Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Istidraj: Saat Nikmat Jadi Jalan Kehancuran

Istidraj: Saat Nikmat Jadi Jalan Kehancuran

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
  • visibility 197
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI Istidraj sering terdengar sebagai istilah agama, tetapi maknanya jarang benar-benar direnungkan. Istidraj, atau nikmat yang menipu, adalah kondisi ketika seseorang terus menerima karunia Allah, sementara ia tetap tenggelam dalam maksiat. Dalam bahasa yang lebih tajam, istidraj adalah hadiah yang tampak indah, tetapi menyimpan jebakan yang halus.

Syekh Ibnu Athaillah dalam Kitab Hikam mengingatkan, “Hendaknya engkau merasa takut jika engkau selalu mendapat karunia Allah, sementara engkau tetap dalam perbuatan maksiat. Jangan sampai karunia itu semata-mata istidraj dari Allah.” Nasihat ini tidak terasa lembut. Sebaliknya, ia menampar kesadaran yang sering tertidur.

Nikmat yang Membuat Lupa

Banyak orang mengira setiap kelapangan rezeki adalah tanda cinta mutlak dari langit. Padahal, Alquran memberi peringatan keras. Allah berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 44:

“Maka ketika mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka, Kami bukakan bagi mereka segala pintu (kesenangan), sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Ayat ini berbicara jelas. Allah membuka pintu kesenangan, bukan karena ridha, melainkan sebagai ujian lanjutan. Namun ironisnya, manusia sering menafsirkan kelapangan sebagai pembenaran.

Lebih jauh, Allah juga berfirman, “Akan Aku biarkan mereka berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44). Kata “berangsur-angsur” itulah inti istidraj. Tidak ada gempa peringatan. Tidak ada kilat yang menyambar tiba-tiba. Semua berjalan halus, bahkan terasa menyenangkan.

Satir Kehidupan Modern: Sukses atau Terperdaya?

Bayangkan seseorang yang usahanya terus naik, jabatannya melesat, hartanya berlipat. Namun, pada saat yang sama, ia makin jarang sujud, makin ringan berbohong, dan makin alergi terhadap nasihat. Ia merasa aman. Ia merasa kebal. Bahkan, ia merasa terpilih.

Di sinilah satir kehidupan modern bekerja. Kita memuja pencapaian tanpa bertanya tentang keberkahan. Kita merayakan angka tanpa memeriksa cara. Lalu kita heran ketika semuanya runtuh dalam satu malam.

Istidraj tidak selalu berbentuk kekayaan. Ia bisa berupa popularitas, kekuasaan, atau bahkan pujian yang terus berdatangan. Ketika semua terasa lancar, sementara hati kian jauh dari istighfar, di situlah alarm seharusnya berbunyi.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba dari dunia apa yang ia sukai, padahal ia terus bermaksiat, maka itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad). Hadis ini tegas. Ia tidak menyisakan ruang untuk rasa nyaman yang berlebihan.

Mengapa Istidraj Berbahaya?

Istidraj berbahaya karena ia tidak terasa sebagai ancaman. Ia datang dengan senyum, bukan dengan amarah. Ia membuai, bukan menakut-nakuti. Karena itu, banyak orang tertidur panjang di atas kasur kenikmatan.

Imam Al-Ghazali pernah menegaskan bahwa nikmat yang menjauhkan dari Allah lebih berbahaya daripada musibah yang mendekatkan kepada-Nya. Qaul ini menembus logika umum. Kita biasanya takut miskin, sakit, atau gagal. Namun jarang sekali kita takut sukses tanpa syukur.

Selain itu, istidraj membuat seseorang lupa bertaubat. Setiap kali berbuat dosa, ia tetap menerima kelapangan. Akibatnya, ia tidak merasa perlu berubah. Padahal, justru di situlah jebakan bekerja.

Baca juga: Nisa dan Realita Kota: Ranking Dua yang Mengemis di Malam Hari

Dalam konteks sosial, fenomena ini juga tampak jelas. Banyak orang memamerkan kemewahan, tetapi mengabaikan nilai kejujuran. Banyak yang mengaku diberkahi, namun enggan berbagi. Seolah-olah kelancaran duniawi sudah cukup menjadi bukti keselamatan.

Muhasabah di Tengah Kelapangan

Karena itu, setiap nikmat seharusnya memicu rasa takut yang sehat. Bukan takut kehilangan harta, melainkan takut kehilangan arah. Jika rezeki bertambah, maka syukur dan istighfar juga harus bertambah. Jika jabatan naik, maka tanggung jawab spiritual pun wajib diperkuat.

Istidraj bukan tuduhan untuk orang lain. Ia adalah cermin untuk diri sendiri. Saat doa terasa jarang, sementara kesenangan terus datang, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak. Saat pujian makin ramai, namun hati makin sepi dari dzikir, mungkin ada yang perlu dibenahi.

Allah tidak pernah zalim. Dia Maha Adil dan Maha Bijaksana. Namun manusia sering salah membaca tanda. Kita mengira semua yang menyenangkan pasti kebaikan mutlak. Padahal, bisa jadi itu ujian tingkat lanjut.

Pada akhirnya, pertanyaan sederhana perlu diajukan: apakah nikmat ini mendekatkan kita kepada Allah, atau justru membuat kita lupa? Jika jawabannya yang kedua, maka waspadalah. Sebab istidraj bekerja dalam diam, dan ia jarang memberi tanda sebelum semuanya terlambat.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Direktur Albadar Institute)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kecelakaan Rancaekek

    Pagi Mencekam di Rancaekek, Pemotor Wanita Tewas Ditabrak Truk

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 170
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kecelakaan Rancaekek kembali menyita perhatian publik. Suasana pagi di Jalan Raya Bandung-Garut, tepatnya di Kampung Nagrak, Desa Nanjung Mekar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, mendadak berubah mencekam setelah seorang pengendara sepeda motor perempuan meninggal dunia akibat kecelakaan yang melibatkan sebuah truk, Senin (20/7/2026). Dalam kecelakaan lalu lintas di Rancaekek tersebut, korban berinisial […]

  • Ilustrasi kaligrafi Lakum Dinukum Waliyadin dengan latar cahaya senja yang melambangkan toleransi dan keteguhan iman.

    Lakum Dinukum Waliyadin: Toleransi Tanpa Kompromi

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Di tengah riuh perdebatan tentang toleransi, kita sering mengutip Lakum Dinukum Waliyadin —atau dalam ejaan Arabnya, لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ— tanpa benar-benar menundukkan ego di hadapannya. Frasa Lakum Dinukum Waliyadin dari QS. Al-Kafirun ayat 6 itu terdengar lembut, namun sesungguhnya tegas. Ia bukan slogan basa-basi, bukan pula jembatan untuk mencampuradukkan akidah. Ia adalah garis batas […]

  • penjualan tahun baru

    Omzet Terompet Tahun Baru Turun

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Penjualan Tahun Baru Turun, Ekonomi Rumah Tangga Tertekan dan Empati Sosial Menguat albadarpost.com, HUMANIORA – Menjelang pergantian Tahun Baru 2026, aktivitas perdagangan terompet dan petasan di Kota Depok, Jawa Barat, mengalami penurunan tajam. Pantauan di Pasar Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, menunjukkan suasana yang jauh lebih lengang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penurunan penjualan ini tidak sekadar […]

  • Ilustrasi spiritual berlomba dalam kebaikan, menggambarkan manusia berbuat amal saleh dengan nuansa sufistik dan cahaya ilahi.

    Seandainya Kebaikan Jadi Arena Perlombaan

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 203
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di tengah riuh dunia yang gemar berlomba dalam angka, kuasa, dan pujian, seruan Fastabiqul Khairat justru terdengar lirih. Padahal, berlomba dalam kebaikan—bersegera dalam amal saleh, mendahului dalam kebajikan, dan berkompetisi dalam ketakwaan—adalah panggilan langit yang tak pernah padam. Fastabiqul Khairat bukan sekadar slogan spiritual, melainkan jalan sunyi para pencari cahaya yang menolak […]

  • Pengaduan Publik

    Pemkab Tasikmalaya Perkuat Sosialisasi Pengaduan Publik

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Pemkab Tasikmalaya memperkuat sosialisasi pengaduan publik sebagai dasar peningkatan layanan dan transparansi. albadarpost.com – LENSA – Kebijakan penguatan sosialisasi pengaduan publik kembali menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Agenda ini ditegaskan saat Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Tasikmalaya, Nana Heryana, membuka kegiatan sosialisasi keterbukaan informasi publik dan pengelolaan pengaduan di ruang operasi Setda, Selasa, 9 […]

  • Kebakaran Pamarican

    Kebakaran Pamarican Hanguskan Limbah Serabut Kelapa

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 80
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Kebakaran Pamarican menghanguskan tumpukan limbah serabut kelapa di Dusun Kertajaga, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Minggu (26/7/2026) malam. Kebakaran lahan di Pamarican tersebut diduga dipicu sisa pembakaran sampah yang belum padam sepenuhnya. Dugaan itu mengemuka berdasarkan keterangan awal dari warga setempat, sementara petugas masih memastikan penyebab pasti insiden tersebut. Kobaran […]

expand_less