Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Bahaya Nikmat: Ketika Rezeki Justru Jadi Jebakan

Bahaya Nikmat: Ketika Rezeki Justru Jadi Jebakan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
  • visibility 158
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Nikmat atau istidraj sering kali terlihat sama di permukaan. Rezeki datang, jabatan naik, usaha lancar, nama makin dikenal. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus menggetarkan: apakah itu benar nikmat atau justru istidraj? Dalam tradisi tasawuf, istilah ini bukan sekadar teori, melainkan alarm batin. Sinonimnya jelas: rezeki yang menenangkan atau karunia yang menipu.

Al-Hikam karya Ibnu Athaillah membagi manusia menjadi tiga golongan saat menghadapi nikmat. Pembagian ini terasa sederhana, tetapi dampaknya menentukan arah hidup seseorang.

Gembira Karena Nafsu, Lalu Terjebak

Golongan pertama merasa bahagia karena kelezatan nikmat itu sendiri. Mereka menikmati hasilnya, tetapi melupakan Pemberinya. Fokusnya hanya pada rasa puas, status sosial, dan kenyamanan hidup. Tuhan menjadi latar belakang yang kabur.

Al-Qur’an memberi peringatan keras:

“Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”
(Al-Qur’an, Al-An’am: 44)

Ayat ini bukan ancaman kosong. Dalam konsep tasawuf, kondisi ini disebut istidraj: kenikmatan yang dibiarkan mengalir sampai seseorang makin jauh dari kesadaran ilahiah. Ia merasa aman, padahal sedang digiring perlahan.

Abdul Aziz Al-Mahdawi mengingatkan, siapa yang tidak melihat Sang Pemberi dalam nikmatnya, maka nikmat itu berubah menjadi ujian yang menyakitkan. Rezeki yang tidak menambah kedekatan justru bisa mempercepat kehancuran moral.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di masa silam. Hari ini, seseorang bisa viral, kaya, dan dipuja. Namun jika pusat kegembiraannya hanya pada sorotan dan angka, maka ia sedang menari di tepi jurang yang tak terlihat.

Gembira Karena Karunia Allah

Golongan kedua lebih sadar. Mereka bergembira karena memahami bahwa nikmat itu datang dari Allah. Mereka mengakui sumbernya, bersyukur, dan merasa dicintai oleh-Nya.

Al-Qur’an menegaskan:

“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.”
(Yunus: 58)

Di sini, kegembiraan menjadi ibadah. Syukur mengubah rasa senang menjadi energi spiritual. Orang seperti ini tidak sekadar menikmati hasil, tetapi juga menyadari hubungan vertikalnya.

Namun tasawuf tidak berhenti di sini. Karena masih ada lapisan yang lebih dalam.

Gembira Hanya Karena Allah

Golongan ketiga terasa nyaris mustahil di zaman notifikasi dan validasi sosial. Mereka tidak terpesona oleh bentuk lahir nikmat. Bahkan rasa “aku diberi karunia” pun tidak menjadi pusat perhatian. Mereka sibuk dengan Allah sendiri.

Al-Qur’an menyebutkan:

“Katakanlah: Allah, kemudian biarkan mereka tenggelam dalam kesibukan mereka.”
(Al-An’am: 91)

Ini bukan sikap apatis. Ini puncak kesadaran. Nikmat hanyalah sarana mendekat, bukan tujuan akhir. Rezeki menjadi kendaraan, bukan destinasi.

Abu Hamid al-Ghazali memberi perumpamaan tajam. Seorang raja menghadiahkan kuda. Golongan pertama senang karena kudanya berguna. Golongan kedua senang karena merasa diperhatikan raja. Dan golongan ketiga justru melihat hadiah itu sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan raja.

Perumpamaan ini sederhana, tetapi menghantam ego kita. Kita sering terpesona pada “kuda”-nya, bukan pada Raja.

Nikmat atau Istidraj di Era Modern

Sekarang mari jujur. Ketika karier menanjak, apakah hati bertambah khusyuk atau justru makin sibuk? Ketika usaha sukses, apakah sedekah bertambah atau justru rasa sombong tumbuh diam-diam?

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian khalifah di dalamnya.”
(HR. Muslim)

Dunia memang menarik. Namun justru karena itu ia berbahaya. Istidraj bekerja halus. Ia tidak datang dengan alarm. Ia datang dengan tepuk tangan.

Baca juga: Sunyi di Pusat Kekuasaan: Peran Try Sutrisno Saat Krisis 1998

Karena itu, muhasabah menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Setiap nikmat perlu ditanya: apakah ia mendekatkan atau menjauhkan? Apakah ia menambah syukur atau sekadar menambah gaya hidup?

Satir yang Menyentil Kita Semua

Kita hidup di zaman ketika ukuran keberhasilan sering diukur dari apa yang terlihat. Rumah besar, kendaraan mewah, jumlah pengikut. Padahal dalam neraca langit, indikatornya berbeda.

Ironisnya, kita sering mengira Allah sedang memuliakan kita, padahal bisa jadi Dia sedang memberi waktu sebelum teguran datang. Kita merasa dipilih, padahal mungkin hanya sedang diuji dengan kesenangan.

Nikmat atau istidraj bukan perkara jumlah, melainkan arah hati. Jika nikmat membuat kita makin tunduk, maka ia benar-benar karunia. Namun jika nikmat membuat kita lupa diri, maka ia bisa berubah menjadi jebakan yang elegan.

Akhirnya, persoalannya bukan pada apa yang kita terima. Persoalannya ada pada siapa yang kita lihat ketika menerimanya.

Dan di sanalah, nasib kita ditentukan.

واللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polisi mengamankan sindikat Bea Cukai gadungan Tasikmalaya yang memeras pedagang rokok dengan modus penyergapan dan atribut palsu.

    Pelaku Sindikat Bea Cukai Gadungan Tasikmalaya Dibekuk, Ini Modusnya

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 120
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kasus sindikat Bea Cukai gadungan Tasikmalaya menggemparkan publik setelah Satreskrim Polresta Tasikmalaya berhasil membongkar aksi pemerasan yang menyasar pedagang rokok di Jalan Raya Mangkubumi. Kelompok ini tidak hanya melakukan penipuan, tetapi juga mengatasnamakan aparat resmi dengan modus yang terstruktur dan berlapis. Dalam kasus ini, istilah bea cukai palsu Tasikmalaya dan penyergapan pedagang […]

  • Ilustrasi simbolik tanda orang munafik menurut hadis Nabi Muhammad tentang dusta, ingkar janji, dan khianat.

    Munafik Modern: Rajin Ibadah, Gemar Ingkar Janji

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 216
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Tanda orang munafik bukan isu baru, tetapi perilakunya terasa semakin modern. Ciri kemunafikan, sifat munafik, atau yang dikenal sebagai nifaq amali kini tampil rapi, pandai bicara, bahkan sering tampil religius. Ironisnya, tanda orang munafik kerap muncul bukan di tempat gelap, melainkan di ruang terang: mimbar, rapat, dan layar gawai. Rasulullah ﷺ sejak […]

  • Drainase Kalangsari

    Viman Benahi Drainase Kalangsari Setelah 15 Tahun

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 42
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Drainase Kalangsari akhirnya menjadi prioritas penanganan setelah bertahun-tahun memicu banjir Kalangsari setiap kali hujan deras mengguyur kawasan Jalan Moh. Hatta, Kota Tasikmalaya. Untuk memastikan percepatan penanganan, Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, turun langsung meninjau lokasi. Selain itu, Pemerintah Kota Tasikmalaya memastikan perbaikan drainase Tasikmalaya akan dilakukan melalui sinergi dengan Kementerian Pekerjaan […]

  • Portugal vs Kroasia

    Portugal Singkirkan Kroasia Lewat Gol Dramatis Ramos

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 83
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Portugal vs Kroasia menyuguhkan drama hingga detik terakhir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Portugal memastikan tiket ke perempat final setelah mengalahkan Kroasia 2-1 berkat gol Goncalo Ramos pada menit ke-94. Sebelumnya, Cristiano Ronaldo menyamakan kedudukan melalui eksekusi penalti sehingga kemenangan ini semakin menegaskan mental juang Selecao di fase gugur. Laga […]

  • Ilustrasi pemilik UMKM memimpin tim karyawan dengan suasana kerja yang harmonis dan produktif

    Tips Kelola Karyawan UMKM Tanpa Ribet, Hasil Maksimal

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 156
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kelola karyawan UMKM menjadi tantangan utama bagi banyak pelaku usaha kecil. Tidak sedikit yang mencari cara mengelola karyawan, manajemen tim UMKM, hingga tips mengatur pegawai agar bisnis berjalan lancar. Oleh karena itu, memahami strategi yang tepat akan membantu pemilik usaha membangun tim yang solid, loyal, dan produktif sejak awal. Mengapa Pengelolaan […]

  • Padepokan Maung Hideung

    DPD Padepokan Silat Pusaka Maung Hideung Tasikmalaya Resmi Dilantik

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 168
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Dewan Pengurus Daerah Padepokan Silat Pusaka Maung Hideung Kota Tasikmalaya resmi dilantik oleh DPP Padepokan Silat Pusaka Maung Hideung, Minggu (25/1/2026). Pelantikan ini menandai perluasan jaringan organisasi seni bela diri tersebut di empat kecamatan dan memperkuat perannya dalam pelestarian budaya pencak silat di daerah. Kegiatan berlangsung di Perum Mutiara Citra RW 12, […]

expand_less