Strawberry Moon 2026 Hiasi Langit, Islam Mengajarkan Cara Memandangnya
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Fenomena Strawberry Moon 2026 terlihat di langit Tasikmalaya yang mengingatkan kebesaran Allah SWT., Senin (29/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Saat langit mulai gelap pada Senin (29/6/2026) malam, masyarakat Indonesia berkesempatan menyaksikan Strawberry Moon 2026, sebutan untuk purnama yang muncul pada bulan Juni. Fenomena ini diperkirakan menjadi salah satu momen astronomi yang menarik perhatian karena bulan tampak bulat penuh dan terlihat lebih besar ketika berada rendah di ufuk timur.
Berdasarkan data fase bulan yang digunakan komunitas astronomi internasional, puncak Strawberry Moon 2026 terjadi pada Selasa, 30 Juni 2026 pukul 06.56 WIB. Meski demikian, waktu terbaik untuk menikmatinya di Indonesia justru berlangsung sejak Senin malam hingga menjelang fajar karena langit masih gelap dan cahaya bulan terlihat lebih jelas.
Fenomena ini ramai dibicarakan setiap tahun. Namun, bagi umat Islam, keindahan bulan purnama tidak berhenti sebagai objek fotografi atau sekadar tren di media sosial. Al-Qur’an mengajarkan bahwa pergantian siang dan malam serta peredaran bulan merupakan tanda kekuasaan Allah SWT yang patut direnungkan.
Mengapa Disebut Strawberry Moon?
Banyak orang mengira Strawberry Moon berarti bulan berubah menjadi merah muda seperti buah stroberi. Anggapan itu kurang tepat.
Istilah tersebut berasal dari tradisi masyarakat adat di Amerika Utara yang menjadikan purnama Juni sebagai penanda musim panen stroberi. Karena itu, nama Strawberry Moon lebih merupakan penamaan budaya daripada istilah ilmiah.
Secara astronomi, Strawberry Moon tetap merupakan bulan purnama biasa. Yang membedakannya hanyalah waktu kemunculannya pada bulan Juni.
Sementara itu, kesan bulan tampak lebih besar ketika berada dekat cakrawala bukan karena ukurannya berubah. Para astronom menjelaskan kondisi itu sebagai Moon Illusion, yaitu ilusi optik yang terjadi ketika otak manusia membandingkan ukuran bulan dengan pepohonan, bangunan, atau garis horizon.
Apa yang Dapat Dilihat Masyarakat?
Jika cuaca cerah, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia dapat mengamati Strawberry Moon sejak matahari terbenam pada Senin malam.
Bulan akan muncul dari ufuk timur dengan cahaya yang terang. Menjelang tengah malam, posisinya semakin tinggi sehingga tetap mudah diamati. Bahkan, hingga sebelum matahari terbit pada Selasa dini hari, purnama masih terlihat jelas.
Fenomena ini tidak memerlukan teleskop. Mata telanjang sudah cukup untuk menikmati keindahannya, sedangkan kamera ponsel dapat digunakan untuk mengabadikan momen tersebut.
Pandangan Islam: Bulan Adalah Tanda Kebesaran Allah
Islam tidak memandang bulan hanya sebagai benda langit. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan keteraturan alam semesta sebagai bukti kekuasaan Allah SWT.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali Imran: 190).
Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.”
(QS. Yunus: 5).
Menurut tafsir para ulama, termasuk Ibnu Katsir, ayat tersebut menunjukkan bahwa keteraturan peredaran matahari dan bulan menjadi bukti kebijaksanaan Allah dalam mengatur kehidupan manusia, termasuk sebagai penentu waktu dan penanggalan.
Jangan Hubungkan dengan Mitos
Di sejumlah negara, Strawberry Moon sering dikaitkan dengan ramalan keberuntungan, energi spiritual, bahkan perubahan nasib. Dalam Islam, keyakinan semacam itu tidak memiliki dasar syariat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa fenomena langit terjadi sesuai ketetapan Allah, bukan karena kelahiran, kematian, atau peristiwa tertentu dalam kehidupan manusia.
Karena itu, umat Islam dianjurkan memandang fenomena alam dengan ilmu pengetahuan sekaligus keimanan, bukan dengan kepercayaan yang bersifat tahayul.
Pelajaran dari Langit Malam
Kemajuan astronomi membuat manusia mampu menghitung fase bulan hingga hitungan detik. Namun, kecanggihan ilmu pengetahuan justru semakin menunjukkan betapa teraturnya alam semesta yang Allah ciptakan.
Strawberry Moon 2026 menjadi pengingat bahwa di balik keindahan langit malam terdapat sistem yang berjalan sangat presisi. Tidak ada satu pun benda langit yang bergerak tanpa ketentuan-Nya.
Karena itu, menikmati purnama bukan sekadar melihat cahaya yang indah. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat rasa syukur, memperluas pengetahuan, dan semakin mengenal kebesaran Sang Pencipta.
Bulan purnama akan kembali redup ketika fajar menyingsing. Namun, hati yang mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah akan tetap bercahaya, bahkan setelah Strawberry Moon menghilang dari langit. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar