Breaking News
light_mode
Beranda » Lifestyle » Bolehkah Menjual Barang Kredit? Simak Jawabannya

Bolehkah Menjual Barang Kredit? Simak Jawabannya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
  • visibility 258
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, LIFESTYLE – Pertanyaan tentang menjual barang kredit sering muncul di tengah masyarakat. Banyak orang ingin tahu hukum menjual barang kredit, terutama ketika seseorang membeli barang secara cicilan lalu ingin menjualnya kembali sebelum lunas. Praktik menjual barang yang masih kredit atau jual barang cicilan memang cukup sering terjadi, misalnya pada kendaraan, elektronik, atau properti.

Namun, apakah tindakan tersebut dibolehkan dalam Islam?

Sebagian orang menganggap transaksi ini sah karena barang sudah berada di tangan pembeli. Di sisi lain, ada juga yang meragukannya karena pembayaran belum selesai. Oleh karena itu, memahami hukum fiqih mengenai masalah ini sangat penting agar transaksi tetap halal dan tidak melanggar syariat.

Apa Itu Menjual Barang Kredit?

Menjual barang kredit berarti seseorang menjual kembali barang yang ia beli melalui sistem cicilan sebelum seluruh pembayaran selesai.

Contohnya cukup sederhana. Seseorang membeli motor dengan cicilan tiga tahun. Setelah satu tahun berjalan, ia memutuskan menjual motor tersebut karena membutuhkan uang atau ingin mengganti kendaraan.

Situasi seperti ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah seseorang memiliki hak penuh untuk menjual barang tersebut?

Dalam fiqih muamalah, jawaban atas pertanyaan ini sangat bergantung pada status kepemilikan barang.

Jika kepemilikan sudah sah berpindah kepada pembeli, maka ia memiliki hak untuk menjualnya. Sebaliknya, jika kepemilikan masih berada pada penjual atau lembaga pembiayaan, maka transaksi tersebut tidak diperbolehkan.

Hukum Menjual Barang Kredit dalam Islam

Secara umum, menjual barang kredit diperbolehkan dalam Islam selama barang tersebut telah menjadi milik sah pembeli.

Artinya, akad jual beli pertama sudah selesai dan pembeli memiliki hak penuh atas barang tersebut meskipun pembayaran dilakukan secara bertahap.

Prinsip ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW:

“Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak engkau miliki.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa seseorang hanya boleh menjual barang yang benar-benar berada dalam kepemilikannya.

Karena itu, selama barang yang dibeli secara kredit telah berpindah kepemilikan kepada pembeli, maka ia boleh menjualnya kembali.

Namun, jika akad kredit menyatakan bahwa barang tetap menjadi milik penjual atau lembaga pembiayaan sampai cicilan lunas, maka pembeli tidak boleh menjualnya.

Dalil Al-Qur’an tentang Jual Beli

Islam mendorong umatnya untuk melakukan transaksi secara adil dan transparan. Al-Qur’an menjelaskan bahwa aktivitas jual beli pada dasarnya diperbolehkan.

Allah SWT berfirman:

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak melarang aktivitas perdagangan selama tidak mengandung unsur riba, penipuan, atau ketidakjelasan.

Selain itu, Al-Qur’an juga menekankan pentingnya kejelasan akad dalam transaksi.

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”
(QS. Al-Baqarah: 282)

Ayat ini menjadi dasar penting dalam transaksi kredit agar hak dan kewajiban semua pihak tetap jelas.

Pendapat Ulama tentang Menjual Barang Cicilan

Mayoritas ulama membolehkan jual beli barang kredit selama beberapa syarat terpenuhi.

Pertama, kepemilikan barang sudah sah berpindah kepada pembeli. Kedua, tidak ada larangan dalam perjanjian kredit. Ketiga, transaksi dilakukan secara jujur tanpa menipu pihak lain.

Para ulama fiqih juga menekankan bahwa akad harus jelas sejak awal. Jika akad menyebutkan bahwa barang langsung menjadi milik pembeli setelah transaksi, maka ia bebas memanfaatkannya, termasuk menjualnya.

Namun, jika akad menyatakan bahwa barang tetap menjadi milik penjual sampai lunas, maka pembeli hanya memiliki hak pakai, bukan hak kepemilikan.

Kondisi Ketika Menjual Barang Kredit Tidak Diperbolehkan

Walaupun Islam memberi kelonggaran dalam jual beli, ada beberapa kondisi yang membuat menjual barang kredit menjadi tidak sah.

Pertama, barang belum menjadi milik pembeli secara hukum. Kedua, perjanjian kredit secara jelas melarang penjualan sebelum pelunasan. Ketiga, transaksi dilakukan tanpa sepengetahuan pihak yang masih memiliki hak atas barang tersebut.

Selain itu, praktik over kredit yang tidak transparan juga berpotensi menimbulkan masalah hukum dan syariah.

Oleh karena itu, seseorang harus memahami isi perjanjian kredit sebelum melakukan transaksi baru.

Cara Aman Menjual Barang yang Masih Kredit

Agar transaksi tetap halal dan aman, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, baca kembali isi perjanjian kredit dengan teliti. Kedua, pastikan status kepemilikan barang sudah jelas. Ketiga, komunikasikan rencana penjualan kepada pihak pembiayaan jika diperlukan.

Selain itu, banyak lembaga pembiayaan menyediakan mekanisme resmi untuk pengalihan cicilan atau over kredit.

Melalui prosedur ini, pembeli baru dapat melanjutkan cicilan secara legal. Dengan demikian, semua pihak tetap terlindungi dan transaksi berjalan sesuai aturan.

Mengapa Memahami Hukum Ini Penting?

Transaksi kredit semakin umum dalam kehidupan modern. Kendaraan, rumah, hingga barang elektronik sering dibeli melalui sistem cicilan.

Karena itu, memahami hukum menjual barang kredit menjadi sangat penting agar umat Muslim tidak terjebak dalam transaksi yang meragukan.

Selain itu, pengetahuan ini juga membantu masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi secara lebih bijak dan sesuai syariat.


Secara umum, menjual barang kredit diperbolehkan dalam Islam selama kepemilikan barang sudah sah berpindah kepada pembeli dan tidak melanggar isi akad kredit.

Namun, jika barang masih menjadi milik pihak penjual atau lembaga pembiayaan, maka pembeli tidak memiliki hak untuk menjualnya.

Karena itu, sebelum melakukan transaksi, penting untuk memastikan status kepemilikan barang dan memahami isi perjanjian kredit.

Dengan cara ini, transaksi dapat berjalan secara halal, adil, dan sesuai dengan prinsip ekonomi Islam. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KCD XII Tasikmalaya dan SMA Islam Tarbiyatul Ummah Bersinergi Tingkatkan Mutu Pendidikan

    KCD XII Tasikmalaya dan SMA Islam Tarbiyatul Ummah Bersinergi Tingkatkan Mutu Pendidikan

    • calendar_month Sabtu, 4 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 233
    • 0Komentar

    KCD XII Tasikmalaya dan SMA Islam Tarbiyatul Ummah bersinergi membangun mutu pendidikan yang unggul dan berkelanjutan. albadarpost.com, WARTA MITRA. Dalam upaya memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan dan pemerintah, SMA Islam Tarbiyatul Ummah Sindangwangi menggelar rapat silaturahmi sekaligus koordinasi bersama Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah XII Tasikmalaya, Sabtu (4/10/2025). Pertemuan yang berlangsung di aula sekolah itu […]

  • investasi bodong

    IRT Subang Jadi Korban Investasi Bodong

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 229
    • 0Komentar

    Modus investasi bodong kembali menjerat korban. IRT di Subang kehilangan miliaran akibat iming-iming untung besar. albadarpost.com, HUMANIORA – Skema investasi bodong kembali menjerat masyarakat. Kali ini, seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, menjadi korban setelah dana miliaran rupiah yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun raib tanpa kejelasan. Kasus ini menegaskan bahwa kejahatan finansial […]

  • Timor Leste vs Indonesia

    Mengapa Timor Leste vs Indonesia Sepi Penonton?

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 97
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL– Timor Leste vs Indonesia menjadi salah satu pertandingan yang menyita perhatian pada Kejuaraan ASEAN. Namun, di balik kemenangan meyakinkan Timnas Indonesia, banyak penonton televisi dan warganet justru menyoroti hal lain. Tribun stadion tampak lengang sehingga memunculkan pertanyaan, mengapa pertandingan tersebut terlihat sepi penonton? Berdasarkan informasi penyelenggara dan jadwal resmi ASEAN Football Federation […]

  • Suasana Balai Kota Tasikmalaya dengan spanduk kritik sebagai simbol kekecewaan publik terhadap komunikasi kepemimpinan wali kota.

    Kritik Wali Kota Tasikmalaya dan Ujian Komunikasi Publik

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 196
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kepemimpinan tidak hanya diukur dari kebijakan yang tertulis, tetapi juga dari cara seorang pemimpin hadir dan merespons warganya. Di Tasikmalaya, kritik wali kota Tasikmalaya kembali mengemuka, kali ini melalui sebuah spanduk yang terpasang di area Balai Kota. Spanduk itu sederhana, namun pesannya tajam: “Wapres Datang Wali Kota Terdepan. Giliran Masyarakat Datang […]

  • Orang Hilang Ciamis

    Dicari Keluarga, Ojek Malam Ciamis Hilang Usai Antar Penumpang

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 111
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Orang Hilang Ciamis kembali menjadi perhatian publik setelah seorang warga Kecamatan Rajadesa dilaporkan belum kembali ke rumah usai mengantar penumpang pada malam hari. Hingga kini, pencarian warga Ciamis tersebut masih terus dilakukan dengan harapan ada masyarakat yang dapat memberikan informasi mengenai keberadaannya. Berdasarkan Laporan Keterangan Orang Hilang yang diterbitkan Polsek Rajadesa, pria […]

  • Ilustrasi pelaku UMKM memanfaatkan kekayaan intelektual sebagai agunan KUR untuk mendapatkan pembiayaan usaha.

    Resmi! KI Jadi Agunan KUR, UMKM Kini Punya Akses Modal Baru

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 175
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kekeyaan Intelektual (KI) jadi agunan KUR resmi diberlakukan. Skema baru ini membuka jalan bagi pelaku usaha mikro dan kecil untuk mengakses pembiayaan hanya dengan bermodal karya. Kebijakan ini menjadi titik balik, karena untuk pertama kalinya kekayaan intelektual—atau hak cipta, merek, dan paten—diakui sebagai jaminan tambahan dalam sistem Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan […]

expand_less