Majelis Taklim Hegarmanah: Spirit Keumatan lewat Kajian Isra Mikraj

albadarpost.com, KOLABORASI – Di tengah situasi umat yang dihadapkan pada tantangan sosial dan kemanusiaan, Majelis Taklim Hegarmanah menyelenggarakan kajian Isra Mi’raj sebagai ikhtiar memperkuat kesadaran keumatan. Kegiatan ini tidak hanya mengajak jamaah memahami makna spiritual perjalanan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menautkannya dengan tanggung jawab sosial antar sesama Muslim.
Kajian akan berlangsung pada Jumat, 16 Januari 2026, mulai pukul 08.15 WIB hingga selesai, bertempat di Jl. Hegarmanah No. 8, Kota Bandung. Acara ini terbuka untuk umum dan dirangkai dengan penggalangan infaq serta pengumpulan sarana ibadah bagi saudara-saudara di Aceh dan Sumatera.
Kajian Keumatan yang Berangkat dari Fakta
Mengangkat tema “Refleksi Perjalanan Isra Mikraj: Ketika Dunia Menolak, Langit Memanggil”, kajian ini diarahkan untuk mengajak umat melihat Isra Mikraj sebagai peristiwa pembentukan keteguhan iman dan ketahanan spiritual. Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi umat hari ini yang tidak jarang menghadapi tekanan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan keagamaan, dan bencana sosial di berbagai daerah.
Baca juga: Ketika Anak Menjadi Pelaku Kriminal
Penceramah utama, Ustaz Muhammad Mubarak Omo, Imam Besar Perth, Australia, dikenal aktif menyampaikan dakwah Islam yang menekankan keseimbangan antara ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial. Kehadirannya memberi perspektif keumatan global tentang pentingnya ukhuwah Islamiyah lintas batas geografis.
Sebagai bagian dari program, panitia membuka pengumpulan Al-Qur’an dan karpet untuk disalurkan ke wilayah Aceh dan Sumatera. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung aktivitas ibadah dan penguatan pendidikan keislaman di daerah yang masih membutuhkan dukungan sarana dasar.
Dampak Keumatan: Menghubungkan Majelis dan Kepedulian
Dalam perspektif keumatan, kajian Isra Mikraj ini diposisikan sebagai ruang konsolidasi nilai-nilai ukhuwah. Majelis taklim tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga simpul kepedulian umat terhadap sesama Muslim yang hidup dalam keterbatasan.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip dasar Islam tentang keberpihakan pada yang lemah. Infaq dan donasi yang dihimpun tidak dimaknai sebagai amal simbolik, melainkan bagian dari tanggung jawab kolektif umat untuk menjaga keberlangsungan ibadah dan pendidikan agama di wilayah lain.
Perspektif Ulama
Ustaz Muhammad Mubarak Omo menegaskan bahwa Isra Mikraj adalah pengingat tentang pentingnya keteguhan iman dalam menghadapi ujian kehidupan umat.
“Isra Mikraj mengajarkan bahwa kekuatan umat tidak hanya lahir dari ritual, tetapi dari kesadaran untuk saling menopang dalam kebaikan dan kepedulian,” ujarnya.
Panitia Majelis Taklim Hegarmanah menyampaikan bahwa kajian ini dirancang agar jamaah pulang dengan pemahaman yang utuh: iman yang bertumbuh dan kepekaan sosial yang terasah.
Catatan Redaksional Keumatan
Dalam dinamika umat Islam perkotaan, kegiatan seperti ini menunjukkan arah dakwah yang semakin kontekstual. Kajian Isra Mikraj tidak berhenti pada penguatan spiritual individual, tetapi bergerak menuju pembentukan kesadaran kolektif umat. Majelis ilmu diposisikan sebagai ruang pembelajaran sekaligus penguatan solidaritas keislaman lintas daerah.
Baca juga: Kewajiban Ibadah di Tengah Jaminan Rezeki dari Allah
Model ini relevan dengan kebutuhan umat hari ini, ketika tantangan keumatan tidak bisa dijawab oleh ceramah normatif semata, tetapi membutuhkan keberpihakan nyata dan kerja bersama.
Melalui kajian Isra Mikraj, Majelis Taklim Hegarmanah menghadirkan dakwah yang membumi: menguatkan iman, merawat ukhuwah, dan menyalurkan kepedulian. Dari majelis kecil di Bandung, semangat keumatan dirajut untuk menjangkau saudara-saudara di berbagai penjuru negeri. (Red)




