5 Fakta Muharram, Nomor 4 Mengubah Cara Pandang Hidup
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Umat Islam menyambut bulan Muharram dengan doa, dan refleksi diri pada Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Menjelang datangnya Muharram, suasana di banyak kampung muslim biasanya mulai terasa berbeda. Di halaman masjid, sejumlah anak terlihat berlatih pawai obor. Sementara itu, para pengurus DKM sibuk menyiapkan pengajian, santunan yatim, atau kegiatan menyambut Tahun Baru Islam. Namun di tengah berbagai tradisi tersebut, masih banyak orang yang belum mengetahui sejumlah fakta Bulan Muharram yang menyimpan makna mendalam.
Keistimewaan Muharram tidak hanya berkaitan dengan pergantian kalender Hijriah. Bulan yang sering disebut sebagai bulan Allah ini juga menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat ibadah, dan menata kembali arah kehidupan. Karena itu, memahami keutamaan Muharram bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan juga menjadi bekal untuk menjalani tahun yang lebih baik.
Muharram Termasuk Empat Bulan yang Dimuliakan Allah
Fakta pertama yang perlu diketahui adalah Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)
Selain Muharram, tiga bulan lainnya adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.
Para ulama menjelaskan bahwa bulan-bulan tersebut memiliki kedudukan istimewa. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh serta menjaga diri dari berbagai perbuatan yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Menariknya, kesadaran itu masih hidup di banyak daerah. Tidak sedikit warga yang memulai Muharram dengan menghadiri pengajian, memperbanyak sedekah, atau sekadar mempererat silaturahmi dengan tetangga yang selama ini jarang bertemu.
Muharram Disebut Sebagai Bulan Allah
Tidak banyak bulan yang mendapat penyebutan khusus dalam hadis. Namun Muharram memperoleh kemuliaan tersebut.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim)
Para ulama menyebut penyandaran nama bulan kepada Allah sebagai bentuk pengagungan yang menunjukkan keistimewaan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Karena itu, banyak orang saleh terdahulu menjadikan Muharram sebagai titik awal memperbaiki kebiasaan. Ada yang mulai membiasakan salat berjamaah, ada yang kembali menghidupkan tadarus Al-Qur’an, dan ada pula yang berusaha meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini sulit dihentikan.
Perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil seperti itu.
Puasa Asyura Memiliki Keutamaan yang Luar Biasa
Ketika Muharram tiba, perhatian umat Islam biasanya tertuju pada Puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram.
Amalan sunnah ini memiliki keutamaan yang sangat besar.
Rasulullah SAW bersabda:
“Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam berpuasa pada tanggal 9 Muharram atau Tasu’a untuk membedakan tradisi umat Islam dengan kaum Yahudi.
Di banyak daerah, tradisi menyambut Asyura masih bertahan hingga sekarang. Sebagian keluarga menyiapkan hidangan sederhana untuk berbuka puasa bersama. Sebagian lainnya mengisi hari tersebut dengan membaca Al-Qur’an atau mengikuti kajian keagamaan di masjid terdekat.
Meski sederhana, suasana kebersamaan seperti itu sering menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan pada hari-hari biasa.
Muharram Bukan Tentang Tahun Baru, Tetapi Tentang Hijrah
Inilah fakta yang sering terlewat.
Banyak orang memahami Muharram sebagai Tahun Baru Islam. Namun sesungguhnya, pesan terbesar bulan ini terletak pada makna hijrah.
Kalender Hijriah memang dihitung berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah. Para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab memilih peristiwa tersebut sebagai awal penanggalan Islam karena hijrah menjadi simbol perubahan besar dalam sejarah umat.
Hijrah bukan hanya berpindah tempat.
Hijrah berarti berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik.
Dan hijrah berarti meninggalkan maksiat menuju ketaatan.
Serta hijrah berarti memperbaiki diri sedikit demi sedikit, meskipun tidak langsung sempurna.
Di sinilah letak pesan Muharram yang paling relevan hingga hari ini.
Muharram Mengingatkan Bahwa Pertolongan Allah Selalu Ada
Muharram juga identik dengan kisah Nabi Musa AS yang diselamatkan Allah SWT dari kejaran Fir’aun.
Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagai bentuk syukur atas peristiwa tersebut. Karena itu, Rasulullah SAW turut berpuasa dan menganjurkan umat Islam melaksanakannya.
Kisah tersebut mengandung pelajaran yang sangat kuat.
Kadang manusia merasa berada dalam jalan buntu. Masalah ekonomi datang silih berganti. Hubungan keluarga tidak selalu berjalan mulus. Pekerjaan juga tidak selalu sesuai harapan.
Namun sejarah para nabi mengajarkan satu hal penting: pertolongan Allah sering datang pada saat manusia merasa tidak lagi memiliki jalan keluar.
Karena itu, Muharram bukan hanya bulan untuk mengenang masa lalu. Muharram adalah pengingat bahwa harapan selalu tersedia bagi siapa saja yang tetap beriman dan berusaha.
Saatnya Membuka Lembaran Baru
Muharram datang setiap tahun. Namun tidak semua orang memanfaatkannya dengan cara yang sama.
Sebagian hanya melihatnya sebagai pergantian tanggal dalam kalender. Sebagian lainnya menjadikannya sebagai titik awal perubahan hidup.
Pilihan itu ada pada diri masing-masing.
Sebab pada akhirnya, keberkahan Muharram tidak terletak pada ramainya perayaan, melainkan pada sejauh mana bulan ini mampu menggerakkan hati untuk menjadi lebih baik daripada tahun sebelumnya.
Muharram tidak meminta kita berubah menjadi manusia sempurna dalam semalam. Muharram hanya mengajak kita melangkah satu langkah lebih dekat kepada Allah. Sebab perjalanan panjang menuju kebaikan selalu dimulai dari keberanian mengambil satu langkah pertama. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar