Saat Gen Z Garut Menjaga Budaya Sunda Lewat Konten Digital
- account_circle redaktur
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mahasiswa Universitas Garut mengikuti Kreafest Digital Garut Festival 4.0 untuk melestarikan budaya Sunda melalui kreativitas dan teknologi digital, Kamis (4/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nalbadarpost.com, BERITA DAERAH — Di tengah derasnya arus media sosial, tren viral, dan budaya global yang datang tanpa batas, muncul satu pertanyaan penting: siapa yang akan menjaga identitas budaya Sunda di masa depan?
Jawaban itu setidaknya terlihat dalam Kreafest Digital Garut Festival 4.0, sebuah festival budaya digital yang mempertemukan kreativitas generasi muda dengan nilai-nilai tradisi Sunda. Melalui pendekatan inovatif, budaya Sunda digital tidak lagi diposisikan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai identitas yang tetap relevan di era teknologi.
Festival yang digelar Program Studi Bisnis Digital Fakultas Ekonomi Universitas Garut (Uniga) di Ciplaz Garut, Kamis (4/6/2026), menghadirkan ruang kolaborasi yang memadukan budaya, teknologi, kreativitas, dan semangat generasi muda.
Di salah satu sudut area kegiatan, peserta tampak sibuk menyiapkan penampilan tari. Beberapa mahasiswa terlihat memegang telepon genggam sambil memeriksa materi presentasi. Di sisi lain, suara musik tradisional sesekali terdengar bersahutan dengan notifikasi ponsel yang terus berbunyi.
Pemandangan yang mungkin dulu dianggap bertolak belakang.
Kini justru berjalan berdampingan.
Ketika Budaya Sunda Bertemu Dunia Digital
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Mia Herlina, menyampaikan apresiasi atas konsistensi Program Studi Bisnis Digital Uniga yang selama empat tahun berturut-turut menghadirkan ruang kreatif bagi generasi muda.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan konvensional. Sebaliknya, budaya harus mampu hadir di ruang yang saat ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda, termasuk dunia digital.
“Saya sampaikan apresiasi dan kebanggaan yang setinggi-tingginya kepada Program Studi Bisnis Digital Universitas Garut yang secara konsisten menghadirkan ruang kreatif dan inovatif bagi generasi muda dalam upaya pelestarian budaya Sunda melalui pendekatan digital,” ujarnya.
Mia menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu. Kebudayaan merupakan identitas, karakter, sekaligus kekuatan bangsa yang perlu terus berkembang mengikuti zaman.
Karena itu, pendekatan digital menjadi salah satu strategi penting agar budaya tetap dekat dengan generasi muda.
Gen Z Tidak Hanya Menonton, Tetapi Menjadi Pelaku
Salah satu hal menarik dari Kreafest 4.0 adalah pergeseran peran anak muda.
Mereka tidak hanya menjadi penonton.
Mereka menjadi kreator.
Dan mereka menjadi penggerak.
Serta mereka menjadi jembatan yang menghubungkan budaya lokal dengan dunia digital.
Hal tersebut terlihat melalui berbagai kegiatan yang digelar selama festival, mulai dari talkshow bertema “Gen Z, Konten, dan Identitas Lokal Sunda”, lomba tari tradisional modern, hingga lomba pidato Sunda.
Di sela kegiatan, beberapa peserta terlihat berdiskusi mengenai cara membuat konten budaya yang menarik untuk media sosial. Ada yang membahas algoritma TikTok. Ada yang berbicara soal storytelling budaya. Sebagian lainnya mencoba menggabungkan unsur tradisional dengan tren visual yang sedang populer.
Fragmen-fragmen kecil seperti itu menunjukkan perubahan yang sedang terjadi.
Budaya tidak lagi hanya dipelajari.
Budaya kini juga diproduksi, dikemas, dan disebarluaskan oleh generasi muda.
Uniga Ingin Budaya Tetap Menjadi Identitas
Wakil Rektor III Universitas Garut, Iman Saifullah, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata kampus dalam menjaga nilai-nilai budaya yang telah menjadi identitas masyarakat.
Ia berharap mahasiswa, khususnya dari Program Studi Bisnis Digital, mampu menjadi agen perubahan yang tidak melupakan akar budayanya meskipun hidup di era yang serba digital.
Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak menjauhkan generasi muda dari identitas lokal. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkuat dan memperkenalkan budaya kepada khalayak yang lebih luas.
Pesan itu terasa relevan.
Sebab banyak budaya lokal yang menghadapi tantangan besar di era digital.
Bukan karena kehilangan nilai.
Melainkan karena kehilangan ruang untuk tampil.
Dari Garut untuk Masa Depan Budaya Indonesia
Kreafest Digital Garut Festival 4.0 menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu berlangsung di museum atau ruang akademik.
Budaya bisa hadir di panggung kreatif.
Budaya bisa hidup di media sosial.
Dan budaya bahkan bisa berkembang melalui karya digital yang dibuat generasi muda.
Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku industri kreatif menjadi sangat penting untuk memastikan budaya lokal tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Di tengah festival, tepuk tangan peserta beberapa kali memenuhi ruangan. Di layar digital, berbagai karya mahasiswa ditampilkan bergantian. Sementara itu, para pengunjung terus berdatangan hingga acara berlangsung semakin ramai.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya festival kampus biasa.
Namun bagi yang melihat lebih dekat, ada sesuatu yang sedang tumbuh.
Harapan bahwa budaya Sunda tidak hanya bertahan.
Tetapi juga berkembang.
Jika generasi muda mampu menjadikan budaya sebagai konten dan identitas sebagai kebanggaan, maka masa depan Sunda tidak akan hilang ditelan zaman—ia justru akan menemukan panggung yang lebih besar di dunia digital. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar