Kalau Sukwan Kebersihan Hilang, Tasikmalaya Bisa Berantakan
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

Plh Kota Tasikmalaya, Diky Candranegara, Sabtu (23/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Nasib sukwan kebersihan di Kota Tasikmalaya akhirnya mulai mendapat perhatian serius dari pemerintah. Di tengah kondisi anggaran yang sedang ketat, isu petugas kebersihan honorer atau sukwan kebersihan justru masuk dalam daftar prioritas yang diperjuangkan untuk tahun 2026-2027.
Pernyataan itu disampaikan Plh yang menangani persoalan tersebut, Rd Diky Candranegara, saat menjelaskan bahwa pihaknya sudah menyiapkan rekomendasi khusus agar para petugas kebersihan mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Dan menariknya, pembahasan itu disebut tetap dikejar meski situasi keuangan daerah belum sepenuhnya stabil.
“Saya sempatin datang walaupun cuma beberapa menit dan minta itu dispesialkan sebagai bagian yang diajukan kepada pimpinan,” ujar Diky.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya, ada pesan besar tentang siapa sebenarnya yang selama ini menjaga wajah kota tetap bersih setiap hari.
Sukwan Kebersihan Dinilai Jadi Garda yang Jarang Terlihat
Selama ini, banyak warga mungkin hanya melihat jalan yang bersih saat pagi hari. Namun tidak banyak yang benar-benar memperhatikan siapa yang bekerja sejak subuh untuk mengangkut sampah di pinggir jalan, pasar, hingga sudut permukiman.
Padahal pekerjaan itu tidak ringan.
Di beberapa titik Kota Tasikmalaya, suara gerobak sampah kadang sudah terdengar sejak langit masih gelap. Sementara sebagian warga baru mulai membuka pintu rumah ketika petugas kebersihan selesai menyapu jalanan utama.
Dan suasana itu berlangsung hampir setiap hari.
Karena itu, Diky menegaskan bahwa keberadaan sukwan kebersihan bukan sekadar pelengkap sistem kebersihan kota.
Mereka justru menjadi bagian paling dasar yang menjaga kenyamanan masyarakat.
“Bayangin kalau tidak ada sukwan kebersihan sampai sampah menumpuk, kota berantakan. Mereka itu prioritas,” tegasnya.
Aneh, tapi nyata.
Profesi yang paling sering dilihat setiap pagi justru kadang menjadi yang paling jarang dibicarakan ketika pembahasan anggaran dimulai.
Pemkot Tasikmalaya Mulai Ubah Pola Prioritas Anggaran
Selain membahas nasib sukwan kebersihan, Diky juga menyinggung soal pola penganggaran yang selama ini dinilai terlalu longgar terhadap program-program yang tidak memiliki dampak langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, kondisi keuangan saat ini justru menjadi momentum evaluasi besar.
Karena itu, pemerintah harus mulai memilih mana program yang benar-benar penting dan mana yang hanya menghabiskan anggaran tanpa manfaat jelas.
“Yang biasanya seenaknya menganggarkan sesuatu tapi tidak ada fungsinya, sekarang harus berhenti,” katanya.
Pernyataan tersebut cukup menarik perhatian.
Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, isu efisiensi anggaran daerah memang sering menjadi sorotan publik. Masyarakat mulai lebih kritis melihat program mana yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar warga.
Dan kebersihan kota menjadi salah satunya.
Sebab ketika sampah mulai menumpuk, dampaknya langsung terasa.
Bukan hanya soal estetika kota. Tetapi juga kesehatan lingkungan, kenyamanan masyarakat, hingga citra daerah di mata pendatang.
Tidak semua pekerjaan bisa menunggu.
Keputusan Akhir Kini Ada di Tangan Wali Kota Tasikmalaya
Meski rekomendasi sudah disiapkan, keputusan akhir tetap berada di tangan Wali Kota Tasikmalaya.
Namun Diky mengaku cukup optimistis usulan tersebut akan mendapat persetujuan karena menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Ia juga memastikan usulan itu sudah disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah sehingga tidak membebani APBD secara berlebihan.
Menurutnya, pengeluaran yang berdampak langsung pada kemaslahatan masyarakat tetap layak diprioritaskan.
Dan suasana pembahasan soal sukwan kebersihan kali ini terasa berbeda.
Biasanya isu seperti ini hanya muncul sebentar lalu tenggelam oleh agenda lain. Tetapi sekarang mulai muncul kesadaran bahwa kebersihan kota bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.
Di beberapa ruas jalan Kota Tasikmalaya, warga sebenarnya cukup mudah melihat bagaimana petugas kebersihan tetap bekerja meski cuaca panas atau hujan turun sejak pagi.
Kadang mereka bekerja sambil bercanda kecil dengan rekan sesama penyapu jalan.
Kadang juga hanya diam sambil terus mengangkut kantong-kantong sampah ke atas kendaraan pengangkut.
Dan tidak semua orang benar-benar memperhatikan itu.
Sukwan Kebersihan Jadi Simbol Kerja Dasar yang Menjaga Kota Tetap Hidup
Di tengah pembahasan besar soal pembangunan, investasi, hingga proyek infrastruktur, keberadaan sukwan kebersihan sering terlihat sederhana.
Namun justru pekerjaan merekalah yang paling cepat terasa hasilnya oleh masyarakat.
Karena kota yang bersih membuat aktivitas berjalan lebih nyaman. Pasar terasa lebih sehat. Jalan terlihat lebih tertata. Dan lingkungan menjadi lebih layak dihuni.
Mungkin karena itu, pembahasan soal sukwan kebersihan kali ini tidak hanya bicara tentang anggaran.
Tetapi juga tentang penghargaan terhadap pekerjaan-pekerjaan dasar yang selama ini menopang kehidupan kota.
Dan suasana itu sulit dijelaskan.
Sebab kadang sebuah kota tidak hanya berdiri karena gedung besar atau proyek mahal.
Tetapi juga karena ada orang-orang yang diam-diam membersihkan sisa kehidupan warganya setiap pagi.
Pada akhirnya, wajah sebuah kota bukan cuma ditentukan oleh baliho besar atau proyek megah di pusat pemerintahan.
Tetapi juga oleh orang-orang yang menyapu jalan ketika sebagian besar warga masih tertidur.
Dan mungkin, di antara suara gerobak sampah yang lewat sebelum matahari terbit, ada jasa besar yang selama ini terlalu sering dianggap biasa saja. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar