Jalan Baru di Jahiang Ubah Harapan Warga, BSMSS Tinggalkan Warisan
- account_circle redaktur
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

BSMSS 2026 Resmi Ditutup, Jalan 1,5 Km diresmikan dengan menggunting pita Bukti Kemanunggalan TNI-Rakyat, Jumat (26/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Program BSMSS 2026 Tasikmalaya resmi berakhir. Namun bagi warga Desa Jahiang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, penutupan Bakti Siliwangi Manunggal Satata Sariksa (BSMSS) Tahun Anggaran 2026 justru menandai dimulainya harapan baru. Melalui program BSMSS Kodim 0612/Tasikmalaya, sebuah jalan semi hotmix sepanjang 1,5 kilometer kini menghubungkan kehidupan warga dengan akses yang selama bertahun-tahun mereka dambakan.
Jalan baru sepanjang 1.500 meter dengan lebar 2,5 meter tersebut tidak hanya mempercepat mobilitas masyarakat Desa Jahiang. Bagi banyak warga, jalan itu juga membuka peluang ekonomi, mempermudah akses pendidikan, serta mendekatkan pelayanan kesehatan.
Suasana haru dan penuh kebersamaan terlihat saat acara penutupan BSMSS digelar di Kantor Desa Jahiang, Jumat (26/6/2026). Ratusan warga hadir bersama jajaran Kodim 0612/Tasikmalaya, unsur pemerintah daerah, Forkopimcam Salawu, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.
Jalan Baru yang Mengubah Aktivitas Sehari-hari Warga
Di pinggir jalan yang baru selesai diaspal, beberapa anak tampak berlarian sambil sesekali mencoba mengayuh sepeda mereka di permukaan jalan yang mulus. Tidak jauh dari lokasi, seorang ibu yang membawa hasil kebun berhenti sejenak sambil memperhatikan jalan tersebut.
“Dulu kalau hujan susah lewat. Sekarang mau ke pasar atau ke puskesmas lebih mudah,” ujarnya pelan sambil tersenyum.
Bagi masyarakat Desa Jahiang, pembangunan jalan bukan sekadar proyek fisik. Infrastruktur tersebut menjadi jawaban atas berbagai kesulitan yang selama ini mereka hadapi.
Seorang warga lainnya menggambarkan perubahan tersebut dengan kalimat yang sederhana, tetapi penuh makna.
“Jalan ini bukan hanya aspal. Ini adalah akses anak-anak ke sekolah, ibu-ibu ke puskesmas, dan hasil tani warga ke pasar. Konektivitas naik, ongkos turun, ekonomi bergerak,” ungkapnya.
Peningkatan akses tersebut diharapkan mampu mempercepat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan dasar di pedesaan.
Dandim: Kemanunggalan TNI dan Rakyat Harus Terus Dijaga
Komandan Kodim 0612/Tasikmalaya, Letkol Inf. M. Imvan Ibrahim, menegaskan bahwa program BSMSS merupakan bukti nyata sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari panjang jalan yang berhasil dibangun, tetapi juga dari tumbuhnya semangat gotong royong di tengah masyarakat.
“Melalui BSMSS kita buktikan bahwa kemanunggalan TNI dengan rakyat bukan slogan. Kita turun langsung, kerja bersama, dan hasilnya bisa dirasakan warga hari ini juga,” tegas Dandim Imvan.
Ia berharap seluruh fasilitas yang telah dibangun dapat dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Selain itu, Dandim juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur harus diikuti dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Jika jalan sudah bagus, maka aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan harus ikut naik kelas,” tambahnya.
Tidak Hanya Bangun Jalan, BSMSS Hadirkan Kepedulian Sosial
Selain menyelesaikan pembangunan jalan, Kodim 0612/Tasikmalaya juga menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat kurang mampu di Desa Jahiang.
Warga penerima bantuan tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Beberapa di antaranya terlihat berbincang dengan anggota TNI yang selama pelaksanaan BSMSS bekerja bersama masyarakat.
Suasana akrab yang terbangun selama program berlangsung menjadi salah satu hal yang paling dirasakan warga.
Bagi mereka, kehadiran TNI tidak hanya terlihat saat membangun infrastruktur, tetapi juga dalam upaya memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial.
Dua Warisan yang Ditinggalkan untuk Desa Jahiang
Bagi banyak warga Desa Jahiang, BSMSS Tahun Anggaran 2026 meninggalkan dua warisan penting.
Pertama, infrastruktur jalan yang membuka akses mobilitas masyarakat. Kedua, semangat kebersamaan yang tumbuh selama proses pembangunan berlangsung.
Sesaat setelah pengguntingan pita dilakukan, sorak gembira warga terdengar di sepanjang lokasi acara. Seorang warga lanjut usia tampak berdiri cukup lama di tepi jalan yang baru selesai dibangun. Ia memperhatikan hamparan aspal tersebut sambil tersenyum kecil.
Bagi dirinya, jalan itu mungkin hanyalah sebuah infrastruktur. Namun bagi anak-anak yang akan berangkat sekolah, petani yang membawa hasil panen, serta ibu-ibu yang menuju puskesmas, jalan tersebut adalah bagian dari harapan baru yang kini terasa lebih dekat.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan pedesaan, pengalaman Desa Jahiang menunjukkan bahwa pembangunan yang paling bermakna bukanlah yang paling megah, melainkan yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ketika TNI, pemerintah, dan masyarakat memilih berjalan bersama, yang terbangun bukan hanya jalan sepanjang 1,5 kilometer, melainkan juga sebuah keyakinan bahwa harapan dapat dibangun dari desa, untuk masa depan yang lebih baik. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar