Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Data Pengangguran BPS Ungkap Ketimpangan Gender

Data Pengangguran BPS Ungkap Ketimpangan Gender

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
  • visibility 165
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA NASIONALData pengangguran BPS kembali membuka potret yang tidak bisa diabaikan. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pengangguran di Indonesia masih didominasi laki-laki. Fakta ini menegaskan adanya ketimpangan gender yang terus bertahan di pasar kerja nasional.

Per November 2025, jumlah pengangguran nasional mencapai jutaan orang. Dari angka tersebut, proporsi pengangguran laki-laki tercatat lebih tinggi dibanding perempuan. Kondisi ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal struktural tentang arah dan daya serap lapangan kerja di Indonesia.

Pengangguran Laki-Laki Lebih Tinggi dari Perempuan

Berdasarkan data pengangguran BPS, tingkat pengangguran terbuka laki-laki berada di atas perempuan. Tren ini konsisten jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Meski angkatan kerja laki-laki lebih besar, selisih pengangguran menunjukkan adanya tekanan serius di sektor-sektor yang selama ini menyerap tenaga kerja pria.

Baca juga: Puasa: Jalan Sunyi Menuju Takwa

Banyak sektor padat karya seperti konstruksi, manufaktur tertentu, dan transportasi mengalami perlambatan. Sektor-sektor ini umumnya menjadi ruang kerja utama laki-laki. Ketika pertumbuhan melambat, dampaknya langsung terasa pada kelompok tersebut.

Sebaliknya, sebagian perempuan terserap di sektor jasa, perdagangan, dan pekerjaan berbasis layanan. Sektor ini relatif lebih adaptif terhadap perubahan ekonomi. Pola ini menjelaskan mengapa tingkat pengangguran perempuan cenderung lebih stabil.

Struktur Pasar Kerja yang Belum Seimbang

Ketimpangan gender dalam pengangguran tidak bisa dilepaskan dari struktur pasar kerja. Data pengangguran BPS memperlihatkan bahwa penciptaan lapangan kerja belum sepenuhnya sejalan dengan komposisi angkatan kerja.

Selain itu, faktor pendidikan dan keterampilan ikut berperan. Banyak pekerja laki-laki berada di sektor informal dengan tingkat perlindungan rendah. Ketika terjadi guncangan ekonomi, kelompok ini lebih rentan kehilangan pekerjaan.

Di sisi lain, peningkatan partisipasi perempuan dalam pendidikan menengah dan tinggi mulai berdampak pada daya saing mereka di pasar kerja. Perubahan ini berjalan perlahan, namun konsisten.

Dampak Sosial dan Ekonomi yang Perlu Diantisipasi

Ketimpangan pengangguran berbasis gender membawa implikasi luas. Tingginya pengangguran laki-laki berpotensi memicu tekanan ekonomi rumah tangga. Dalam banyak keluarga, laki-laki masih menjadi pencari nafkah utama.

Jika kondisi ini berlanjut, risiko sosial seperti kemiskinan dan kerentanan ekonomi bisa meningkat. Oleh karena itu, membaca data pengangguran BPS tidak cukup sebatas angka. Diperlukan kebijakan yang lebih responsif terhadap dinamika gender di dunia kerja.

Baca juga: Singapura Tancap Gas Menuju Target Wisata 2026

Program pelatihan ulang, peningkatan keterampilan, serta diversifikasi lapangan kerja menjadi langkah penting. Pemerintah dan dunia usaha perlu memastikan bahwa penciptaan kerja mampu menjangkau berbagai kelompok tenaga kerja.

Tantangan Kebijakan Ketenagakerjaan ke Depan

Data ini menjadi tantangan serius bagi perumusan kebijakan. Pendekatan ketenagakerjaan tidak bisa bersifat umum. Setiap kelompok memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda.

Bagi laki-laki, penguatan sektor produktif dan padat karya menjadi kunci. Sementara itu, bagi perempuan, kebijakan inklusif yang mendukung partisipasi dan perlindungan kerja tetap diperlukan.

Data pengangguran BPS seharusnya menjadi dasar perencanaan yang lebih presisi. Tanpa itu, ketimpangan akan terus berulang dalam siklus ekonomi berikutnya.

Ketimpangan pengangguran berdasarkan gender bukan fenomena sesaat. Data BPS menunjukkan pola yang konsisten dan perlu direspons serius. Tanpa perbaikan struktur pasar kerja, ketidakseimbangan ini berpotensi membebani ekonomi dan sosial Indonesia dalam jangka panjang. (GZ)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi kaligrafi Lakum Dinukum Waliyadin dengan latar cahaya senja yang melambangkan toleransi dan keteguhan iman.

    Lakum Dinukum Waliyadin: Toleransi Tanpa Kompromi

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Di tengah riuh perdebatan tentang toleransi, kita sering mengutip Lakum Dinukum Waliyadin —atau dalam ejaan Arabnya, لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ— tanpa benar-benar menundukkan ego di hadapannya. Frasa Lakum Dinukum Waliyadin dari QS. Al-Kafirun ayat 6 itu terdengar lembut, namun sesungguhnya tegas. Ia bukan slogan basa-basi, bukan pula jembatan untuk mencampuradukkan akidah. Ia adalah garis batas […]

  • Kepala BNPB

    Kepala BNPB Kendalikan Penanganan Bencana Sumatera di Tengah Sorotan Publik

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 243
    • 0Komentar

    Profil Kepala BNPB Suharyanto: rekam jejak militer, penanganan bencana Sumatera, dan kebijakan publik. albadarpost.com, PELITA – Rumah-rumah hanyut, jalan tertutup lumpur, dan ribuan warga mengungsi. Di tengah situasi itu, Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto terus muncul di lokasi bencana Sumatera. Pergerakannya menarik perhatian karena publik ingin mengetahui siapa pejabat yang mengambil keputusan operasi penanganan […]

  • kekeringan ciamis

    2.707 Warga Ciamis Terdampak Kekeringan

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 36
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kekeringan Ciamis kembali menjadi perhatian setelah rekapitulasi dampak kekeringan tahun 2024 dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis menunjukkan sedikitnya 1.062 kepala keluarga (KK) atau 2.707 jiwa mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Data tersebut memperlihatkan bahwa krisis air bersih akibat musim kemarau tidak hanya berdampak pada aktivitas sehari-hari warga, tetapi […]

  • reintroduksi banteng jawa

    BBKSDA Jabar Perkuat Reintroduksi Banteng Jawa di Pangandaran

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 116
    • 0Komentar

    BBKSDA Jawa Barat memperkuat reintroduksi banteng jawa di Pangandaran guna menekan ancaman kepunahan. albadarpost.com, HUMANIORA — Program reintroduksi banteng jawa kembali menjadi fokus konservasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi ancaman kepunahan banteng jawa (Bos javanicus) yang statusnya meningkat menjadi “sangat terancam punah”. Intervensi dilakukan di Pusat […]

  • Kebakaran Lahan Garut

    15 Hektare Kebun Sawit Garut Terbakar, Polisi Turun Tangan

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 31
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kebakaran lahan Garut kembali menjadi perhatian di tengah musim kemarau. Sedikitnya 15 hektare kebun kelapa sawit di lahan Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Condong Garut hangus dilalap api di Area Afdeling Gataga Blok Cicalung Datar Kolasi, Kampung Tarisi, Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Kamis (23/7/2026). Hingga kini, aparat kepolisian […]

  • hak melapor korupsi

    Melapor Korupsi, Kerap Terasa Berisiko?

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Mekanisme pelaporan korupsi dijamin undang-undang. Namun, sejauh mana negara memberi rasa aman bagi warga yang melapor? Perspektif Albadarpost mengulasnya. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Di banyak obrolan warung kopi, korupsi sering dibicarakan sebagai sesuatu yang “semua orang tahu” tetapi jarang disentuh. Bukan karena warga tak peduli, melainkan karena ada jarak antara pengetahuan dan keberanian. Di titik inilah […]

expand_less