Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Menhut Diminta Reformasi Tata Kelola Hutan Usai Banjir Sumatera

Menhut Diminta Reformasi Tata Kelola Hutan Usai Banjir Sumatera

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
  • visibility 222
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Editorial Albadarpost: Pemanggilan Menhut oleh DPR tentang banjir Sumatera adalah alarm tata kelola hutan yang gagal melindungi warga.


Negara yang Gagal Mengantisipasi Air dan Hutan yang Hilang

albadarpost.com, EDITORIAL – Banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam sepekan terakhir kembali membuktikan satu hal: negara belum berhasil mengelola hutan secara bertanggung jawab. Ratusan warga meninggal dunia, ratusan lagi hilang, dan ribuan kehilangan rumah. Komisi IV DPR memanggil Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni untuk menjelaskan akar masalahnya. Tuntutan publik sederhana: jawab mengapa tata kelola kehutanan selalu terlambat, dan siapa yang harus bertanggung jawab.


Fakta Dasar dan Data Lapangan

Pemanggilan Menhut oleh Komisi IV akan digelar pada 4 Desember 2025. Wakil Ketua Komisi IV, Alex Indra Lukman, menyebut fokus rapat tertuju pada penyebab banjir, terutama banyaknya gelondongan kayu yang terbawa arus. Fenomena yang bukan pertama, namun kembali menampar kesadaran publik. Kayu-kayu itu bukan kebetulan, melainkan indikator kerusakan lanskap.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan 303 warga meninggal dunia hingga 29 November 2025. Angka tersebut bisa bertambah karena proses pencarian masih berlangsung. Di lapangan, relawan menemukan puing bangunan, batang kayu besar, hingga sisa material industri kehutanan berserakan di jalur sungai. Bencana hidrometeorologi ini bukan sekadar cuaca ekstrem, tetapi akibat struktur ekologis yang rapuh.

Kementerian Kehutanan—yang seharusnya menjaga stabilitas kawasan hutan—berjanji akan mengevaluasi. Raja Juli Antoni mengutip pernyataan Presiden bahwa penebangan liar berkontribusi signifikan pada bencana. Pemerintah mengulang janji lama: momentum perbaikan tata kelola hutan. Kata evaluasi kembali menjadi mantra, sementara korban terus bertambah.


Analisis Redaksi: Tata Kelola Hutan yang Tidak Serius

Di titik ini, editorial Albadarpost menilai persoalan ini bukan lagi soal teknis kehutanan. Ketidakmampuan negara mengendalikan alih fungsi lahan adalah persoalan politik distribusi izin. Model tata kelola hutan yang dilegalkan lewat konsesi membiarkan ekosistem runtuh. Ketika gelondongan terbawa banjir, publik melihat jejak eksploitasi, bukan sekadar material hanyut.

Komisi IV DPR memanggil Menhut bukan karena ingin tahu mengapa air mengalir. Mereka ingin mencari narasi resmi yang dapat meredam kemarahan publik. Namun bila rapat hanya berhenti pada data tutupan lahan, rencana reboisasi, atau nominal rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS), maka tragedi ini hanya menjadi siklus tahunan.

Baca juga: Banjir Sumatra 2025: DPR Tekan Menhut soal Data DAS dan Rehabilitasi

Di lapangan, banjir besar selalu berulang di wilayah yang kehilangan tutupan hutan. Hutan lindung berubah menjadi perkebunan industri. Lembah sungai diubah jadi kawasan pemukiman. Kebijakan pembangunan menempatkan lingkungan sebagai asesoris ekonomi, bukan fondasi kehidupan. Inilah kegagalan tata kelola hutan.

Dampak banjir Sumatera 2025 (Foto: BPBD Aceh)

Konteks Historis dan Perbandingan

Sejak 2010, berbagai studi menunjukkan bahwa banjir besar di Sumatera selalu berkorelasi dengan penurunan tutupan hutan dan konsesi ekstraktif. Negara-negara yang berhasil menekan bencana ekologis—Jepang, Norwegia, Finlandia—bergerak pada dua strategi: regulasi ketat pada izin lahan dan perencanaan mitigasi berbasis ekosistem. Di Indonesia, penegakan hukum lebih lambat dari ekspansi industri.

Bencana kali ini mengingatkan tragedi serupa di Aceh pada 2016, juga di Sumatera Utara pada 2018. Kala itu, pemerintah berjanji menindak pembalakan liar dan memperketat izin kehutanan. Tidak ada koreksi struktural. Yang muncul justru replikasi kebijakan yang sama, diatur oleh data yang tak pernah transparan.


Sikap Redaksi: Negara Harus Menghentikan Konsesi yang Menghancurkan

Albadarpost berpihak pada warga. Kehidupan manusia tidak boleh dikalahkan oleh kalkulasi ekonomi jangka pendek. Evaluasi tata kelola hutan bukan cukup mengeluarkan peta DAS atau jumlah anggaran. Pemerintah harus mengumumkan daftar izin yang merusak, membuka catatan perusahaan yang beroperasi di hulu sungai, dan menghentikan konsesi yang terbukti memperparah banjir.

Ketika gelondongan kayu muncul di jalur air, itu bukan misteri alam. Bencana ini adalah hasil regulasi longgar dan pengawasan yang lemah. Bukan karena hujan, tetapi karena kebijakan.

Negara yang membiarkan tebing hilang dan sungai menganga bukan korban cuaca. Ia sekutu banjir. Selama tata kelola hutan hanya didefinisikan dalam rapat, bukan tindakan, Sumatera akan terus menanggung harga yang tidak mereka pilih.

Banjir Sumatera bukan akibat cuaca semata. Ini kegagalan tata kelola hutan yang harus dihentikan. (Ds)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 2.681 Bendera Galunggung

    2.681 Bendera Berkibar di Galunggung, Rekor MURI Pecah

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 64
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Sebanyak 2.681 bendera Merah Putih berkibar di kawasan puncak Gunung Galunggung, Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (17/8/2026). Pengibaran 2.681 bendera Galunggung tersebut bukan sekadar bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi juga menghasilkan rekor MURI Galunggung yang menggeser capaian sebelumnya di Gunung Ceremai, Kabupaten Kuningan. Angka […]

  • Portugal vs Kroasia

    Ronaldo atau Modric, Siapa Akhiri Mimpi di Toronto?

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 120
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Portugal vs Kroasia menjadi salah satu pertandingan paling emosional di babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026. Laga di Toronto Stadium bukan hanya menentukan satu tiket menuju babak 16 besar, tetapi juga berpotensi menjadi penampilan terakhir Cristiano Ronaldo atau Luka Modric di panggung sepak bola terbesar dunia. Selama lebih dari dua […]

  • Ilustrasi bapak dan anak dalam ujian cinta, pengorbanan, dan ketakwaan kepada Allah.

    Mengapa Nabi Ibrahim Justru Diuji Saat Sangat Mencintai Anaknya?

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 320
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Cinta seorang ayah biasanya tumbuh perlahan. Namun dalam kisah ujian Nabi Ibrahim, rasa itu hadir setelah penantian yang sangat panjang. Karena itulah banyak ulama menilai, ujian pengorbanan Nabi Ismail bukan sekadar perintah biasa, melainkan ujian keimanan paling dalam. Dalam kajian Islam, kisah ini menunjukkan bagaimana Allah menguji manusia melalui sesuatu yang paling […]

  • penanaman bawang putih

    Bawang Putih Ditanam di Pangandaran, Ada Pesan Besar TNI-Polri

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 56
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penanaman bawang putih di Kabupaten Pangandaran bukan hanya berkaitan dengan aktivitas pertanian. Kegiatan tersebut juga memperlihatkan sinergi TNI-Polri dalam mendukung program ketahanan pangan sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat di tingkat desa. Kegiatan berlangsung di Dusun Cigorowek, Desa Pangkalan, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Rabu (19/8/2026). Komandan Kodim (Dandim) 0625/Pangandaran Letkol Czi Citra Kurniawan, […]

  • Renungan tentang tanda matinya hati menurut Syekh Athaillah dan hadis Nabi Muhammad SAW

    Saat Amal Tak Lagi Dirindukan dan Dosa Tak Lagi Disesali

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 219
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE — Hati manusia hidup bukan karena detaknya, melainkan karena rasa. Selama hati masih mampu merindu pada kebaikan dan bergetar saat jatuh dalam dosa, selama itu pula iman masih bernapas di dalam dada. Namun ketika rasa itu menghilang, di situlah para ulama memberi peringatan paling sunyi dan paling menakutkan: hati mulai mati. Syekh Athaillah […]

  • Sensus Ekonomi 2026

    Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, BPS Bongkar Arah Baru Ekonomi Tasikmalaya

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 132
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Sensus Ekonomi 2026 resmi memasuki tahap penting di Kota Tasikmalaya. Di balik proses pendataan yang akan menjangkau ribuan pelaku usaha, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tasikmalaya mulai menyiapkan pasukan lapangan melalui pelatihan intensif. Program ini tidak hanya membahas teknik pendataan usaha, tetapi juga mengupas ekonomi digital dan ekonomi lingkungan yang kini […]

expand_less