamis (23/7/2026).
Workshop yang diikuti 20 peserta tersebut menghadirkan Pengawas Madrasah Drs. Roosman Faoz, M.Pd. sebagai narasumber. Kegiatan ini menjadi forum untuk menyusun arah pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman sekaligus memperkuat karakter peserta didik melalui nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan kepedulian.
Kurikulum Bukan Sekadar Administrasi
Kepala MA Al-Muniroh, Deden Kosim, S.P., menegaskan bahwa workshop tersebut merupakan momentum penting untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan di madrasah.
“Kegiatan ini merupakan momentum yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di madrasah,” ujarnya.
Menurut Deden, kurikulum tidak boleh dipandang hanya sebagai dokumen administrasi, melainkan menjadi pedoman utama dalam membentuk peserta didik yang berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki karakter yang kuat.
“Kurikulum bukan sekadar dokumen administrasi, tetapi menjadi pedoman dalam membentuk peserta didik yang berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki karakter yang kuat,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa melalui Kurikulum Madrasah Berbasis Cinta, pembelajaran diarahkan untuk menumbuhkan cinta kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw., kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, kepedulian kepada sesama, kecintaan terhadap lingkungan, penghormatan terhadap keberagaman, serta tumbuhnya empati di lingkungan madrasah.
Menurutnya, suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan akan membantu peserta didik berkembang secara utuh, baik dari sisi akademik maupun karakter.
Selaras dengan Regulasi Terbaru Kementerian Agama
Workshop ini juga sejalan dengan arah kebijakan terbaru Kementerian Agama. Implementasi kurikulum madrasah kini mengacu pada Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025 yang memperkuat Kurikulum Operasional Madrasah melalui pendekatan Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta.
Selain itu, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta diperkuat melalui Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2025 sebagai tindak lanjut Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta.
Melalui kebijakan tersebut, Kementerian Agama mendorong setiap madrasah menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai cinta kepada Allah Swt., Rasulullah saw., sesama manusia, bangsa, lingkungan, serta ilmu pengetahuan dalam seluruh aktivitas pendidikan.
Kurikulum Harus Menjawab Tantangan Zaman
Dalam paparannya, Pengawas Madrasah Drs. Roosman Faoz, M.Pd. menegaskan bahwa pengembangan kurikulum merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari apabila madrasah ingin terus meningkatkan mutu pendidikan.
“Pengembangan kurikulum madrasah merupakan sebuah keniscayaan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Kurikulum harus mampu menjawab perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam, karakter kebangsaan, dan kebutuhan peserta didik,” jelasnya.
Menurut Roosman, penyusunan kurikulum perlu dilakukan secara kolaboratif berdasarkan hasil evaluasi, analisis kebutuhan madrasah, serta mengacu pada kebijakan yang berlaku.
Dengan cara tersebut, kurikulum akan lebih relevan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan peserta didik yang terus berubah.
Guru Menjadi Teladan Budaya Cinta
Roosman menekankan bahwa implementasi Kurikulum Madrasah Berbasis Cinta tidak cukup berhenti pada penyusunan dokumen.
“Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang menjadi teladan dalam menanamkan nilai kasih sayang, penghormatan, toleransi, dan kepedulian,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa nilai cinta kepada Allah Swt., Rasulullah saw., sesama manusia, lingkungan, bangsa, dan ilmu pengetahuan harus tercermin dalam proses pembelajaran maupun budaya madrasah.
Guru, menurutnya, memegang peranan penting dalam membentuk karakter peserta didik melalui keteladanan yang konsisten setiap hari.
Kurikulum Harus Hidup di Ruang Kelas
Roosman berharap hasil workshop tidak berhenti pada penyusunan dokumen kurikulum semata.
“Saya berharap workshop ini tidak berhenti pada penyusunan dokumen kurikulum semata, tetapi menghasilkan kurikulum yang benar-benar dapat diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.”
Ia menambahkan bahwa kurikulum yang baik merupakan kurikulum yang dijalankan secara konsisten, dievaluasi secara berkala, lalu disempurnakan sesuai kebutuhan.
Menurutnya, pendekatan tersebut akan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus membentuk peserta didik yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, unggul dalam prestasi, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
Ikhtiar Membangun Generasi Berkarakter
Melalui workshop ini, MA Al-Muniroh menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan Islam yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Pengembangan kurikulum tidak lagi hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter, memperkuat empati, menumbuhkan sikap saling menghargai, serta menciptakan budaya belajar yang sehat dan menyenangkan.
Dengan mengacu pada regulasi terbaru Kementerian Agama, langkah MA Al-Muniroh menjadi bagian dari transformasi pendidikan madrasah menuju sistem pembelajaran yang lebih berkualitas, relevan, dan berkelanjutan.
Kurikulum terbaik bukan sekadar dokumen yang tersimpan di lemari sekolah. Kurikulum terbaik adalah yang hidup di ruang kelas, hadir dalam keteladanan guru, dan mampu melahirkan generasi beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta tumbuh dalam semangat cinta kepada Tuhan, sesama, dan masa depan bangsa. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar