Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Kita Rayakan Kartini, Tapi Lupa Ajaran Islamnya

Kita Rayakan Kartini, Tapi Lupa Ajaran Islamnya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
  • visibility 75
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, EDITORIAL – Setiap tahun, publik merayakan Hari Kartini dengan lomba kebaya dan seremoni. Tapi jujur saja—kita lebih sibuk merayakan simbol daripada memahami gagasan Raden Ajeng Kartini. Padahal, Kartini Islampemikiran Kartini dalam Islam, dan emansipasi perempuan menurut Islam menyimpan satu pertanyaan yang belum terjawab sampai hari ini: kenapa ajaran yang memuliakan perempuan justru terasa hilang dalam praktik?

Ini bukan sekadar sejarah. Ini soal kejujuran.

Kartini Tidak Melawan Islam—Ia Menggugat Cara Kita Memahaminya

Kartini hidup dalam tekanan budaya feodal Jawa. Ia dipingit, dibatasi, dan diposisikan sebagai “kelas dua”. Namun ia tidak serta-merta menyalahkan agama. Lebih tajam lagi: ia justru mempertanyakan, apakah ajaran Islam benar mengajarkan ini, atau kita hanya membungkus tradisi dengan agama?

Pertanyaan ini masih relevan hari ini.

Sebab, dalam banyak kasus, masyarakat sering mencampuradukkan nilai agama dengan kebiasaan turun-temurun. Akibatnya, perempuan kehilangan ruang—bukan karena Islam, tapi karena tafsir yang sempit.

Padahal, sejak awal, Nabi Muhammad membawa perubahan radikal. Ia menghapus praktik jahiliyah yang merendahkan perempuan dan mengangkat derajat mereka sebagai manusia utuh.

Sejarah Islam Sudah Membuktikan: Perempuan Tidak Pernah Kecil

Jika kita jujur membaca sejarah, perempuan dalam Islam justru tampil kuat dan berpengaruh.

  • Aisyah binti Abu Bakar bukan hanya istri Nabi, tapi juga rujukan ilmu

  • Khadijah binti Khuwailid adalah pebisnis sukses yang mandiri

  • Fatimah az-Zahra menjadi simbol kekuatan moral dan spiritual

Lebih tajam lagi: kita sering melupakan fakta ini. Kita justru membangun narasi sebaliknya, yakni menempatkan perempuan selalu di belakang.

Di titik ini, Kartini menemukan relevansinya. Ia seperti mengingatkan kembali sesuatu yang sebenarnya sudah ada, tetapi tertutup oleh kebiasaan sosial.

Kartini dan “Iqra”: Perlawanan Melalui Ilmu

Kartini percaya satu hal: kebodohan adalah akar ketidakadilan. Karena itu, ia mendorong perempuan untuk belajar.

Ini bukan gagasan Barat. Ini inti ajaran Islam.

Wahyu pertama yang diterima Nabi adalah perintah membaca. Artinya, Islam meletakkan ilmu sebagai fondasi. Lebih tajam lagi: tanpa ilmu, orang lain mudah mengendalikan manusia. Tanpa ilmu, masyarakat mudah meminggirkan perempuan.

Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menulis tentang harapan, kegelisahan, dan pencarian makna. Ia tidak sekadar ingin bebas, tapi ingin tercerahkan.

Dan di sinilah letak kekuatan Kartini: ia melawan bukan dengan amarah, tapi dengan kesadaran.

Realita Hari Ini: Kita Merayakan, Tapi Tidak Melanjutkan

Sekarang, mari lihat kondisi hari ini.

Perempuan memang punya lebih banyak akses. Namun:

  • Ketimpangan pendidikan masih terjadi di banyak daerah

  • Diskriminasi di dunia kerja belum sepenuhnya hilang

  • Stereotip “perempuan harus begini” masih kuat

Di saat yang sama, Hari Kartini berubah menjadi rutinitas tahunan. Ada lomba, ada seremoni, lalu selesai.

Pertanyaannya sederhana: apakah ini yang Kartini inginkan?

Jika Kartini hanya berhenti di panggung perayaan, maka kita sedang mengulang kesalahan yang sama—mengabaikan substansi, memuja simbol.

Yang Dilupakan Itu Bukan Kartini, Tapi Nilainya

Masalahnya bukan pada kurangnya peringatan. Masalahnya ada pada cara kita memahami perjuangan.

Kartini tidak pernah meminta dipuja. Ia ingin perubahan.

Jika hari ini masih ada perempuan yang sulit mengakses pendidikan, maka perjuangan itu belum selesai. Jika masih ada tafsir sempit yang membatasi peran perempuan, maka masyarakat belum benar-benar memahami pesan Kartini.

Lebih tajam lagi: jika tradisi masih digunakan untuk melegitimasi ketidakadilan, maka kita perlu mengoreksi cara kita membaca Islam—bukan ajarannya.

Kartini Adalah Alarm, Bukan Monumen

Kartini bukan sekadar narasi sejarah. Ia adalah alarm yang terus berbunyi.

Ia mengingatkan bahwa Islam sudah membawa nilai keadilan sejak awal. Namun, nilai itu bisa hilang jika manusia berhenti berpikir.

Hari Kartini seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia harus menjadi momen evaluasi: apakah kita sudah adil? Apakah kita sudah memberi ruang yang sama? Atau kita masih nyaman dengan ketimpangan yang dibungkus tradisi?

Kartini telah menyalakan cahaya. Pertanyaannya, kita mau melanjutkan—atau cukup menikmati terang tanpa bergerak? (Redaksi)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan memberi keterangan soal calon Plh Sekda Tasikmalaya tahun 2026.

    Sekda Naik Haji, Siapa Pengganti Sementara? Clue Viman Bikin ASN Tegang

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 53
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Jabatan Plh Sekda Tasikmalaya mulai memancing perhatian publik menjelang keberangkatan Sekda definitif, Asep Goparulloh, ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji pada 13 Mei 2026. Posisi strategis pengendali birokrasi itu kini menjadi bahan pembicaraan hangat di lingkungan ASN maupun masyarakat Kota Tasikmalaya. Spekulasi mengenai calon Pelaksana Harian Sekda Tasikmalaya semakin menguat […]

  • hak melapor korupsi

    Melapor Korupsi, Kerap Terasa Berisiko?

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Mekanisme pelaporan korupsi dijamin undang-undang. Namun, sejauh mana negara memberi rasa aman bagi warga yang melapor? Perspektif Albadarpost mengulasnya. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Di banyak obrolan warung kopi, korupsi sering dibicarakan sebagai sesuatu yang “semua orang tahu” tetapi jarang disentuh. Bukan karena warga tak peduli, melainkan karena ada jarak antara pengetahuan dan keberanian. Di titik inilah […]

  • Pertemuan Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya dengan pengelola lapangan padel bahas izin PBG dan SLF

    Izin Lapangan Padel Tasikmalaya Disepakati, Operasional Tetap Jalan

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 73
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Polemik izin lapangan padel Tasikmalaya akhirnya menemukan jalan keluar. Isu perizinan padel atau legalitas operasional lapangan padel yang sempat memicu sidak kini mulai mereda. Pemerintah daerah dan pengelola sepakat menjaga stabilitas usaha sekaligus memastikan seluruh proses izin padel Tasikmalaya berjalan sesuai aturan. Pertemuan yang digelar Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya pada […]

  • Seseorang duduk sendirian di tengah kesibukan kota sambil merenung tentang ketenangan hati menurut hadis Nabi.

    Hadis Nabi tentang Sibuk Dunia, Tapi Hati Tidak Pernah Tenang

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 79
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pagi dimulai dengan notifikasi. Siang dipenuhi target. Malam masih sibuk memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Banyak orang hari ini terlihat produktif, aktif, bahkan sukses di mata orang lain. Namun diam-diam, hati terasa lelah dan sulit tenang. Dalam Islam, keadaan seperti itu ternyata pernah disinggung Rasulullah SAW melalui hadis tentang sibuk dunia dan […]

  • peran pesantren

    Pesantren Kini Tak Lagi Hanya Mengajar Agama

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 105
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Pesantren selama ini dikenal sebagai tempat belajar agama. Namun, peran pesantren di tengah masyarakat jauh lebih besar. Lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren, dan pusat pembinaan umat kini menjadi kekuatan penting yang membentuk karakter, menjaga budaya, sekaligus menggerakkan ekonomi warga. Di banyak daerah, pesantren tidak hanya mencetak santri yang memahami ilmu agama. Sebaliknya, […]

  • Peserta GEN Z Space Vol 4 di IPI Garut mengikuti talkshow literasi digital dan pengembangan kreativitas generasi muda.

    Viral Saja Tak Cukup, Generasi Z Garut Diajak Menciptakan Perubahan

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 27
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Di tengah kebiasaan generasi muda yang nyaris tidak pernah jauh dari layar ponsel, kegiatan Gen Z Space Garut hadir membawa pesan yang berbeda. Media sosial dan dunia digital bukan hanya tempat mencari hiburan atau mengikuti tren viral, tetapi juga ruang untuk menciptakan dampak nyata bagi masyarakat. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan […]

expand_less