Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Bahaya Ujub: Saat Amal Justru Menjauhkan dari Allah

Bahaya Ujub: Saat Amal Justru Menjauhkan dari Allah

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 8
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Menjelang Subuh, lampu masjid kampung masih menyala. Beberapa jamaah datang sambil merapatkan jaket. Ada yang baru mematikan mesin motor. Ada yang terburu-buru karena hampir tertinggal iqamah.

Semuanya tampak biasa.

Sangat biasa.

Namun kehidupan sering menyimpan ironi yang tidak terlihat dari luar.

Seseorang bisa rajin ke masjid setiap hari, tetapi hatinya perlahan dipenuhi kesombongan.

Sebaliknya, ada orang yang sedang berjuang keluar dari masa lalunya yang kelam, tetapi hatinya justru lebih dekat kepada Allah.

Ini terdengar aneh.

Namun sejarah agama penuh dengan kisah seperti itu.

Dan mungkin, salah satu alasan mengapa banyak orang sulit menerima kisah-kisah tersebut adalah karena diam-diam kita lebih suka menjadi hakim daripada terdakwa.

Ketika Kolom Komentar Lebih Ramai daripada Muhasabah

Hari ini, menghakimi orang lain menjadi sangat mudah.

Kadang bahkan sebelum sarapan, kolom komentar sudah lebih dulu dipenuhi vonis-vonis keagamaan.

Ada yang menilai keimanan seseorang dari foto profilnya.

Ada yang mengukur ketakwaan orang lain dari potongan video berdurasi 15 detik.

Dan ada yang merasa cukup mengenal isi hati seseorang hanya karena membaca satu status Facebook.

Anehnya, semakin sedikit informasi yang dimiliki, kadang semakin besar keberanian untuk menghakimi.

Sebagian orang mungkin belum selesai membaca Al-Fatihah Subuhnya, tetapi sudah sibuk mengukur kualitas iman orang lain.

Sebagian lagi belum sempat memeriksa kesalahan dirinya sendiri, tetapi sudah ahli menjelaskan dosa tetangganya.

Manusia memang unik.

Saat membicarakan kekurangan orang lain, ingatannya sangat tajam.

Namun ketika membicarakan kekurangan dirinya sendiri, memorinya tiba-tiba bermasalah.

Kisah yang Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman

Ibnu Athaillah As-Sakandari menulis sebuah hikmah yang terasa seperti pukulan telak bagi ego manusia:

“مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا”
“Maksiat yang melahirkan rasa hina dan membutuhkan rahmat Allah lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa mulia dan kesombongan.”

Kalimat ini tidak sedang memuji dosa.

Ia sedang membongkar jebakan yang sering tersembunyi di balik amal.

Karena ada orang yang selesai berbuat salah lalu menangis dalam sujudnya.

Dan ada orang yang selesai beribadah lalu diam-diam merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.

Yang pertama sadar bahwa dirinya membutuhkan Allah.

Yang kedua mulai merasa Allah membutuhkan dirinya.

Tentu saja itu berlebihan.

Tetapi kesombongan memang selalu berlebihan.

Ketika Langit Membuat Keputusan yang Berbeda

Dalam salah satu riwayat yang dinukil para ulama, diceritakan seorang ahli ibadah dari Bani Israil yang begitu dihormati masyarakat.

Ke mana pun ia pergi, awan menaunginya.

Kalau hidup hari ini, mungkin setara dengan seseorang yang selalu mendapat pujian, undangan ceramah, dan ribuan komentar yang berisi kata “masya Allah”.

Suatu hari, seorang perempuan yang dikenal bergelimang maksiat melihatnya.

Perempuan itu tidak datang untuk merusak.

Tidak datang untuk menggoda.

Ia hanya berharap mendapat keberkahan karena berada dekat dengan orang saleh.

Namun yang ia terima justru pengusiran.

Sederhana.

Tetapi menyakitkan.

Dan di situlah cerita berubah arah.

Allah mengampuni perempuan tersebut, sementara ahli ibadah itu kehilangan kemuliaan yang selama ini ia banggakan.

Kisah ini membuat banyak orang gelisah.

Karena kisah itu mengingatkan bahwa penampilan saleh dan keadaan hati tidak selalu berjalan beriringan.

Dosa yang Ditangisi dan Amal yang Dipamerkan

Ada perbedaan besar antara dosa yang ditangisi dan amal yang dipamerkan.

Dosa yang membuat seseorang menangis sering melahirkan taubat.

Sedangkan amal yang terus-menerus dipandang sebagai alasan untuk merasa hebat bisa melahirkan ujub.

Dan ujub adalah penyakit yang sangat licin.

Ia tidak datang dengan wajah menakutkan.

Ia datang sambil membawa tasbih.

Kadang ia datang setelah tahajud.

Kadang ia datang setelah sedekah.

Dan kadang ia datang setelah seseorang dipuji sebagai orang baik.

Karena itu para ulama lebih takut kepada ujub daripada kepada banyak dosa lahiriah.

Sebab pelaku dosa biasanya sadar bahwa dirinya sakit.

Sedangkan orang yang terkena ujub sering merasa dirinya paling sehat.

Yang Allah Lihat Tidak Selalu Sama dengan yang Dilihat Manusia

Allah berfirman:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”

(QS An-Najm: 32)

Dan Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”

(HR Muslim)

Ayat dan hadis ini seharusnya cukup membuat manusia lebih hati-hati.

Namun kenyataannya tidak selalu demikian.

Karena mengoreksi orang lain terasa lebih ringan daripada mengoreksi diri sendiri.

Menghitung dosa orang lain terasa lebih mudah daripada menghitung kesombongan yang tumbuh diam-diam dalam hati.

Padahal belum tentu orang yang hari ini kita pandang rendah berakhir lebih buruk daripada kita.

Dan belum tentu orang yang hari ini kita kagumi berakhir lebih baik daripada mereka.

Cerita belum selesai.

Takdir belum ditutup.

Kitab amal belum dikunci.

Mungkin yang paling jauh dari Allah bukanlah orang yang pernah jatuh ke dalam dosa. Mungkin yang paling jauh justru orang yang terlalu sibuk memandang ke bawah untuk melihat kesalahan orang lain, sampai lupa mendongak ke atas dan menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Allah.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin AlbadarPost)

 

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arsip Digital

    Bupati Garut Minta Arsip Kertas Dikurangi, Era Digital Dimulai

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 32
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Hujan turun cukup deras sejak pagi di kawasan Tarogong Kidul, Senin (25/5/2026). Beberapa pegawai tampak berlari kecil sambil melindungi map dokumen dengan tangan. Sebagian lainnya masuk ke Ruang Rapat Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Garut dengan ujung sepatu yang masih basah terkena genangan halaman kantor. Apel Gabungan yang awalnya direncanakan berlangsung di […]

  • penipuan perekrutan kerja

    Pemprov Jabar Percepat Pemulangan Korban Penipuan Perekrutan Kerja di Kalbar

    • calendar_month Rabu, 19 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 56
    • 0Komentar

    13 warga Garut–Tasik jadi korban penipuan perekrutan kerja di Kalbar. Pemprov Jabar siapkan evakuasi dan penyelidikan. Korban Penipuan Perekrutan Kerja Terlantar di Pedalaman Kalbar albadarpost.com, HUMANIORA – Video permintaan tolong dari 13 warga Garut dan Tasikmalaya membuka fakta baru tentang maraknya penipuan perekrutan kerja di tengah sulitnya mencari pekerjaan. Mereka ditemukan telantar di Kecamatan Sungai […]

  • edukasi kebangsaan

    Bakesbangpol Menginisiasi Edukasi Kebangsaan dan Dampaknya bagi Generasi 2045

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: edukasi kebangsaan dinilai kunci menyiapkan generasi 2045 yang kuat dan berkarakter. albadarpost.com, EDITORIAL – Inisiatif edukasi kebangsaan yang digagas Bakesbangpol Kota Tasikmalaya bersama Forum Diskusi Albadar Institute layak dibaca sebagai langkah serius memperbaiki fondasi generasi Indonesia Emas 2045. Program ini menandai kesadaran baru: masa depan negara tidak ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi oleh […]

  • Ilustrasi seseorang memainkan media sosial bertema politik dengan nuansa gelap dan reflektif menurut kajian Islam.

    Hukum Buzzer Politik dalam Islam, Halal atau Haram?

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 71
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Fenomena buzzer politik kini semakin sering dibahas masyarakat. Dalam perspektif Buzzer Politik Islam, topik ini menjadi sensitif karena berkaitan dengan etika berbicara, menyebarkan informasi, hingga tanggung jawab moral di media sosial. Tidak sedikit orang mulai mempertanyakan: apakah menjadi buzzer politik diperbolehkan dalam Islam? Pertanyaan itu muncul karena media sosial hari ini bukan […]

  • Sekolah negeri ditinggalkan

    Anggaran Sekolah Negeri Kalah Fleksibel, Swasta Makin Dilirik

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Sekolah negeri ditinggalkan. Perbedaan anggaran dengan swasta memengaruhi kualitas, fasilitas, dan pilihan orang tua. albadarpost.com, HUMANIORA – Fenomena sekolah negeri ditinggalkan orang tua tidak lepas dari persoalan anggaran pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir, data pendidikan nasional menunjukkan penurunan jumlah siswa di sekolah negeri, sementara sekolah swasta mencatat peningkatan pendaftaran. Perbedaan struktur dan fleksibilitas anggaran menjadi […]

  • Proyek PLUT Tasikmalaya dugaan korupsi pengadaan

    Kasus PLUT Tasikmalaya: Bukti Digital Terungkap, Kenapa Penegak Hukum Belum Bergerak?

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA TASIKMALAYA – Indikasi korupsi PLUT Tasikmalaya kembali mencuat ke ruang publik setelah sejumlah bukti digital dalam proses pengadaan proyek revitalisasi PLUT terungkap secara terbuka. Dugaan penyimpangan tersebut tidak hanya mengarah pada praktik tender yang tidak sehat, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar mengenai sikap aparat penegak hukum yang hingga kini belum menunjukkan langkah konkret. […]

expand_less