Tokoh Perempuan Soroti Kesejahteraan Damkar, “Mereka Sering Tinggalkan Keluarga”
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

Petugas Damkar sedang mengevakuasi sarang lebah di rumah warga Sukaratu pada Selasa malam, (19/5/2025).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Isu kesejahteraan Damkar kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah aktivis dan tokoh masyarakat mulai menyoroti sisi lain kehidupan petugas pemadam kebakaran. Bukan hanya soal keberanian memadamkan api, tetapi juga pengorbanan pribadi yang sering tidak terlihat masyarakat.
Salah satu suara datang dari aktivis dan tokoh perempuan Tasikmalaya, Ipa Zumrotul Falihah yang menyoroti keras realitas hidup petugas Damkar di lapangan.
“Petugas Damkar sering meninggalkan keluarga demi tugas mendadak tengah malam. Ada yang belum sempat makan, belum bercengkrama dengan anak, dan ada juga yang langsung berangkat saat masyarakat butuh bantuan. Pengabdian seperti ini pantas mendapat penghargaan yang layak,” ujar Direktur Yayasan Taman Jingga ini.
Pernyataan itu langsung menyentuh perhatian publik.
Karena di balik sirine dan mobil pemadam yang melaju cepat di jalan raya, ada kehidupan keluarga yang sering ikut berkorban diam-diam.
Dan itu jarang dibicarakan.
Sirine Damkar Tidak Pernah Mengenal Waktu
Selama ini masyarakat mengenal Damkar sebagai petugas yang datang saat kebakaran terjadi. Padahal tugas mereka jauh lebih luas dan berat dari yang terlihat di jalan raya.
Petugas Damkar hari ini bukan hanya memadamkan api. Mereka juga menangani:
-
evakuasi kecelakaan,
-
penyelamatan hewan,
-
bantuan banjir,
-
evakuasi warga sakit,
-
hingga kondisi darurat lainnya.
Di banyak daerah termasuk di Tasikmalaya, Damkar bahkan menjadi layanan tercepat yang dihubungi warga saat situasi panik terjadi.
Namun di balik kecepatan respons itu, ada ritme hidup yang tidak mudah.
Tidak sedikit petugas Damkar baru pulang menjelang subuh dengan seragam masih bau asap, lalu pagi harinya kembali mengantar anak sekolah atau beraktivitas seperti biasa.
Dan itu terjadi berulang.
Ada juga keluarga petugas Damkar yang sudah terbiasa terbangun tengah malam hanya karena suara nada panggilan darurat dari ponsel.
Kadang tanpa sempat berpamitan.
Keluarga Damkar Ikut Menanggung Beban Sunyi
Menurut Ipa, masyarakat sering hanya melihat aksi heroik Damkar di lokasi kejadian.
Tetapi sisi manusiawi mereka justru jarang benar-benar diperhatikan.
Ada petugas yang meninggalkan makan malam bersama keluarga demi tugas mendadak. Ada yang berangkat saat anaknya sedang tidur. Bahkan ada yang tetap bertugas setelah semalaman berjibaku di lokasi kebakaran besar.
“Pengabdian mereka luar biasa. Tetapi perhatian terhadap kesejahteraannya sering belum sebanding,” ujarnya.
Di banyak rumah petugas Damkar, suara sirine bukan lagi hal asing. Anak-anak mereka kadang sudah hafal kebiasaan ayahnya yang tiba-tiba berangkat malam hari. Bahkan ada yang memilih tidur lebih awal karena tahu sewaktu-waktu panggilan tugas bisa datang mendadak.
Situasi seperti itu perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga Damkar.
Dan sering kali, mereka menjalaninya dalam diam.
Risiko Tinggi, Tekanan Mental Besar
Pekerjaan Damkar bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga berat secara mental.
Petugas harus menghadapi:
-
ledakan,
-
asap pekat,
-
bangunan runtuh,
-
hingga risiko kehilangan nyawa.
Mereka juga sering melihat langsung korban luka, rumah hangus, bahkan tragedi keluarga di lokasi kejadian.
Namun pembahasan soal kesehatan mental petugas Damkar masih sangat minim.
Padahal tekanan psikologis mereka tidak kecil.
Belakangan mulai banyak suara yang meminta pemerintah lebih serius memperhatikan kondisi petugas Damkar, bukan hanya saat terjadi musibah besar.
Karena profesi ini menyangkut keselamatan banyak orang.
Regulasi Damkar dan Perlindungan Petugas
Secara aturan, pemerintah sebenarnya telah memiliki dasar hukum terkait penguatan layanan Damkar dan perlindungan petugas.
Beberapa regulasi tersebut antara lain:
-
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,
-
Permendagri Nomor 114 Tahun 2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Dasar Kebakaran,
-
serta Permendagri Nomor 16 Tahun 2020 tentang Pedoman Nomenklatur Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.
Regulasi tersebut menegaskan bahwa layanan pemadam kebakaran merupakan urusan wajib pelayanan dasar pemerintah daerah.
Karena itu, banyak pihak mendorong agar kesejahteraan petugas Damkar juga diperkuat melalui:
-
peningkatan honor,
-
jaminan keselamatan kerja,
-
perlindungan kesehatan,
-
hingga dukungan psikologis untuk petugas dan keluarganya.
Pengabdian yang Tidak Selalu Terlihat
Belakangan, citra Damkar memang semakin positif di mata masyarakat. Banyak video aksi mereka viral karena dianggap cepat, sigap, dan humanis.
Mulai dari evakuasi ular, evakuasi nyiruan, membantu warga sakit, sampai menolong anak kecil yang terkunci di rumah.
Namun di balik semua itu, ada kenyataan yang lebih sunyi.
Ada petugas yang tetap berjaga meski tubuhnya belum benar-benar pulih. Ada yang harus tetap tersenyum di rumah setelah malam sebelumnya menghadapi situasi penuh risiko di lapangan.
Dan kadang… penghargaan terbesar yang mereka dapat hanya ucapan singkat dari warga.
Meski begitu, mereka tetap berangkat ketika sirine berbunyi.
Karena bagi petugas Damkar, tugas kemanusiaan tidak pernah benar-benar menunggu keadaan siap.
Masyarakat memang sering melihat mobil Damkar melaju cepat membelah malam dengan suara sirine yang keras.
Tetapi jarang ada yang benar-benar memikirkan:
siapa yang mereka tinggalkan di rumah… setiap kali berangkat menyelamatkan orang lain. (Redaksi)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar