Viral Konflik Mantan Pasangan, Islam Tegas Soal Ucapan Kasar dan Cacian
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seorang pria dan wanita yang telah berpisah saling menjaga lisan saat konflik.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Ucapan kasar Islam kembali menjadi perbincangan setelah publik ramai membahas konflik yang melibatkan mantan pasangan. Perdebatan di media sosial pun bermunculan. Sebagian membela, sebagian menyalahkan. Namun di tengah hiruk-pikuk komentar itu, muncul pertanyaan yang lebih penting: bagaimana sebenarnya Islam memandang ucapan kasar, makian, atau kata-kata yang menyakitkan saat hubungan suami istri telah berakhir?
Topik ini bukan hanya relevan bagi figur publik. Faktanya, konflik mantan pasangan terjadi setiap hari di sekitar kita. Di grup keluarga. Di ruang mediasi. Bahkan di kolom komentar media sosial.
Islam memiliki pandangan yang sangat jelas mengenai hal ini.
Lisan yang Lepas Saat Marah Sering Menimbulkan Penyesalan
Konflik hampir selalu melibatkan emosi. Ketika rasa kecewa, marah, atau sakit hati menumpuk, banyak orang merasa terdorong untuk melontarkan kata-kata yang tidak pantas.
Padahal, dalam Islam, menjaga lisan tidak hanya berlaku saat suasana baik-baik saja. Justru ukuran kematangan akhlak terlihat ketika seseorang mampu mengendalikan ucapannya saat marah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini tampak sederhana. Namun maknanya sangat dalam. Sebab banyak kerusakan hubungan berawal dari satu kalimat yang keluar tanpa pertimbangan.
Di beberapa rumah, pertengkaran besar bahkan bermula dari satu kata yang dianggap sepele. Setelah itu suasana berubah. Hubungan memburuk. Kepercayaan runtuh.
Kadang begitu.
Mantan Pasangan Tetap Memiliki Hak untuk Dihormati
Banyak orang mengira bahwa setelah perceraian selesai, maka seluruh adab juga selesai. Islam justru mengajarkan hal yang berbeda.
Al-Qur’an memerintahkan agar perpisahan dilakukan dengan cara yang baik.
Allah SWT berfirman:
“Tahanlah mereka dengan cara yang patut atau lepaskanlah mereka dengan cara yang baik.”
(QS. Al-Baqarah: 231)
Ayat ini menunjukkan bahwa sekalipun hubungan suami istri berakhir, kehormatan tetap harus dijaga.
Karena itu, mencaci, menghina, mempermalukan, atau membuka aib mantan pasangan tidak sejalan dengan semangat ajaran Islam.
Di banyak kasus, luka akibat kata-kata justru bertahan lebih lama dibanding luka karena perpisahan itu sendiri.
Seseorang mungkin mampu menerima status baru sebagai mantan suami atau mantan istri. Namun tidak mudah melupakan penghinaan yang diucapkan di depan banyak orang.
Media Sosial Membuat Ucapan Kasar Menyebar Lebih Cepat
Dulu pertengkaran hanya terdengar oleh beberapa orang. Kini satu unggahan dapat dilihat ribuan bahkan jutaan pengguna internet dalam hitungan jam.
Karena itu, tanggung jawab menjaga lisan menjadi semakin besar.
Di media sosial, tidak sedikit orang yang menulis sesuatu ketika emosi memuncak. Beberapa menit kemudian unggahan itu viral. Lalu disesali.
Namun jejak digital sering kali tetap ada.
Kadang sebuah kalimat pendek yang diketik dalam hitungan detik dapat menimbulkan perdebatan selama berhari-hari.
Ironisnya, banyak orang merasa menang setelah melontarkan sindiran keras. Padahal yang rusak bukan hanya hubungan dengan mantan pasangan, melainkan juga citra diri di hadapan publik.
Islam Mendorong Pengendalian Diri, Bukan Pelampiasan Emosi
Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini relevan dengan kehidupan modern.
Saat konflik muncul, masyarakat sering menganggap pelampiasan emosi sebagai bentuk keberanian. Padahal Islam mengajarkan sebaliknya. Menahan diri justru merupakan tanda kekuatan.
Di ruang tunggu pengadilan agama, misalnya, tidak jarang terlihat pasangan yang sudah sepakat berpisah tetapi tetap berbicara dengan tenang. Tidak ada bentakan. Tidak ada caci maki.
Mungkin hati mereka sama-sama terluka.
Namun mereka memilih menjaga martabat masing-masing.
Pilihan seperti itulah yang lebih dekat dengan nilai-nilai Islam.
Pelajaran yang Bisa Diambil Publik
Peristiwa yang ramai diperbincangkan publik seharusnya tidak berhenti sebagai tontonan. Ada pelajaran yang bisa dipetik oleh siapa pun.
Pertama, jangan biarkan emosi mengendalikan lisan.
Kedua, hormati mantan pasangan meskipun hubungan telah berakhir.
Ketiga, hindari membuka aib dan mempermalukan orang lain di ruang publik.
Keempat, ingat bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah SWT berfirman:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa lisan bukan sekadar alat berbicara. Ia juga menjadi bagian dari amal yang akan diperhitungkan.
Perceraian mungkin mengakhiri status sebagai suami dan istri. Namun perceraian tidak pernah menghapus kewajiban untuk berakhlak. Sebab dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak terlihat saat ia dicintai, melainkan saat ia tetap menjaga lisannya kepada orang yang pernah ia cintai. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar