Kisah Sumur Zamzam, Dari Tangisan Seorang Ibu hingga Mengalir Ribuan Tahun
- account_circle redaktur
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi struktur sumur zamzam. (Foto: Gatra).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Matahari membakar gurun Makkah siang itu. Hamparan pasir terlihat begitu luas dan nyaris tidak menyisakan harapan. Angin panas berembus pelan melewati lembah tandus yang saat itu bahkan belum menjadi kota.
Di tempat sunyi itulah, seorang ibu berlari kecil sambil menahan panik.
Namanya Siti Hajar.
Di dekatnya, seorang bayi menangis kehausan. Tidak ada mata air. Tidak ada pepohonan. Dan tidak ada manusia lain yang bisa dimintai pertolongan.
Persediaan air telah habis.
Namun Siti Hajar tidak menyerah begitu saja.
Ia mulai berlari dari Bukit Shafa menuju Marwah. Langkahnya cepat. Napasnya mulai berat. Sesekali ia melihat ke arah anaknya yang masih kecil.
Belum ada air.
Ia kembali berlari.
Lagi dan lagi.
Tujuh kali.
Dan dari perjuangan seorang ibu di tengah gurun itulah, kisah Sumur Zamzam bermula.
Tangisan Bayi yang Mengubah Peradaban
Banyak orang mengenal zamzam sebagai air suci. Namun tidak semua menyadari bahwa kisah itu lahir dari rasa takut seorang ibu kehilangan anaknya.
Dalam keputusasaan, Allah menghadirkan pertolongan dari arah yang tidak pernah disangka.
Air tiba-tiba memancar dari dekat kaki Nabi Ismail AS.
Siti Hajar terkejut. Ia segera mengumpulkan air itu dengan kedua tangannya sambil menahan agar tidak mengalir terlalu jauh.
“Zamzam… zamzam…”
Yang berarti: berkumpullah.
Sejak saat itu, air terus keluar dari tanah tandus tersebut.
Dan ribuan tahun kemudian, jutaan manusia masih meminum air yang sama.
Allah SWT mengabadikan peristiwa sa’i antara Shafa dan Marwah dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 158)
Karena itu, setiap langkah jemaah saat sa’i bukan sekadar ritual ibadah.
Mereka sedang mengulang jejak perjuangan seorang ibu yang percaya penuh kepada pertolongan Allah.
Sumur yang Tidak Pernah Kehabisan Air
Di tengah kawasan gurun yang panas, sumur zamzam terus mengalir hingga hari ini.
Jutaan liter air dikonsumsi setiap tahun oleh jemaah haji dan umrah dari seluruh dunia. Namun sumur itu tetap bertahan.
Banyak peneliti mencoba memahami fenomena tersebut. Sebagian meneliti kandungan mineralnya. Sebagian lain mempelajari sumber aliran airnya.
Namun bagi umat Islam, zamzam bukan sekadar tentang penelitian.
Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika biasa.
Rasulullah SAW bersabda:
“Air zamzam sesuai dengan niat orang yang meminumnya.”
(HR. Ibnu Majah)
Karena itu, banyak orang meminum zamzam sambil membawa doa paling dalam di hidup mereka.
Ada yang memohon kesehatan. Ada yang meminta ketenangan. Dan ada pula yang menangis diam-diam di depan Ka’bah sambil menggenggam gelas kecil berisi zamzam.
Makkah dan Rasa yang Sulit Dijelaskan
Di area Masjidil Haram, jemaah dari berbagai negara berkumpul tanpa memandang status sosial.
Bahasa mereka berbeda. Warna kulit mereka tidak sama. Namun semua bergerak menuju tempat yang sama.
Dan di antara jutaan manusia itu, zamzam menjadi salah satu hal yang paling dicari.
Sebagian jemaah bahkan rela antre panjang hanya untuk membawa pulang beberapa liter air zamzam bagi keluarga di rumah.
Bukan karena air itu mahal.
Namun karena mereka ingin membagikan keberkahan dan kisah spiritual yang mereka rasakan di tanah suci.
Ada Alasan Mengapa Banyak Orang Menangis Saat Meminum Zamzam
Bagi sebagian orang, zamzam mungkin hanya terlihat seperti air biasa.
Namun bagi mereka yang pernah berdiri di depan Ka’bah sambil meminumnya perlahan, perasaan itu berbeda.
Ada haru yang sulit dijelaskan.
Mungkin karena setiap tetes zamzam membawa manusia kembali mengingat bahwa pertolongan Allah bisa datang di saat keadaan terasa paling mustahil.
Kisah zamzam juga mengajarkan bahwa harapan tidak selalu lahir dari tempat yang nyaman.
Kadang justru dari gurun paling sunyi, Allah menghadirkan keajaiban yang mengubah sejarah dunia.
Dan hingga hari ini, sumur zamzam terus mengalir.
Bukan hanya mengalirkan air.
Tetapi juga mengalirkan harapan, doa, dan kerinduan jutaan hati yang selalu ingin kembali ke Makkah. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar