Krisis Air Tasikmalaya, Masjid Jadi Mata Air Harapan
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Warga mengantre mengambil air bersih di Masjid Jami Al Ihsan saat krisis air melanda Desa Kertanegla, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (28/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Pagi itu matahari bahkan belum sepenuhnya muncul ketika halaman Masjid Jami Al Ihsan di Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, mulai dipenuhi warga. Jerigen dan galon tersusun rapi. Anak-anak, ibu rumah tangga, hingga para orang tua datang bergantian. Mereka bukan hendak menghadiri pengajian ataupun salat berjamaah, melainkan mengantre mendapatkan air bersih.
Di tengah krisis air yang melanda wilayah tersebut selama hampir dua bulan terakhir, masjid berubah menjadi penyelamat kehidupan. Bagi sekitar 600 hingga 700 kepala keluarga di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat, aliran air dari masjid menjadi satu-satunya harapan ketika sumur-sumur rumah mengering.
Fenomena ini bukan sekadar kisah tentang kekeringan. Lebih dari itu, peristiwa tersebut menghadirkan kembali fungsi masjid sebagaimana diajarkan Islam sejak masa Rasulullah SAW, yakni menjadi pusat kemaslahatan umat.
Masjid Menjawab Kebutuhan Paling Dasar Manusia
Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) menghadapi situasi yang tidak mudah. Di satu sisi, air diperlukan untuk kebutuhan warga. Di sisi lain, air juga harus tersedia bagi jamaah yang hendak berwudu.
Karena itu, DKM mengambil jalan tengah. Warga tetap diperbolehkan mengambil air, tetapi aktivitas tersebut dihentikan sekitar 10 menit sebelum azan agar persediaan air cukup untuk keperluan ibadah.
Keputusan sederhana itu memperlihatkan satu nilai penting dalam Islam, yakni menjaga keseimbangan antara hak beribadah dan hak memenuhi kebutuhan dasar manusia.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Dan Kami menjadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”
(QS. Al-Anbiya: 30).
Ayat ini mengingatkan bahwa air bukan sekadar sumber daya alam, melainkan bagian dari nikmat Allah yang menopang seluruh kehidupan.
Masjid Sejak Awal Memang Hadir untuk Melayani Umat
Ketika Rasulullah SAW membangun Masjid Nabawi di Madinah, fungsinya tidak terbatas sebagai tempat salat.
Masjid menjadi pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, bahkan tempat menerima tamu dan membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
Apa yang dilakukan Masjid Jami Al Ihsan hari ini seakan menghidupkan kembali semangat tersebut. Di tengah keterbatasan, masjid hadir sebagai tempat yang paling mudah dijangkau masyarakat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah yang paling utama adalah memberikan air.”
(HR. Abu Dawud, dinilai hasan oleh sejumlah ulama).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa membantu orang memperoleh air termasuk amal yang memiliki nilai besar di sisi Allah SWT.

Warga Desa Kertanegla, Kabupaten Tasikmalaya antre mengambil air bersih di Masjid Jami Al Ihsan, Minggu (28/6/2026).
Krisis Air Mengajarkan Kepedulian Sosial
Pemerintah Desa Kertanegla mencatat sekitar 600 hingga 700 kepala keluarga terdampak kekeringan. Hampir setiap musim kemarau, dua dusun di wilayah tersebut mengalami persoalan yang sama.
Pemerintah desa telah mengajukan permohonan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan berharap distribusi air bersih maupun pembangunan sumur bor dapat segera direalisasikan.
Namun, selama solusi permanen belum tersedia, solidaritas masyarakat menjadi penyangga utama.
Warga rela mengantre. Pengurus masjid mengatur pembagian air. Setiap keluarga hanya mengambil dua hingga tiga jerigen agar seluruh warga tetap memperoleh bagian.
Kebersamaan seperti inilah yang menjadi kekuatan masyarakat ketika menghadapi ujian.
Allah SWT berfirman:
“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 2).
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial bukan hanya nilai kemanusiaan, tetapi juga perintah agama.
Air Boleh Terbatas, Kepedulian Jangan Sampai Kering
Krisis air memang menguji kesabaran. Akan tetapi, ujian itu juga memperlihatkan bahwa kepedulian masih mengalir di tengah masyarakat.
Masjid Jami Al Ihsan tidak hanya menyediakan air. Masjid juga menghadirkan rasa aman bagi warga yang setiap hari memikirkan kebutuhan paling mendasar keluarganya.
Peristiwa di Kecamatan Bojonggambir mengajarkan bahwa kemakmuran masjid tidak hanya diukur dari ramainya saf salat, tetapi juga dari besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat di sekitarnya.
Ketika sebuah masjid mampu menjadi tempat ibadah sekaligus tempat berteduh bagi kebutuhan sosial, di situlah nilai rahmatan lil ‘alamin benar-benar tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Masjid yang makmur bukan hanya dipenuhi jamaah ketika azan berkumandang, tetapi juga menjadi tempat pertama yang membuka pintu saat tetangganya kehausan. Di situlah ibadah dan kemanusiaan bertemu dalam satu mata air keberkahan. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar