Al Hikam: Mengapa Orang Kaya Tetap Merasa Miskin?
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
- visibility 41
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang sedang memberikan sedekah kepada lansia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH — Hampir setiap orang bekerja keras agar penghasilannya terus bertambah. Rekening bertambah, aset meningkat, dan usaha berkembang dianggap sebagai tanda keberhasilan. Namun, Al Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari justru mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat banyak orang terdiam: apakah yang bertambah benar-benar kekayaan, atau hanya angka?
Pertanyaan itu terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern. Banyak orang hidup berkecukupan, tetapi tetap dihantui rasa kurang. Sebaliknya, tidak sedikit mereka yang hidup sederhana justru tampak tenang, ringan berbagi, dan selalu merasa cukup. Di sinilah Al Hikam mengajak manusia melihat rezeki menurut Islam dari sudut pandang yang berbeda: kekayaan sejati berawal dari hati yang mengenal Allah, bukan dari dompet yang terus terisi.
Ketika Rekening Penuh, Tetapi Hati Tetap Sempit
Bayangkan dua orang pulang pada hari yang sama.
Yang pertama baru menerima keuntungan ratusan juta rupiah. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya justru dipenuhi kekhawatiran. Ia takut usahanya merugi bulan depan, takut kehilangan pelanggan, bahkan takut jika harus mengeluarkan sedikit hartanya untuk membantu orang lain.
Di sisi lain, seorang pedagang kecil menutup lapaknya dengan keuntungan yang tidak seberapa. Namun sebelum pulang, ia masih menyisihkan sebagian hasil dagangannya untuk tetangga yang sedang kesulitan.
Lalu, siapa yang sebenarnya lebih kaya?
Pertanyaan seperti inilah yang dijawab Syekh Ibnu Athaillah dalam syarah Al Hikam.
Beliau menulis:
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ (الْوَاصِلُونَ إِلَيْهِ) وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ (السَّائِرُونَ إِلَيْهِ)
“Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekayaannya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah. Dan orang yang terbatas rezekinya yaitu orang sedang berjalan menuju kepada Allah.”
Kalimat tersebut tidak sedang berbicara tentang besar kecilnya nominal sedekah. Sebaliknya, Syekh Ibnu Athaillah sedang mengajak pembaca memahami tingkat keluasan jiwa seseorang.
Kaya Bukan Soal Banyak Harta
Menurut penjelasan Syekh Ibnu Athaillah, orang yang telah sampai kepada Allah memiliki pandangan yang luas. Ia tidak lagi memandang harta sebagai miliknya sendiri, melainkan amanah yang suatu saat pasti kembali kepada Pemiliknya.
Karena itu, ia memberi dengan ringan.
Ia menolong tanpa sibuk menghitung untung dan rugi.
Ia berbagi tanpa merasa miskin.
Sebaliknya, orang yang masih berada dalam perjalanan menuju Allah sering kali masih terjebak oleh rasa takut kehilangan. Akibatnya, setiap pengeluaran terasa berat. Bahkan ketika hartanya terus bertambah, hatinya tetap merasa sempit.
Di situlah letak ironi kehidupan.
Semakin besar saldo rekening, belum tentu semakin luas hati pemiliknya.
Kurungan yang Tidak Pernah Terlihat
Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa orang yang telah sampai kepada Allah telah keluar dari “kurungan” melihat selain Allah.
Kurungan itu bukan terbuat dari besi.
Kurungan itu bernama ego.
Dan kurungan itu bernama rasa memiliki.
Serta kurungan itu bernama ketakutan kehilangan.
Selama manusia masih menganggap dirinya sebagai pemilik mutlak atas segala sesuatu, selama itu pula ia akan sulit menikmati ketenangan.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan:
“Dan nafkahkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kesempatan berbagi tidak berlangsung selamanya. Hari ini seseorang mampu bersedekah. Esok belum tentu kesempatan itu masih ada.
Satir untuk Zaman yang Gemar Pamer
Inilah ironi yang sering terlihat pada era digital.
Banyak orang rela menghabiskan jutaan rupiah demi terlihat sukses di media sosial.
Namun ketika Allah meminta sebagian kecil dari hartanya melalui sedekah, tangan itu mendadak terasa berat.
Ada yang berlomba membeli barang mewah agar dipuji manusia.
Akan tetapi, ketika diminta membantu kerabat yang kesulitan, alasan pun bermunculan.
Lebih ironis lagi, sebagian orang lebih senang memamerkan bukti transfer donasi daripada menyembunyikan amalnya.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa keikhlasan jauh lebih mahal daripada tepuk tangan manusia.
Allah SWT berfirman:
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang Allah berikan kepadanya.”
(QS. At-Talaq: 7)
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tidak pernah membandingkan nominal pemberian setiap hamba. Yang Allah lihat ialah kemampuan dan keikhlasannya.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sedekah yang paling utama adalah ketika engkau bersedekah dalam keadaan sehat, masih mengharap kaya, dan takut miskin.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa perjuangan terbesar bukan mengeluarkan uang, melainkan mengalahkan rasa takut yang bersembunyi di dalam hati.
Barangkali yang Kurang Bukan Rezeki
Banyak doa dipanjatkan agar rezeki bertambah.
Itu baik.
Namun, ada doa yang sering terlupakan.
Yaitu memohon agar hati dilapangkan.
Sebab ketika hati telah lapang, seseorang tidak akan sibuk menghitung apa yang keluar dari tangannya. Ia justru yakin bahwa setiap sedekah adalah investasi yang tidak pernah merugi di sisi Allah.
Rasa cukup tidak lahir dari banyaknya harta.
Rasa cukup lahir dari hati yang mengenal Pemilik seluruh harta.
Di situlah pesan Al Hikam terasa begitu hidup hingga hari ini.
Pada akhirnya, rekening hanyalah tempat menyimpan angka. Hati adalah tempat menyimpan iman. Ketika ajal tiba, angka akan tetap tinggal di dunia, sedangkan setiap rupiah yang pernah keluar karena Allah akan lebih dahulu menunggu pemiliknya di akhirat. Itulah kekayaan yang sesungguhnya. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar