15 Hektare Kebun Sawit Garut Terbakar, Polisi Turun Tangan
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Seorang petugas kepolisian sedang memadamkan api. (Foto: Polres Garut).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kebakaran lahan Garut kembali menjadi perhatian di tengah musim kemarau. Sedikitnya 15 hektare kebun kelapa sawit di lahan Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Condong Garut hangus dilalap api di Area Afdeling Gataga Blok Cicalung Datar Kolasi, Kampung Tarisi, Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Kamis (23/7/2026). Hingga kini, aparat kepolisian masih menyelidiki sumber api yang memicu kebakaran perkebunan tersebut.
Peristiwa ini tidak hanya mengakibatkan kerusakan pada area perkebunan, tetapi juga menjadi peringatan bahwa musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran lahan apabila langkah pencegahan tidak dilakukan sejak dini.
Polisi dan Damkar Bergerak Cepat Kendalikan Kobaran Api
Laporan kebakaran diterima Polsek Cikelet sekitar pukul 12.00 WIB. Begitu menerima informasi, personel kepolisian langsung menuju lokasi untuk melakukan pengecekan sekaligus berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Garut.
Tak berselang lama, tiga unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi. PT Condong Garut juga mengerahkan dua unit mobil pemadam milik perusahaan serta melibatkan karyawan untuk membantu proses pemadaman.
Selain itu, personel Polsek Cikelet, petugas Damkar, Babinsa, dan warga sekitar bahu-membahu memadamkan api secara manual di sejumlah titik. Langkah tersebut dilakukan agar kobaran api tidak menjalar ke areal perkebunan lain yang masih dipenuhi vegetasi kering.
Upaya bersama itu akhirnya berhasil mengendalikan kebakaran setelah petugas melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi.
Api Diduga Muncul Tiba-Tiba, Penyebab Masih Diselidiki
Kapolsek Cikelet IPTU Aktas Komalsyah S., S.H. menjelaskan bahwa penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Sementara itu, berdasarkan keterangan awal dari pihak perusahaan, kobaran api muncul secara tiba-tiba dari arah yang belum diketahui sebelum akhirnya merambat dengan cepat ke areal perkebunan kelapa sawit.
Kondisi cuaca yang kering diduga mempercepat penyebaran api sehingga luas lahan terdampak mencapai sekitar 15 hektare.
Meski demikian, aparat belum menyimpulkan penyebab kebakaran. Polisi masih mengumpulkan keterangan dan melakukan pemeriksaan di lokasi untuk memastikan sumber api secara akurat.
Musim Kemarau Tingkatkan Risiko Kebakaran Lahan
Memasuki musim kemarau, vegetasi yang mengering membuat lahan perkebunan lebih mudah terbakar. Karena itu, sedikit percikan api dapat berkembang menjadi kebakaran dalam waktu singkat apabila tidak segera ditangani.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemilik lahan, masyarakat, maupun pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan.
Kapolsek Cikelet mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran terbuka, termasuk membakar sampah, semak, maupun sisa hasil pertanian. Aktivitas seperti itu berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan ketika angin bertiup kencang dan kelembapan udara menurun.
Imbauan tersebut juga berlaku bagi siapa pun yang beraktivitas di sekitar kawasan perkebunan maupun hutan selama musim kemarau berlangsung.
Kolaborasi Jadi Kunci Cegah Dampak Lebih Besar
Peristiwa ini menunjukkan pentingnya respons cepat dari berbagai pihak ketika kebakaran terjadi. Koordinasi antara kepolisian, petugas pemadam kebakaran, pihak perusahaan, aparat kewilayahan, dan masyarakat mampu mempercepat proses penanganan sehingga api tidak meluas ke area yang lebih besar.
Di sisi lain, langkah pencegahan tetap menjadi cara paling efektif untuk mengurangi risiko kebakaran lahan. Pemeriksaan rutin terhadap area rawan, penyediaan sumber air darurat, patroli selama musim kemarau, serta edukasi kepada masyarakat dapat membantu menekan potensi munculnya titik api.
Hingga berita ini ditulis, petugas masih melakukan pemantauan di sekitar lokasi untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala. Sementara itu, penyelidikan mengenai penyebab pasti kebakaran masih terus berlangsung.
Musim kemarau memang tidak bisa dihentikan, tetapi kebakaran lahan masih bisa dicegah. Satu tindakan ceroboh dapat menghanguskan puluhan hektare, sedangkan satu langkah waspada mampu menyelamatkan lingkungan, aset, dan keselamatan banyak orang. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar