Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Kita Rayakan Kartini, Tapi Lupa Ajaran Islamnya

Kita Rayakan Kartini, Tapi Lupa Ajaran Islamnya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 9
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, EDITORIAL – Setiap tahun, publik merayakan Hari Kartini dengan lomba kebaya dan seremoni. Tapi jujur saja—kita lebih sibuk merayakan simbol daripada memahami gagasan Raden Ajeng Kartini. Padahal, Kartini Islampemikiran Kartini dalam Islam, dan emansipasi perempuan menurut Islam menyimpan satu pertanyaan yang belum terjawab sampai hari ini: kenapa ajaran yang memuliakan perempuan justru terasa hilang dalam praktik?

Ini bukan sekadar sejarah. Ini soal kejujuran.

Kartini Tidak Melawan Islam—Ia Menggugat Cara Kita Memahaminya

Kartini hidup dalam tekanan budaya feodal Jawa. Ia dipingit, dibatasi, dan diposisikan sebagai “kelas dua”. Namun ia tidak serta-merta menyalahkan agama. Lebih tajam lagi: ia justru mempertanyakan, apakah ajaran Islam benar mengajarkan ini, atau kita hanya membungkus tradisi dengan agama?

Pertanyaan ini masih relevan hari ini.

Sebab, dalam banyak kasus, masyarakat sering mencampuradukkan nilai agama dengan kebiasaan turun-temurun. Akibatnya, perempuan kehilangan ruang—bukan karena Islam, tapi karena tafsir yang sempit.

Padahal, sejak awal, Nabi Muhammad membawa perubahan radikal. Ia menghapus praktik jahiliyah yang merendahkan perempuan dan mengangkat derajat mereka sebagai manusia utuh.

Sejarah Islam Sudah Membuktikan: Perempuan Tidak Pernah Kecil

Jika kita jujur membaca sejarah, perempuan dalam Islam justru tampil kuat dan berpengaruh.

  • Aisyah binti Abu Bakar bukan hanya istri Nabi, tapi juga rujukan ilmu

  • Khadijah binti Khuwailid adalah pebisnis sukses yang mandiri

  • Fatimah az-Zahra menjadi simbol kekuatan moral dan spiritual

Lebih tajam lagi: kita sering melupakan fakta ini. Kita justru membangun narasi sebaliknya, yakni menempatkan perempuan selalu di belakang.

Di titik ini, Kartini menemukan relevansinya. Ia seperti mengingatkan kembali sesuatu yang sebenarnya sudah ada, tetapi tertutup oleh kebiasaan sosial.

Kartini dan “Iqra”: Perlawanan Melalui Ilmu

Kartini percaya satu hal: kebodohan adalah akar ketidakadilan. Karena itu, ia mendorong perempuan untuk belajar.

Ini bukan gagasan Barat. Ini inti ajaran Islam.

Wahyu pertama yang diterima Nabi adalah perintah membaca. Artinya, Islam meletakkan ilmu sebagai fondasi. Lebih tajam lagi: tanpa ilmu, orang lain mudah mengendalikan manusia. Tanpa ilmu, masyarakat mudah meminggirkan perempuan.

Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menulis tentang harapan, kegelisahan, dan pencarian makna. Ia tidak sekadar ingin bebas, tapi ingin tercerahkan.

Dan di sinilah letak kekuatan Kartini: ia melawan bukan dengan amarah, tapi dengan kesadaran.

Realita Hari Ini: Kita Merayakan, Tapi Tidak Melanjutkan

Sekarang, mari lihat kondisi hari ini.

Perempuan memang punya lebih banyak akses. Namun:

  • Ketimpangan pendidikan masih terjadi di banyak daerah

  • Diskriminasi di dunia kerja belum sepenuhnya hilang

  • Stereotip “perempuan harus begini” masih kuat

Di saat yang sama, Hari Kartini berubah menjadi rutinitas tahunan. Ada lomba, ada seremoni, lalu selesai.

Pertanyaannya sederhana: apakah ini yang Kartini inginkan?

Jika Kartini hanya berhenti di panggung perayaan, maka kita sedang mengulang kesalahan yang sama—mengabaikan substansi, memuja simbol.

Yang Dilupakan Itu Bukan Kartini, Tapi Nilainya

Masalahnya bukan pada kurangnya peringatan. Masalahnya ada pada cara kita memahami perjuangan.

Kartini tidak pernah meminta dipuja. Ia ingin perubahan.

Jika hari ini masih ada perempuan yang sulit mengakses pendidikan, maka perjuangan itu belum selesai. Jika masih ada tafsir sempit yang membatasi peran perempuan, maka masyarakat belum benar-benar memahami pesan Kartini.

Lebih tajam lagi: jika tradisi masih digunakan untuk melegitimasi ketidakadilan, maka kita perlu mengoreksi cara kita membaca Islam—bukan ajarannya.

Kartini Adalah Alarm, Bukan Monumen

Kartini bukan sekadar narasi sejarah. Ia adalah alarm yang terus berbunyi.

Ia mengingatkan bahwa Islam sudah membawa nilai keadilan sejak awal. Namun, nilai itu bisa hilang jika manusia berhenti berpikir.

Hari Kartini seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia harus menjadi momen evaluasi: apakah kita sudah adil? Apakah kita sudah memberi ruang yang sama? Atau kita masih nyaman dengan ketimpangan yang dibungkus tradisi?

Kartini telah menyalakan cahaya. Pertanyaannya, kita mau melanjutkan—atau cukup menikmati terang tanpa bergerak? (Redaksi)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • banjir Sumatera

    Menhut Diminta Reformasi Tata Kelola Hutan Usai Banjir Sumatera

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: Pemanggilan Menhut oleh DPR tentang banjir Sumatera adalah alarm tata kelola hutan yang gagal melindungi warga. Negara yang Gagal Mengantisipasi Air dan Hutan yang Hilang albadarpost.com, EDITORIAL – Banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam sepekan terakhir kembali membuktikan satu hal: negara belum berhasil mengelola hutan secara bertanggung jawab. […]

  • radikalisme digital

    Radikalisme Digital: Ancaman Baru yang Tumbuh di Saku Anak-anak

    • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 26
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF — Setiap kali laporan baru tentang radikalisasi muncul, publik sering membayangkan proses perekrutan yang berlangsung di ruang-ruang gelap. Dalam imajinasi itu, ekstremisme tumbuh jauh dari pusat kehidupan sehari-hari. Namun data beberapa tahun terakhir menabrak asumsi tersebut. Radikalisme kini hadir melalui jalur yang justru paling dekat: ponsel anak-anak. Perangkat yang semestinya menjadi ruang belajar […]

  • Presiden Prabowo menyampaikan respons diplomatik Indonesia terkait Putusan Mahkamah Agung AS tentang kebijakan tarif global Amerika Serikat.

    Putusan Mahkamah Agung AS, Indonesia Siap Hadapi Dampak

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 16
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA — Putusan Mahkamah Agung AS terkait penolakan tarif global yang dikaitkan dengan Donald Trump memicu respons diplomatik Indonesia. Menyikapi Putusan Mahkamah Agung AS tersebut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah siap menghadapi segala kemungkinan. Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat itu dinilai sebagai dinamika hukum domestik yang tetap berpotensi memengaruhi lanskap perdagangan internasional. […]

  • kesiapsiagaan bencana

    Pemkot Tasikmalaya Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Jelang Musim Hujan

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Tasikmalaya memperkuat kesiapsiagaan bencana dan pengamanan Nataru 2025/2026 lewat apel terpadu. albadarpost.com, LENSA – Pemerintah Kota Tasikmalaya masuk ke mode waspada. Memasuki musim hujan panjang dan momentum Natal–Tahun Baru, kesiapsiagaan bencana menjadi prioritas daerah. Pemerintah kota menegaskan langkah ini penting untuk melindungi warga dari ancaman hidrometeorologi dan memastikan aktivitas akhir tahun tetap aman. Pemkot Tasikmalaya […]

  • Satgas Pendapatan Daerah

    Pemkab Tasikmalaya Genjot Pendapatan Daerah

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Pemkab Tasikmalaya memperkuat Satgas Pendapatan Daerah guna menaikkan kemandirian fiskal yang masih rendah. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya memperkuat kinerja Satuan Tugas Optimalisasi Pendapatan Daerah sebagai langkah strategis menghadapi rendahnya tingkat kemandirian fiskal. Penguatan ini ditegaskan dalam rapat koordinasi lintas perangkat daerah yang digelar di Aula Wiradadaha Bappelitbangda Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (23/12/2025). Langkah […]

  • peradaban Islam Andalusia

    Fakta Tersembunyi Andalusia: Peradaban Islam yang Lebih Maju dari Eropa

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 24
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Peradaban Islam Andalusia, kejayaan Islam di Andalusia, hingga warisan Islam Spanyol sering hanya dikenal dari sisi kemegahan arsitektur. Namun, di balik itu, terdapat lapisan sejarah yang jauh lebih kompleks, dinamis, dan jarang dibahas. Justru dari sisi inilah peradaban Islam Andalusia memberi dampak besar pada dunia modern—baik dalam ilmu pengetahuan, toleransi sosial, maupun […]

expand_less